Pada dasarnya dorongan dari dalam diri manusia untuk memiliki dan memperoleh kesenangan duniawi menjadi fitrah manusia, karena Tuhan menciptakan nafsu yang melekat dalam diri manusia. Kemerdekaan dan kedaulatan diberikan Tuhan kepada manusia untuk mengatur secara optimal bagaimana nafsu tersebut bekerja. Dalam diri manusia memiliki dimensi ruh dan dimensi jasad yang didalamnya ada nafsu, manusia harus mengoptimalkan keduanya agar mencapai kestabilan jiwa. Berbicara mengenai potensi dasar manusia, Sigmun Freud dalam teori psikoanalisisnya menyebutkan manusia itu terlahir atas dasar id, ego, dan super ego. Id merupakan suatu dorongan alamiah dari dalam diri tanpa mempedulikan nilai dan norma, seperti kebutuhan dasar manusia yakni makan, minum, tidur, berhubungan seks. Ego merupakan cara memperoleh keinginan dari id namun dengan cara yang dapat diterima logika dan sosial. sedangkan, super ego adalah aspek moral yang lahir dari kepribadian individu yang memperhatikan nilai dan norma yang berlaku.

Puasa merupakan suatu aktivitas ibadah yang berarti menahan diri dari suatu yang dilarang seperti makan, minum, dan segala yang dilarang oleh syariat. Makna puasa sendiri jika dicari korelasi dengan teori sigmun freud bahwa manuisa terdir dari id, ego, dan super ego. Maka puasa adalah proses latihan dalam mengendalikan id (nafsu dasar manusia) agar berubah menjadi super ego dalam konteks ini adalah syariat agama. Proses latihan melawan nafsu makan pada saat sebelum berbuka biasanya kebanyakan orang menginginkan semua jenis makanan, namun setelah berbuka cukup hanya dengan makanan yang cukup bagi perutnya dan membiarkan berbagai jenis makanan yang sudah dibeli. Dari kasus tersebut, kita harus memiliki kedewasaan hati dan pikiran agar dapat mengatur nafsu dan tidak mendewakannya. Melalui puasa memberikan ibrah agar manusia dapat menundukan segala bentuk nafsu atau id yang melekat dalam jasadnya, sehingga berjalan menjauhi kemewahan yang melalaikan dan mendekat pada kesederhanaan dan rasa syukur kepada Tuhan.

Selain puasa memberikan pelajaran agar menahan id agar menjadi super ego, puasa memberikan manusia pelajaran agar selalu tumbuh rasa empati terhadap sesama manusia, karena dengan merasakan lapar dan haus maka kita ikut serta apa yang dirasakan saudara kita sesama manusia. Hal ini menunjukan bahwa puasa merupakan suatu ibadah sosial karena di dalamnya terdapat makna-makna yang mendalam mengenai empati kepada sesama. Maka puasa bisa didefinisikan sebagai cara untuk mempuk Uhwah Insaniyah agar menghasilkan kehidupan yang harmonis sesama manusia. Oleh karena itu, puasa merupakan ibadah yang mengharmonisasikan hablum min annas yang merupakan suatu pilar dalam beragama.

Tuhan memerintahkan manusia untuk berpuasa, ya ayyuhal ladzhi na’amanu kutiba ‘alaikumus syiam kama kutiba ‘alaladzina minqoblikum la’allakum tattakuun. Tuhan sangat mesra memanggil manusia dengan “ayyuhal ladzi na’amanu” kemesraan tersebut adalah manifestasi cinta Tuhan kepada hamba. Pada intinya Tuhan menyerukan puasa kepada para hamba-Nya agar memupuk rasa ketakwaan kepada Tuhan. Keistimewaan puasa dijelaskan dalam hadis Qudsi inna souma lii wa ana ajrii bihi, bahwa Tuhan lah yang memberikan secara langsung pahala puasa. Selain bentuk rasa sayang kepada hamba-Nya, puasa juga merupakan hubungan yang intim antara hamba dengan Tuhannya, karena ibadah puasa tidak tampak mata, dan yang tahu hanya seorang hamba dengan Tuhan. Dengan keintiman tersebut, puasa menjadi ibadah yang memupuk rasa cinta hamba kepada Tuhan, dengan rasa cinta yang suci kepada Tuhan maka akan membawa hamba kepada derajat ketakwaan yang tinggi. Oleh karena itu, puasa selain memberikan harmonisasi dari hablum min annas, puasa juga memberikan harmonisasi dalam hablum min Allah yang merupakan satu kesatuan seorang manusia dalam beragama.

Setelah sebulan puasa, kita sering mendengar tentang hari kemenangan yang identik dengan lebaran idul fitri. Kebanyakan orang menyebut hari lebaran sebagai hari kemenangan karena telah menangnya umat manusia mengalahkan nafsu atau id selama sebulan penuh dengan penuh rasa senang dan gembira. Gembiranyapun terbagi antara gembira karena bangga sudah mengalahkan hawa nafsu dan gembira karena dengan adanya lebaran maka boleh untuk makan dan minum di siang hari. Lebaran identik dengan kegembiraan dan selalu dirayakan dengan penuh kemeriahan, baju serba baru, digantinya cat-cat rumah, barang-barang baru, makanan-makanan lezat, dan berbagai bentuk kegembiraan yang lain. Namun, kita perlu sadar bahwa lebaran yang katanya hari kemenangan yang dimanifestasikan oleh berbagai bentuk kemewahan duniawi, semua itu hanya sementara dan tidak menggambarkan makna dari lebaran itu sendiri.

Seharusnya, manusia sadar bahwa puasa bukan semata-mata sebagai ajang perang saja dan lebaran bukan hari kemenangan saja. Tetapi, puasa merupakan alternatif yang di tawarkan Tuhan untuk menuju manusia yang takwa dan menjadikan ke-istiqomahan bahwa setiap bulan adalah bulan puasa yang senantiasa berorientasi pada ketakwaan. Serta ke-istiqomahan setiap hari adalah hari kemenangan, kemenangan dari nafsu dan segala bentuk yang melalaikan kepada Tuhan dan kemenangan yang paling tinggi adalah tetap belajar dan merasa kurang atas kemenangan-kemangan sebelumnya. Sehingga, kualitas ruh dan jasad manusia semakin baik dengan pengelolaan hati senantiasa belajar dari setiap hari kemenangan yang berorientasi ketaqwaan kepada Tuhan.

Muhammad Nabhan Fajruddin, merupakan mahasiswa UIN Walisongo Semarang yang juga aktif dalam mengikuti Maiyah Gambang Syafaat Semarang sejak 2019. Penulis lahir di Pekalongan, 6 Novermber 2000, yang memiliki motto ”Man Jadda wa Jada.” Penulis juga aktif dalam menuulis berbagai isyu sosial dan keagamaan di www.kompasiana.com/nabhanfjr sudah ada 13 tulisan yang ditulis dan 6.260 pembaca dalam media tersebut. Penulis juga baru saja menyelesaikan S.1 PAI dengan menulis skripsi berjudul “Pendidikan Akhlak Menghargai Perbedaan Melalui Learaning Community di Maiyah Gambang Syafaat Semarang”