Komunitas Gambang Syafaat beberapa waktu yang lalu kembali memberikan wadah kepada para jamaah untuk dapat menyampaikan pemaknaannya mengenai tema yang diusung yaitu Budaya Tanding. Saya pribadi masih sangat awam dalam memaknai budaya tanding itu dari berbagai sisi pandang yang ada. Jadi, saya mungkin akan mendalami sedikit demi sedikit mengenai budaya tanding menurut berbagai aspek yang ada.

Dalam bahasa Jawa sendiri, kata “tanding’ memiliki makna “lawan tetimbangan; babag” jika dikutip dari berbagai sumber. Dari makna kata tersebut saya masih belum paham makna dari tanding itu sendiri. Jika saya mencoba mengelaborasi makna dari lawan tetimbang, makna yang saya tangkap adalah “lawan yang setara/setingkat/sebanding”. Kemudian untuk babag sendiri dalam berbagai sumber memiliki makna ‘sebanding; seumur”. Jadi jika mungkin mencoba untuk dielaborasi, kata tanding memiliki makna yaitu “kemampuan yang sebanding/setingkat”.

Dari pemaknaan kata tanding di atas, kesimpulan saya mungkin kata tanding dalam bahasa Jawa menjadi akar dalam beberapa kata dalam bahasa Indonesia, sebagai contoh, kata “pertandingan”. Dalam pertandingan juga tim yang sedang bertanding akan saling berhadapan satu sama lain. Hal ini juga membuat saya melakukan pemaknaan lebih dalam bahwa secara tidak sadar, tim yang sedang bertanding pasti akan saling berhadapan muka atau yang berlawanan arah. Tim yang sudah siap bertanding harus mampu memastikan seberapa kemampuan mereka sehingga mereka layak untuk bertanding pada pertandingan tersebut.

Saya akan ambil mungkin dari segi pandang berhadapan dalam pertandingan. Pada pertandingan tertentu kita akan menghadapi lawan yang ada di depan kita secara penuh. Menurut saya, ada mentalitas ksatria yang diajarkan dalam pertandingan yang diselenggarakan, seperti bagaimana kita berusaha sekuat tenaga untuk menunjukkan kemampuan terbaik kita dan tidak bersembunyi ketika menghadapi lawan yang sudah dekat dengan kita.

Membicarakan soal pertandingan maka yang familiar ada di benak saya yaitu permainan. Hal ini mengingatkan saya akan ayat Allah SWT pada Q.S. Al-An’am ayat 32 yang kurang lebih memiliki makna “Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau”. Jadi Allah SWT sendiri sudah memberikan gambaran kepada para kawula-Nya bahwa dalam mendalami dunia, kita seakan-akan seperti sedang dalam permainan.

Dalam kehidupan kita dalam aspek apapun, banyak sekali manusia yang sering mendewakan permainan itu. Padahal sekali lagi dunia hanyalah sebagai arena permainan. Banyaknya mafia politik yang tidak bertanding secara fair, hilangnya mentalitas ksatria yang berani menghadapi lawannya menggunakan skill maupun pikiran murni dari kita, dan juga banyak kecurangan-kecurangan lain yang terjadi.

Dari penjabaran hal di atas terdapat ekosistem dari Budaya Tanding yang rusak. Manusia sudah tidak lagi bertanding menggunakan kemampuannya yang sudah dianugerahkan oleh Allah SWT. Banyak sekali manusia yang lebih berorientasi pada hasil yang dia inginkan dengan menggunakan berbagai macam cara yang kotor. Maka jangan heran apabila banyak sekali anak muda jaman sekarang yang karakternya mulai memudar dan hilang, bahkan seakan tidak memiliki karakter yang semestinya. Karena dapat disaksikan sendiri, tidak ada jiwa-jiwa ksatria yang ditunjukkan oleh berbagai elemen penting yang ada di masyarakat. Lingkungan yang ada pun menciptakan Budaya Tanding yang kurang baik dalam kehidupan.

Kembali lagi ke ayat Allah tadi mengenai kehidupan hanyalah sebatas permainan dan senda gurau. Dari makna ayat di atas terdapat pertanyaan yang mungkin terbesit di pikiran saya. Kurang lebih pertanyaannya seperti ini, jika hidup hanya sebatas permainan dan senda gurau, maka apa gunanya kita hidup dengan serius dan tekun di dunia ini? Toh semuanya hanya sebatas permainan, bukan?
Bagi saya pribadi munculnya pemikiran seperti itu merupakan suatu bentuk kesucian manusia akibat penalaran logika yang kurang pengetahuan lebih lanjut. Akan tetapi, saya akan membawa hal tersebut menuju perspektif yang berbeda. Jika kita ibaratkan sedang ada dalam permainan, anggaplah permainan sepak bola. Maka kita diharuskan untuk bermain secara serius, dan memberikan apa yang terbaik yang kita miliki. Jika tidak maka pelatih, penonton, bahkan elemen lain akan menyerang kita akibat kita yang melakukan permainan secara tidak serius. Maka sudah seharusnya kita menampilkan yang sesungguhnya dalam permainan tersebut. Bisa dibilang bahwa Allah SWT sendiri, telah memberikan dan mengajarkan Budaya Tanding kepada seluruh manusia dalam menjalani kehidupan di dunia.

Setelah pemaknaan di atas, timbul pertanyaan lain lagi, “Kalau kaya gitu, wajar dong ketika pemain sepak bola marah jika hasil yang didapatkan tidak sesuai dengan apa yang diinginkan?” Secara naluri manusia, bisa dikatakan wajar. Bahkan, dari opini saya itu merupakan bentuk karakter manusia dari Budaya Tanding yang sehat. Akan tetapi, budaya tersebut bisa seketika rusak kekesalan yang diungkapkan pemain merupakan hal-hal yang sifatnya merugikan banyak pihak atau bahkan destruktif. Apalagi sampai menggunakan cara-cara yang kotor dengan harapan mencari jalan pintas dengan hasil yang jelas.

Dari beberapa pemaknaan saya di atas terlihat bahwa Allah SWT mengajarkan bagaimana cara kita dalam memandang kehidupan di dunia termasuk secara tidak langsung dapat membangun Budaya Tanding yang sebagaimana mestinya. Karena jika melakukan semuanya dengan berorientasi pada hasil akan memicu perbuatan curang dan tidak semestinya. Dan kita secara tidak langsung sudah menghina Tuhan, bahwa seakan-akan Tuhan tidak menjamin hasil dari setiap usaha kita.

Mahasiswa dari Politeknik Industri Furnitur dan Pengolahan Kayu di Kendal. Jamaah Gambang Syafaat