Pada bulan April tahun 2022, forum tercinta Gambang Syafaat memberikan wadah kepada para jamaah untuk membuat tulisan mengenai pemaknaan puasa dan lebaran melalui feeds di Instagram. Saya pribadi pada awalnya merasa biasa saja melihat postingan tersebut, tetapi seakan-akan mendapat dorongan untuk berpikiran “bisa nggak ya aku menemukan pemaknaan puasa versiku?” Karena hingga saat ini selain menjalankan puasa dan berbagai kesibukan lainnya, saya merasa sangat pesimis untuk dapat menemukan pemaknaan puasa itu sendiri.

Belakangan saya terngiang-ngiang akan pertanyaan “nikmat apa sih yang kita peroleh dari berpuasa?” Hingga beberapa waktu, saya teringat akan Q.S. Ibrahim ayat 7, yang kurang lebih bermakna atau berarti “Barangsiapa yang mensyukuri nikmat-Ku, niscaya akan Ku tambah…” Dari potongan ayat itu saja, terbayang suatu hal di kepala saya. Mungkin kita memang sangat menginginkan nikmat yang kita peroleh dari Allah SWT, tetapi kita sering sulit mencari hal-hal apa saja yang bisa kita syukuri.

Kita sering mengkotak-kotakkan hal yang berupa nikmat atau azab melalui konotasi positif negatif. Seperti halnya, lapar yang menimbulkan efek negatif pada tubuh kita berarti itu bukan nikmat, sama halnya dengan sakit, dagangan sepi, dan seterusnya. Kurang lebih seperti itulah apa yang kita pikirkan ketika sedang merasakan hal-hal yang bagi kita tidak menguntungkan.

Dari sini, saya mulai memahami sepotong demi sepotong mengenai lapar dan dahaga yang kita rasakan pada saat berpuasa. Saya mungkin mulai berani mengatakan bahwa lapar adalah salah satu bentuk nikmat yang diberikan oleh Sang Maha. Ketika kita berpuasa dan kita lapar, kita jelas akan diuji oleh berbagai macam problematika dari setiap aktivitas yang kita jalani. Dan hal tersebut, seketika memberikan saya pemaknaan baru bahwa puasa mungkin adalah metode yang diberikan oleh Sang Pencipta agar kita memperoleh rasa syukur atas apa yang ada di hadapan kita saat kita berbuka. Apapun yang ada di hadapan kita akan terasa sangat nikmat akibat rasa lapar yang kita rasakan sebelumnya. Itulah pemaknaan pertama dari puasa bagi saya sekaligus mengubah pola hati dan pikiran mengenai nikmat lapar yang saya peroleh. Sesederhana itu apa yang ingin Tuhan ajarkan agar kita mampu bersyukur dari rasa lapar. Seteguk air pada saat berbuka saja sudah alhamdulillah, belum lagi nikmat lain yang kita peroleh dari Allah SWT. Sesuai dengan korelasi ayat di atas, kita mungkin akan merasakan nikmat beratus-ratus kali lipat hanya dengan seteguk air ketika berbuka puasa dibandingkan biasanya saat kita tidak berpuasa.

Kemudian, kita terbiasa lapar mata saat berbuka. Kita seakan-akan tidak mengerti batasan ketika berbuka. Ingin ini. Pengen itu. Lihat ini. Lihat itu. Kita seakan-akan kehilangan esensi dari puasa yaitu menahan. Apalagi pada saat buka puasa, kita cenderung melampiaskan atas apa yang sudah kita alami pada saat berpuasa. Menjadi rakus dan kufur nikmat berarti kita belum bisa berdaulat atas diri kita sendiri. Pemaknaan puasa yang menurut saya sederhana selanjutnya adalah menahan. Apapun itu. Emosi, nafsu, egoisme, dan seterusnya bukan hanya lapar dan dahaga saja. Akan tetapi, kita menganggap menahan pada saat puasa ya itu cukup pada saat berpuasa saja, ketika sudah berbuka ya berarti melampiaskan, begitu?

Saya rasa kita dikasih waktu satu bulan oleh Allah yaitu untuk belajar menahan. Kita justru dilatih untuk menahan dan mengetahui kadar cukup yang ada pada diri kita sendiri selama satu bulan tersebut. Hanya dengan menerapkan kata cukup pada diri kita sendiri saya rasa itu sudah menjadi bahan pembelajaran menahan pada saat berpuasa. Artinya kita diminta untuk mempelajari diri sendiri sesuai dengan kadarnya dan porsinya. Kita tentu tahu dan sepakat bahwa apapun yang berlebihan di dunia ini tidak baik. Apapun itu, bukan hanya urusan santapan berbuka saja, sehingga kita tidak terbiasa melampiaskan seperti orang-orang yang ada di sosial media saat ini. Toh Mbah Nun sudah sering memberi tahu bahwa hidup itu harus pinter ngegas dan pinter ngerem. Saya rasa secara substansial hal tersebut menjadi formula yang bisa digunakan agar kita bisa lebih mengerti dan memahami kadar cukup yang ada pada diri kita.

Seperti narasi yang sudah tertera di atas. Pada saat berpuasa saya mendapatkan berbagai pemaknaan untuk terus menggali diri sendiri dan semakin diperlihatkan akan kebesaran-Nya. Setelah pemaknaan akan bersyukur dan cukup, saya rasa kita dapat mencapai keseimbangan dalam hidup. Simpelnya yaitu tetap bersyukur tetapi tidak kufur. Kadar yang kita temukan masing-masing dari kelaparan dan kecukupan akan menciptakan titik keseimbangan yang kita temukan secara berkala. Dari keseimbangan yang kita capai dapat diperoleh kesucian hati, yaitu goals yang menjadi tujuan dari Sang Pencipta agar kita menemukan keseimbangan dari diri kita sehingga kita mengerti kapan saatnya kita butuh dan kapan saatnya kita merasa cukup. Kesucian tersebut menjadi nilai kejujuran bagi kita sendiri dari titik keseimbangan yang kita peroleh saat berpuasa.

Mahasiswa dari Politeknik Industri Furnitur dan Pengolahan Kayu di Kendal. Jamaah Gambang Syafaat