Berbicara tentang kata Pertandingan saja akan memunculkan banyak definisi, penjelasan bahkan cabang-cabang dari pertandingan itu sendiri. Dari Pertandingan Olaraga sampai pertandingan Amarah, dari cabang sepak bola sampai cabang Huru-hara. Apalagi kalau harus kita bahas makna atau definisi dari kata Kalah dan Menang, atau mungkin juga Salah dan Benar, akan berapa paragraf lagi yang harus ditulis. Lima paragraf saja kadang sudah sangat sulit sekali untuk menyempatkan waktu untuk membacanya, apalagi harus seratus paragraf. Dua paragraf saja kadang hanya dibaca judulnya tanpa mengetahui keseluruhan penjelasan di dalamnya. Nah, harus gimana lagi kalau sudah memang dari sananya manusiannya sudah tidak mempunyai gairah untuk membaca, jangankan membaca buku, artikel atau cerpen. Kadang membaca keadaan sekitar pun benar-benar tidak berselera untuk mengetahuinya, Mending membaca masalah sendiri daripada harus sibuk-sibuk membaca perasaan orang lain. yang terpenting dirinya sendiri bahagia, tentrem, terserah situasi diluar seperti apa, yang terpenting sudah berhasil membaca hidupnya sendiri. Budaya membaca memang penting tapi Budaya memahami saya rasa jauh lebih penting sekarang ini.

Ngomong-ngomong mengenai budaya dan pertandingan tentulah kedua hal tersebut tidak dapat terpisahkan, yang namanya pertandingan mulai dari terciptanya bumi pun sudah ada proses bertanding itu sendiri. Begitupun juga dengan budaya. Hal tersebut sudah berlaku sejak lama. Intinya Budaya dan Tanding itu selalu ada dan harus ada dalam proses drama manusia, harus juga terjadi di panggung sandiwara alam semesta. Apalagi kalau sudah harus digabung menjadi istilah Budaya Tanding (Counter Culture), hal tersebut tentunya akan jauh mengajak kita untuk berpikir bahwa akan ada mayoritas golongan di dalam minoritas golongan, akan muncul pula gerakan menanding dari minor ke mayor, atau mungkin bahkan dari mayor ke minor. Gerakan menanding inilah yang kemudian akan selalu menciptakan sebuah target pencapaian, yang secara umum kita tau target pencapaiannya selalu pada kata Kalah Menang dan Salah Benar. Namun, secara sadar atau tidak, target pencapaian itu tak bisa berlaku mutlak sesuai kehendak pelakunya. Lalu jika seperti itu, apa target pencapaian sesungguhnya? Apa yang harus diharapkan dari sebuah pertandingan? Adakah Budaya Tanding selalu berpihak pada golongan Mayor? Bukankah menjadi golongan berbeda atau minor tidak selalu Salah?

Menang memang kerap kali menjadi hal yang didambakan dari setiap manusia yang tengah bertanding dan Kalah adalah hal yang tengah sangat dihindari oleh para petanding. Hal tersebut sangat wajar, kalau orang bilang sangat alamiah sekali. Namun bukankah tanpa ada kata Kalah tidak ada pula istilah Menang. Kata Kalah dan Menang saja bertanding, tapi apakah Kalah menjadi kata yang salah untuk dipakai dalam sebuah pertandingan. Walaupun mayoritas orang memilih menjadi Menang tak juga mempengaruhi posisi kata Kalah untuk hilang dan tetap saja tersemat pada golongan yang sedang menerima kekalahannya. Begitu juga dengan penggunaan kata Kalah Menang yang seringkali digunakan pada ajang pertandingan olaraga. Tinju, sepak bola, bulu tangkis, ice skating, sampai pada pertandingan Kalah Menang yang terjadi di meja hijau misalnya. Bagaimana mana tidak, apa yang terjadi kan memang salah satu bentuk pertandingan. Menentukan siapa yang menang dan kalah, tanpa mutlak menjadi penentu siapa yang benar dan salah. Inilah drama hidup akan banyak berjuta-juta aspek yang perlu dilihat, ditimbang, dicermati yang kemudian menyadarkan kita bahwa Kalah Menang itu hal yang lumrah, akan terlihat lucu, serta menggembirakan apabila kita sudah tau dan sadar akan kunci hakikat drama yang sedang diperankan sesungguhnya. Kalau kata orang jawa “Dalang ora turu, ikhtiar apikmu ora bakal ngubah keputusane gusti, tetep madep manteb ora usah sepaneng, kabeh ono ilmune yen kowe gelem nyadari”. Tiada sia-sia yg dicipta tuhan, Tiada dirugikan apa yang tengah terjadi jika disadari. Semua membawa manfaatnya sendiri meski banyak orang membenci dengan hasil yang mereka anggap Tuhan sedang berpihak pada satu sisi.

Hak Tuhan menentukan siapa yang Salah dan Benar dalam sebuah pertandingan, tidak peduli dengan urusan Minor dan Mayor. Mereka memiliki kesempatan yang sama untuk Salah ataupun Benar. Namun sekali lagi Salah Benarnya hanya Tuhan yang berhak memutuskan dan hanya dia yang mengetahui. Berbeda lagi jika kita sangkut pautkan Salah Benar ini pada perspektif yang dibuat oleh beberapa manusia, berdasar pada sebuah tuntunan yang mereka pegang dan imani. Misal saja Kebenaran yang lahir karena kesepakatan banyak orang, walaupun Ada beberapa yang pastinya akan menganggap bahwa Kebenaran itu kurang benar atau bahkan Salah. Hal tersebut sekali lagi wajar. Bahkan kadang setiap yang berbeda paham dalam pertandingan akan memiliki dan cenderung bertahan pada statement masing-masing yang mereka anggap itu yang paling benar. Hal tersebut juga berlaku pada golongan minor yang banyak di anggap kurang benar atau Salah. Yah, pertandingan jenis ini bisa terjadi sebagai bentuk pertandingan beda cara pandang pada sesuatu hal misalnya. Di Indonesia Mayoritas penduduknya adalah Muslim, beberapa ulama dan kyai menganggap bahwa dalam pengajian atau diskusi itu antara laki-laki dan perempuan itu harus di pisah, kalau tidak itu adalah sebuah bentuk kesalahan atau tindakan kurang bener. Begitupun pada kasus-kasus lainnya. Selalu ada sisi balik yang menjadi lawan, entah itu sebagai bentuk Mayor atau Minor. Pastinya adalah dimana kita hidup, bagaimana budaya dan tradisi yang sudah berlaku, disitu pula diri memang mematuhi nilai-nilai yang sudah berlaku. Berlakunya nilai-nilai tersebut tentunya terdapat penjelasan-penjelasan yang mampu dan menjadi acuan yang mendasari, kenapa nilai-nilai tersebut bisa berlaku. Dilain sisi tentunya akan secara otomatis ada golongan minor yang berbeda paham terhadap hal tersebut dan tentulah mereka juga memiliki alasannya sendiri dan acuannya pula. Maka dari itu jika mampu dipahami kembali, kadang sisi Minor tidak harus menjadi golongan yang terkucilkan, terdiskriminasi, bahkan tak Memiliki ruang. Semua itu akan memiliki konsekuensi Salah Benar, hanya saja yang harus ditekankan adalah acuan yang dibuatnya. Apakah acuan itu sudah sesuai dengan mau tuhan, orang banyak atau hanya pribadi saja? Atau bahkan sudah mencakup keseluruhan? dan apakah acuan tersebut memiliki arah dan tujuan yang jelas kedepannya dan dalam jangka panjang? Apakah acuan tersebut memiliki dampak baik atau hanya kesenangan saja? Nah, hal tersebutlah yang kadang bisa membawa kekuatan minor berubah seketika menjadi mayor. Tidak akan Ada yang pernah tau apa hasil akhir dari pertandingan, hanya saja kita tau apa tujuan yang sedang kita pertahankan. Tak seorangpun berhak menghakimi kekuatan manapun, karna bisa saja semua terjadi seketika sesuai kehendak tuhan.

Layaknya pertandingan tinju, semua petinju berhak memiliki strategi latihannya masing-masing dan mungkin juga strategi menyerangnya. Semua petinju juga pasti akan berlatih sekuat tenaga untuk sebuah pertandingan. Mulai dari cara Bagaimana memberikan pukulan Cross yang dahsyat sampai pukulan swing, Long Hook yang tak dapat diduga oleh lawan. Semua berhak menyiapkan serta mempersembahkan yang terbaik untuk sebuah pertandingan. Khususnya pelatih, dia wajib memberikan arahan dan latihan jasmani yang benar bagi atletnya, hingga pada akhirnya mungkin saja kemenangan akan berpihak padanya. Namun bagaimana kalau kemenangan itu seketika tak sesuai dengan usaha keras dan harapan yang besar, apa diri akan menyalahkan atlet, pelatih atau bahkan keadaan? Memaki serta mungkin akan marah kepada tuhan? Disinilah satu tugas pelatih yang mungkin banyak sekali kadang terlalai, ya, tugas untuk bukan saja hanya rutin melatih jasmani para atlet saja melainkan latihan Rohani dari sang atlet juga sangat perlu untuk dimaksimalkan secara rutin pula. Hingga pada akhir pertandingan siapapun yang menang dan siapapun yang benar, Salah satu sisi petanding akan menyadari bahwa target pencapaian akhir sebuah pertandingan bukanlah kalah menang dan benar salah. Namun target sesungguhnya adalah perjalanan panjang untuk menuju sebuah pertandingan itu sendiri, ikhtiar yang sangat keras, niat dan tekad yang bulat, pengorbanan itulah akhir dari pencapaian yang harus dibanggakan, disadari bahkan disyukuri. Jika sudah seperti itu Kalah Menang, Benar Salah tak akan menjadi sebuah bentuk kekecewaan melainkan bentuk kekuatan untuk terus maju demi sebuah nama yang disebut keindahan yang berbalut kebaikan. Begitupun Manusia jika yang menjadi targetnya hanya soal nama Surga dan Neraka bagaimana dia bisa menikmati hidup dengan bahagia karena sejujurnya apabila target itu seketika Allah akan ubah hasil akhirnya, apa diri manusia tidak akan merasa kecewa dengan tuhannya. Sementara Allah sendiri memiliki hak prerogratif yang tidak bisa diubah oleh siapapun dan terserah Allah akan bertindak apa. Maka dari itu cukuplah pertandingan ini menjadikan manusia untuk selalu berprasangka baik pada apapun yang terjadi pada perjalanan panjang ini, karena bisa saja Allah berlaku sebagaimana hambanya berprasangka terhadapNya. Tak perduli termasuk dalam kekuatan Mayor atau Minor dirimu, selama Budaya Tanding yang kau jalani ini memiliki dampak yang baik secara keseluruhan dan tak menyalahi aturan Tuhan mengapa harus kau risau tentang hasil pencapaian.

Sarjana Sastra, lahir dan tinggal di Pasuruan jawa Timur.