“Posthuman” dalam istilah yang digunakan oleh penulis merupakan gambaran sebuah situasi dimana terjadinya pergeseran kedaulatan eksistensi manusia (humanisme) sebagai pengelola jagat dunia mulai terkikis dengan kecanggihan robot teknologi. Situasi tersebut dapat ditandai dengan gaya hidup manusia yang menjadikan teknologi bukan hanya alat sederhana untuk memudahkan pekerjaan manusia, namun lebih jauh teknologi telah meregenerasi peran manusia yang terbatas dengan cyborg yang tidak kenal rasa lelah.

Fenomena tersebut sangatlah masif dewasa ini, bagaiamana teknologi menggantikan suasana ruang kelas atau majelis ilmu dimasa pandemi, bagaimana teknologi di proyeksikan menjadi wahana bisnis yang menjajikan walau sambil tiduran di rumah, bahkan lebih jauh manusia menciptakan dunianya yang baru dalam basis virtual yang termuat dalam konsep metaverse. Dalam kecanggihan yang tidak terbendung tersebut, sebenarnya manusia sedang diajak berlari malampaui batas terliarnya.

Kenyataan tersebut, menggambarkan teknologi dewasa ini selayaknya pisau yang sangat tajam. Ketika platform teknologi dipergunakan dengan sebaiknya, maka produk-produk yang di hasilkan merupakan maslahat bagi banyak orang, sebagaimana kita melihat banyak pengajian maupun konten majelis ilmu yang beralih kepada ruang digital. Disisi lain, ketika teknologi diorientasikan dengan seliar mungkin, maka alhasil mewujudkan prilaku yang a-moral, sebagaimana sedang marak penipuan berbasis investasi trading maupun di wujudkan sebagai sarana memperoleh pemuas nafsu birahi.

Oleh karena itu, wujud orientasi yang mengakibatkan tindakan a-moral tersebutlah yang hendak penulis kaitkan dengan nilai yang terkandung dalam puasa, sebagai salah satu bentuk refleksi dan penanggulangan. Sebagaimana kita tahu, Tuhan dalam menciptakan syaria’at selalu dapat ditinjau dalam dua aspek, yakni : vertikal dan sosial. Keseimbangan itu dapat dilihat dalam al-Qur’an dimana perintah mendirikan sholat selalu beriringan dengan perintah mengeluarkan zakat. Hal tersebut juga berlaku pada perintah puasa, dimana sebagai fungsi meredam nafsu hayawan, juga kesadaran akan solidaritas sosial.

Dalam ranah individu, puasa adalah sarana yang tepat untuk melakukan tazkiyatu nafs. Sebagaimana kita menyadari berbagai macam platform teknologi yang memuat banyak hal keduniawian sering menstimulus manusia untuk menuruti hawa nafsunya. Seiring dengan hal itu, ketika manusia tidak mampu berada starta tersebut, maka akan menimbulkan gangguan psikologi jiwa, kecemasan, depresi, dan kesalah pahaman. Oleh karena itu, dengan batasan yang dilalui ketika berpuasa, manusia perlahan-lahan untuk menge-rem kebiasaan buruk tersebut dan menggerakkan jiwa raganya dalam tindakan instrumental ke-ilahian.

Penjelasan setema juga disampaikan oleh Gus Ulil Abshar Abdalah yang dilansir dalam NU Online. Bahwa keadaan perut kosong yang dirasakan oleh orang berpuasa itu memperbaiki kualitas rohani serta pikiran untuk lebih berkonsentrasi dalam memahami getaran Tuhan melalui ilmu dan amal. Maka, dalam era posthuman, nilai puasa menjadi penting dalam pengkondisian diri dalam psikologi dan pikiran untuk memilih tindakan dan paradigma yang tidak keluar dalam batasan syari’at dan norma yang berlaku.

Dalam ranah sosial, ibadah puasa merupakan sarana revitalisasi solidaritas sosial. Dimana kita mengetahui bahwa kemanjaan paltform teknologi juga menggerus manusia sebagai makhluk sosial, bahkan tidak jarang sebagai wadah caci-maki dan saling fitnah. Oleh karena itu, dalam momen puasa selalu kita disatukan dalam tradisi-tradisi yang membangun kembali kesadaran sosial, seperti : sholat terawih berjama’ah, rutinan majelis ilmu, bakti sosial, serta puncaknya yakni saling memaafkan.

Tentunya kesadaran sosial tersebut sebenarnya menjadi rambu-rambu juga atas tindakan kriminal dan apapun yang bersifat a-moral. Sebagaimana contoh suatu konten IG @jaringangusdurian yang sangat menarik. Konten tersebut membahas pemahaman masyarakat perihal sistem buka warung selama ramadhan. Bagi warung yang buka dan menutup tirai, berarti sedang mempertimbangkan orang yang berkebutuhan dan diperbolehkan tidak berpuasa, seperti : Musafir, Ibu hamil / menyusui dan orang sakit. Sedangkan yang menggeser jadwal buka, berarti memilih waktu yang efektif konsumen. Sedangkan yang memilih menutup sebulan penuh, berati sedang memaksimalkan beribadah dibulan ramadhan. Clear!

Kesadaran-kesadaran akan nilai puasa tersebut mengilhami pribadi yang mempunyai kualiatas rohani dan pemikiran yang luwes, sehingga mengimplikasikan tindakan yang bijaksana. Begitu pun dengan dalam era posthuman, manusi dituntut untuk bijaksana dalam kemajuan, menciptakan teknologi yang maslahat dan tidak merusak moral maupun merugikan orang lain.

Jamaah Maiyah asal Lamongan