Buntuh yang saya temui ketika saya mencoba mencari jalan keluar yang mana lagi yang harus diambil untuk mencicil hutang emak saya yang terlampau tidak main-main nominal nya. Uang siapa lagi yang saya harus ambil untuk membayar? Emas yang mana lagi yang saya harus rampas dari orang di pasar? Toko sembako mana yang saya mau jarah kembali? dan barang apa lagi yang bisa saya jual untuk melunasi hutang Emak? Kekuasaan pun saya tak punya, Tahta pun saya hanya rakyat jelata, bahkan pendidikan SD pun hanya sekedar angan dan cita-cita semata, lalu mana bisa ku rampas uang para rakyat budiman jika begitu ceritanya. Nihil. Itu jalan keluar yang saya temui kala itu. Keadaan Emak saya juga tak kunjung membaik saat itu. Dia mengeluhkan kesakitan yang amat di bagian payudaranya, ketika saya bawa ke puskesmas dokter disana menyarankan saya untuk membawa ke rumah sakit karena peralatan disana sangat terbatas. Setelah kemudian dokter menyarankan emak harus dioperasi dan biayanya sangat mahal, disitulah saya mulai berpikir untuk meminjam uang kepada Pak Budiman, dimana setiap satu jutanya bernilai bunga 100.000, tak bisa ditawar memang tapi tidak ada jalan keluar lain kecuali itu.

Sekarang usia saya 19 tahun, empat tahun sudah berlalu tapi utang emak saya masih belum lunas. Emak juga alhamdulillah sehat sekarang. Tapi semenjak saya tidur di lapas ini terpaksa emak pada akhirnya mengetahui apa yang sudah saya lakukan untuk mendapatkan uang biaya operasinya, dia juga mengetahui ternyata kepada Pak Budiman saya meminjam uangnya dan bukan kepada kepala proyek tempat saya menjadi kuli bangunan. Kini emak mencoba mencari uang untuk melunasi hutang itu dengan berdagang lontong di pasar seperti biasa, namun kali ini emak juga menjadi buruh cuci di rumah beberapa orang yang bisa di bilang berkecukupan di kampung. Dari situlah emak mencoba mencicil hutang-hutangnya pada Pak Budiman, walaupun tidak banyak yang penting rutin tiap bulannya. Kejadian ini memang sempat membuat emak saya syok dan menangis histeris ketika saya sempat di massa karena ketahuan akan mencuri dan menarik kalung milik pengunjung pasar. Emak memang tidak pernah menyangka bahwa saya Ahmad Hidayatullah secara sadar melakukan perbuatan kriminal tersebut, bahkan para tetangga pun juga tak pernah menyangkanya.

Di lain sisi yang bahkan mungkin banyak orang tidak tahu, saya Dayat sama sekali tidak berniat untuk menyakiti hati siapapun orang yang pernah saya jarah barang hak milik mereka, sebelum melancarkan aksi saya, saya selalu melihat target yang saya akan ambil barangnya, saya tidak akan pernah merampas itu dari target yang memang mungkin kondisinya seperti saya, saya juga manusia, saya juga mengerti bagaimana rasanya harus kehilangan barang berharga. Maka dari itu saya sama sekali tidak akan pernah mengulangi aksi kriminal saya kepada orang yang sama, saya juga melancarkan aksi saya sendiri, tak ada senjata pula, karena motif saya hanya ingin mencuri barang agar setelah itu saya bisa membayar hutang emak saya, sudah tak ada pikiran lain di otak saya. Saya selalu dihinggapi rasa bersalah setiap kali saya menjadi orang jahat, tapi saya harus bagaimana? Saya yang saat itu baru saja diberhentikan dari pekerjaan sebagai kuli proyek karena memang tenaga saya sudah tidak dibutuhkan lagi sedangkan saya harus menghadapi situasi seperti itu, apa lagi jalan keluarnya? Bahkan saya tidak memiliki bapak atau sanak saudara yang mampu mendengarkan keluh kesah saya. Saya hidup hanya bersama emak sejak kecil. Tanpa Ada sosok bapak bahkan saudara.

Hidup kami amatlah sangat sederhana di tengah kota besar yang sangat ramai akan penduduk yang hidupnya pas-pasan. Menurut cerita emak dia adalah korban dari iming-iming hidup enak di tengah kota besar. Hingga pada akhirnya dia dan bapak berakhir lontang-lantung sampai tak jelas mau bagaimana lagi dia bertahan hidup. Hingga Saya lahir dan bapak mengalami kecelakaan di jalan saat dia sedang menjadi tukang rongsok. Hidup saya memang terkesan sangat suram sejak saya lahir. Namun emak saya adalah orang yang super hebat dalam mendidik saya menjadi anak yang baik, hingga pada akhirnya saya sendirilah yang menghancurkan didikan itu. Menjerit hati saya saat itu, menangis Saya saat itu, ku cium kaki emak saya dengan penuh penyesalan, sakit hati saya saat itu, ketika Saya benar-benar berhasil mematahkan kepercayaan emak Saya sendiri.

Emak yang selalu berpesan kepada Saya “Le, sekeras apapun hidup kita, semenderita apa pun kita, jangan pernah kamu menjadi sebab dari orang-orang merasakan hal yang sama seperti ini, tak apa kita hidup hanya cukup buat makan dan bayar kontrakan, tapi jangan sampai kamu mendapatkan uang dari tangisan orang ya le. Emak hanya punya kamu, emak tau emak tak mampu membawamu kepada pendidikan yang layak, tapi emak juga tidak mau melepaskan tanggung jawab emak sebagai seorang ibu yang bertanggung jawab mendidikmu juga nak”.

Berkat didikan inilah saya Dayat mampu bertahan selama 15 tahun memegang kepercayaan yang emak telah beri, sebelum pada akhirnya saya melakukan hal yang mungkin tak pernah diterima oleh akal sehat emak saya bahkan para tetangga yang mengenal saya.

Kini saya telah membayar apa yang sudah saya perbuat empat tahun lalu, saya melepaskan tanggung jawab saya kepada emak, memastikan kesehatannya, memastikannya tidak banyak bekerja keras, serta memberikan upah yang saya dapat dari bekerja. Sedih setiap kali dalam sebulan emak selalu masih menyempatkan dirinya untuk mengunjungiku, membawakan saya sebungkus nasi, kadang sebungkus dawet atau kresek kecil gorengan. Tak lupa dia selipkan doa dan harapannya ketika saya mulai mencium tangan emak sebagai tanda selesai waktu jenguk.

“Emak harap setelah anak emak keluar dari sini dia akan menjadi anak emak yang selalu emak kenal. Sudah le, separah apapun kondisi kita yakin Allah tidak akan membiarkan hambanya sendiri. Allah lebih tau apa jalan keluar terbaik bagi hambanya, yang penting kita tetap berikhtiar semampu kita, kalau perlu kita menangis dan menjerit dikala sujud.”

Kasih sayang emak memang tak pernah berubah tetap sama walaupun anaknya sudah secara jelas menyakiti hatinya, menghancurkan didikan nya. Seminggu ke depan ini adalah hari dimana saya bisa lepas dari lapas, menghirup lagi udara kehidupan yang sangat semrawut di kota besar penuh kebebasan. Kebebasan ini akan menjadi saksi bagi hidup saya bahwa saya Ahmad Hidayatullah tidak akan kembali membuat sejarah mendekam dibalik jeruji lapas ini, melainkan akan saya ukir sejarah baru di sekitar halaman penjara ini sebagai tukang kebun yang dipercaya oleh para staf kepolisian bahwa saya mampu menjadi seorang Ahmad Hidayatullah yang diimpikan oleh emaknya. Ya… Empat tahun ini memang empat tahun penuh arti bagi saya di dalam lapas, bukan hanya penyesalan yang saya dapatkan tapi rasa Syukur saya pada Tuhan bahwa saya menjadi salah satu orang yang bisa belajar dari peristiwa ini, lapas ini berhasil mencuci mental saya, memperbaiki onderdil otak saya, bahkan memberikan banyak ilmu kehidupan yang belum saya ketahui sebelumnya. Hingga Tuhan menurunkan keajaibannya, entah apa yang sudah saya lakukan di dalam, hingga membuat semua staff kepolisian ini percaya kepada diri saya.

***

Ahmad Hidayatullah, berhasil keluar dari peristiwa mlungsungi yang dialaminya selama empat tahun, sebagai bentuk penebusan dosa atas apa yang dia lakukan sebelumnya. Mlungsungi memang sebuah kata yang tak dapat mudah dicerna oleh kebanyakan orang, begitu pula proses mlungsungi itu sendiri, dia membutuhkan kerja keras, berpayah-payah, bersakit-sakit dalam puasa terhadap sesuatu hal yang lampau yang butuh ditanggalkan untuk menjadi sesuatu yang lebih berkilau di kehidupan berikutnya. Begitu juga mlungsungi pada hewan itu sendiri, ular misalnya, proses mlungsungi pada ular juga tidak berlangsung semudah yang dibayangkan, dia membutuhkan lingkungan, situasi yang tepat untuk berganti kulit, bahkan ular juga butuh proses puasa sementara waktu untuk melepaskan kulitnya secara normal. Lingkungan sangat berpengaruh dalam keberhasilan proses mlungsungi.

Pergantian kulit pada ular memang sangat umum kita ketahui, tetapi tahukah kamu bahwa ulat juga memiliki proses mlungsungi dalam hidupnya. Dimana dia yang awalnya seekor ulat yang rakus kemudian setelah keberhasilan dalam proses mlungsungi nya dia berhasil menjadi seekor kupu-kupu yang cantik. Bahkan karakter kerakusannya saat menjadi ulat berubah drastis disaat dia menjadi kupu-kupu. Kualitas hidupnya jauh lebih berharga. Sedangkan lain lagi dengan ular, dari proses mlungsungi ular kita dapat melihat bahwa wajah ular sebelum dan sesudah mlungsungi tetap sama. Nama nya pun juga tetap ular. Makanan ular sebelum dan sesudah mlungsungi juga tetap sama, cara bergeraknya tetap sama. Tabiat dan sifat juga tetap sama. Jadi kini saya serahkan semua keputusan pada manusia, mau proses mlungsungi yang mana yang dia akan pilih di dunia.

Akan banyak suguhan macam mlungsungi yang ditawarkan, akan banyak kemungkinan juga yang dihasilkan, tapi minimal manusia tahu bahwa dia bukan ular dan ulat yang tidak mampu menentukan bahkan memilih proses mlungsunginya. Manusia punya pilihan mau ke arah mana mlungsungi yang ia butuhkan? Bergerak mempercantik atau sekedar mengikuti siklus yang ada? Lalu kini pilihlah manusia nya Tuhan! Mlungsungi yang bagaimana yang kamu harapkan.

Sarjana Sastra, lahir dan tinggal di Pasuruan jawa Timur.