Wahai jiwa yang kemprungsung yang selalu resah dan gundah disetiap hembusan nafas. Rasa khawatir yang menjadi penyebab rasa gundah gulana senada dengan permasalahan yang silih berganti datang menerpa jiwa yang rapuh. Hidup adalah suatu misteri yang penuh teka-teki masalah yang kerap kali memberikan kejutan-kejutan. Teka-teki yang sering kali membuat manusia merasa sedih dan kecewa menjadi suatu hukum alam bahwa hidup adalah tentang mengurai benang permasalahan. Kemprungsung sejatinya idiom jawa yang berarti suatu keadaan frustasi karena beban pikiran yang terlalu menumpuk. Kemprungsung biasanya dialami oleh mereka yang sudah baligh atau sudah bisa menggunakan logika secara matang. Logika yang seperti pedang bermata dua, terkadang berguna untuk mengurai permasalah, tapi kerap kali malah menjadi sumber kemprungsung.

Sejatinya, kemprungsung yang dialami usia remaja hingga orang tua karena persepsi terhadap suatu masalah yang ditanggapi dengan terlalu serius. Persoalan remaja hingga dewasa awal misalnya, mereka dihadapkan dengan masalah asmara, keluarga, pertemanan, perkuliahan, masa depan yang abu-abu yang menjadi faktor kemprungsung. Cinta yang selalu bertepuk sebelah tangan atau belum menemukan tambatan hati mungkin menjadi hal yang kerap kali dialami oleh remaja menjelang dewasa dibanding masalah-masalah lain. Tercermin dari trend lagu-lagu yang digandrungi usia quarter life tentang patah hati dan berbagai permasalahan cinta. Tak bisa dipungkiri, cinta dan mencintai menjadi kebutuhan bagi manusia karena dengan cinta hidup akan lebih berwarna dan bermakna. Namun, terkadang cinta menjadi ruang keterbelengguan yang membatasi hati dan pikiran manusia dalam berekspresi sehingga menimbulkan rasa kemprungsung. Tetapi, para jomblo yang tidak punya tambatan hatipun kemprungsung dengan segala kesepian yang berdialektika dengan ekspektasi pikiran ingin mencintai dan dicintai.

Selain masalah cinta, kaum remaja menjelang dewasa dihadapkan dengan realitas kehidupan yang kompleks. Masalah kekhawatiran tentang masa depan atau yang dikenal dengan over thinking yang membuat jiwa kemprungsung. Over thingking tentang jurusan yang tidak disukai, jurusan yang tidak memiliki prospek kerja yang bagus, jurusan yang memiliki tingkat kesulitan tinggi, dan lain sebagainya menjadi hantu yang menghantui para mahasiswa. Belum lagi, masalah pergaulan dan trend dikalangan remaja, terkadang branded atau tidaknya pakaian dan barang yang digunakan menjadi faktor dalam bersosialisasi. Stigma yang terjadi adalah semakin branded pakaian dan barang yang dikenakan akan lebih dihargai dalam suatu circle pertemanan. Sehingga, muncul fenomena lebih besar pasak daripada tiang, banyak dari mereka yang rela berhutang demi membeli pakaian dan barang baranded hanya karena ingin dihargai. Keadaan demikian, adalah embrio-embrio dari jiwa kemprungsung yang dialami oleh manusia remaja. Padahal dalam prinsip pengaturan pengeluaran terdapat asas efektifitas, fungsionalitas dan efisiensi yang dapat membantu memilah mana kebutuhan dan keinginan.

Dalam hadis Nabi SAW yang pada intinya adalah hidup merupakan perjalanan seorang manusia dalam menghadapi berbagai permasalahan demi permasalahan yang menghadang, dan pada titik akhirnya adalah pertemuan hamba dengan Tuhan atau kematian. Firman Allah SWT, wamal hayata addunya illa la’ibun wa lahwun, dan tidaklah kehidupan di dunia adalah selain permainan dan senda gurau. Hidup laiknya gim yang memiliki level-level, untuk naik level maka akan dihadapkan suatu permasalahan. Sesungguhnya, hidup adalah tentang mengurai benang permasalahan yang menjadi penyebab kemprungsung. Namun, sejatinya dari permasalahan-permasalahan yang terjadi merupakan pembelajaran bagi manusia dalam perjalanan hidup. Hidup adalah keberlangsungan proses belajar dari potensi kemprungsung yang senantiasa mengancam jiwa.

Jiwa kemprungsung lahir karena tidak diterapkannya manajeman hati dan manajemen masalah ketika menghadapi permasalahan. Manajemen hati bagi jiwa-jiwa kemprungsung adalah mecoba meluaskan hati dalam menerima realita yang terjadi. Manajemen hati merupakan rasa yang dikelola sedemikian rupa oleh hati sehingga menangkal rasa kemprungsung dan mencapai qolbun salim. Melalui dzikir dan doa kepada muqolib al qulub yang senantiasa diamalkan maka atas izin Allah SWT hati menjadi lebih baik dan menjadi manusia qanaah atas masalah yang ada. Sementara, manajemen masalah adalah pengelolaan terhadap suatu persoalan yang menitikbertkan pada akal atau logika sehingga dapat ditemukan solusi dari suatu permasalahan. Dalam beberapa firman Allah SWT, afala ta’kilun, afala tatafakaru, afala tadabarun, yang menyerukan manusia untuk menggunakan pikiran dalam menghadapi realitas yang ada.

Pada intinya permasalahan adalah proses belajar dalam perjanan hidup manusia. Jiwa kemprungsung tidak akan terjadi ketika manusia memiliki ketenangan hati atau qolbun salim. Ketenanagan hati ini tercipta karena sinergitas antara manajemen hati dan manajemen masalah yang berdialektika berkerja mengurai benang permasalahan. Dengan sinergitas antara hati sebagai software yang mengelola rasa dalam jiwa dan pikiran sebagai hardware yang diejawantahkan kedalam perbuatan secara baik dalam menghadapi masalah maka akan terhindar dari potensi jiwa kemprungsung.

Muhammad Nabhan Fajruddin, merupakan mahasiswa UIN Walisongo Semarang yang juga aktif dalam mengikuti Maiyah Gambang Syafaat Semarang sejak 2019. Penulis lahir di Pekalongan, 6 Novermber 2000, yang memiliki motto ”Man Jadda wa Jada.” Penulis juga aktif dalam menuulis berbagai isyu sosial dan keagamaan di www.kompasiana.com/nabhanfjr sudah ada 13 tulisan yang ditulis dan 6.260 pembaca dalam media tersebut. Penulis juga baru saja menyelesaikan S.1 PAI dengan menulis skripsi berjudul “Pendidikan Akhlak Menghargai Perbedaan Melalui Learaning Community di Maiyah Gambang Syafaat Semarang”