Gambang Syafaat 25 Mei 2021

Setiap orang memiliki motif untuk melakukan sesuatu. Landasan ini digunakan untuk semakin mengukuhkan seseorang ketika akan bertindak. Tanpa alasan yang jelas, seringkali seseorang menjadi ragu di tengah jalan. Lalu, seberapa penting niat itu? Mungkinkah seseorang melakukan sebuah tindakan tanpa dilatarbelakangi apapun?

Forum Silaturahmi Maiyah Gambang Syafaat edisi 25 Mei 2021 mengusung tema, ‘Demi Apa’. Tema yang mungkin cukup mewakili sebagian besar jamaah maiyah. Demi apa melakukan ini? Demi apa mengerjakan itu? Kang Hajir mencoba membongkar isi mukadimah untuk mengawali pertemuan. Demi apa merupakan transformasi perubahan kata dari niat. Sebagian besar atau bahkan semuanya, selalu memiliki niat sebelum melakukan amalan. Niat yang disadari maupun tidak.

Dalam islam sendiri, niat menjadi akar atas tindakan yang dilakukan seseorang. Menariknya, Allah memberikan point tambahan untuk niat baik. Jika seorang muslim berniat melakukan amal baik, dia sudah mendapatkan ganjaran. Maka setelah amal baiknya dikerjakan, dia akan mendapat tambahan lagi. Berbeda dengan amalan buruk. Sebesar apapun niatnya ingin melakukan keburukan, seandainya tidak jadi dieksekusi maka dia aman di hadapan Tuhan.
Mas Kelana, seorang seniman sastra ikut menemani jamaah malam itu.

Gambang Syafaat 25 Mei 2021

Ada sebuah cerita menarik tentang sudut pandang. Awal kedatangan beliau, Pak Hartono sudah ‘memesan’ agar Mas Kelana berkenan membawakan satu buah puisi religius. Mas Kelana menganggap bahwa semua puisi bersifat religius. Bahkan puisi yang terlihat sangat tidak religius di mata seseorang, bisa menjadi sangat religius di mata orang lain. Semua bergantung sudut pandang dan kedalaman pengamat. Hal ini berlaku untuk banyak hal, bukan hanya sebatas puisi semata.

Mengenai tema, Mas Kelana berpikir sebaliknya. Sadar atau tidak, ‘demi apa’ sebenarnya hanya akan menjajah seseorang dalam berkelakuan. “Menurutku, ketika sesuatu digerakkan demi apa itu menjadi sangat mekanis,” ungkap beliau.

Dalam berdoa, orang – orang biasanya memiliki ‘demi apa’ untuk menguatkan keyakinannya dalam berdoa. Niat ini diharapkan akan membuat seseorang bersungguh-sungguh. Sementara ada orang yang tidak menungu terkumpulnya niat hanya sekadar untuk berdoa. Dia tulus untuk berdoa. Jika terus dikembangkan, lama-lama seseorang akan mendikotomiskan berdoa. Membedakan seseorang religius atau tidaknya hanya dari niat berdoa. Mereka yang memiliki niat kuat dan jelas dalam berdoa akan dinilai lebih religius.

Gambang Syafaat 25 Mei 2021

Mas Kelana menganggap bahwa hidup sebaiknya mengalir saja bukan demi apa-apa. Setiap tindakan yang dilakukan manusia, sudah otomatis berasal dari ‘sana’. Bahkan ungkapan ‘demi Tuhan’ dinilai Mas Kelana sudah sangat material. Ada orang yang setiap melakukan apapun selalu menggunakan ungkapan ‘demi Tuhan’. Menurut beliau, tanpa demi apa-apa, manusia akan lebih merdeka. Melakukan apapun tidak lagi demi pancasila, komunisme atau label lain. Berjalan dengan kejujuran dan ketelanjangan diri di hadapan Tuhan.

Pak Hartono kembali menyampaikan jika gambang syafaat bisa menjadi multi-forum. Selain menjadi tempat bertukar pengalaman pembelajaran, juga mampu menjadi wadah paseduluran. Beliau menambahkan tentang pengalamannya bertemu dengan seorang sahabat sekaligus porfesor. Profesor tersebut pernah berdiskusi dengan seorang psikolog, ternyata sangat mudah menjawab kegelisahan. Kegelisahan bisa dijawab dengan cara menanam. Psikolog ini meyakini bahwa apapun yang ditanam, di situ akan mendapatkan proses pengendapan-pengendapan. Di rumah prikolog ini kemudian ditanam banyak tanaman sehingga akhirnya menemukan jawaban atas kegelisahannya.

Kebersamaan jamaah ditemani kehadiran Mas Wakijo dan para penggiat yang semakin mengahangatkan suasana. Dalam kesempatan itu, Mas Kelana membawakan dua buah puisi berjudul, ‘Antara Wizh dan Paragon’ dan ‘Aku Merindukanmu, O Muhammadku’ karya Gus Mus.

Pakdhe Tur salah satu jamaah yang hadir ikut memberikan pendapatnya. Semua elemen yang berlangsung dalam kehidupan yang ada dunia ini, dilatarbelakangi oleh Allah SWT. Sehingga ada ungkapan ‘ semua untuk Allah, karena Allah dan kepada Allah’. Tidak akan tercipta sesuatu apapun kalau bukan karena kehendak Allah. Hanya Dia yang memiliki kuasa menentukan segalanya. Kemuliaan dan kehinaan manusia berada di tangan Allah. Apakah orang nasrani masuk neraka? Apakah orang yahudi masuk neraka? Apakah orang islam pasti masuk surga? Tidak ada yang bisa memutuskan selain Allah sendiri. Pak Tur kembali menekankan, ketika manusia melakukan sesuatu, harus tetap memiliki pedoman dasar yaitu Allah dan Rasul.

Gambang Syafaat 25 Mei 2021

Kalau ditinjau dari segi bahasa, tema ‘demi apa’ mengarah kepada satu pertanyaan yang berbeda dengan ‘demi siapa’. Kita mencoba memproyeksikan bahwa Tuhan telah menunjukkan realitas-realitasnya. Gus Aniq menjelaskan tentang sifat Allah yang didapat dari penggalian orang Jawa, ‘tan kena kinaya sapa, tan kena kinaya apa, tan kena kinaya ngapa’, merujuk kepada Allah yang juga ingin dikenal. Jika kalimat tersebut semakin digali secara segi materiil, maka tidak akan pernah ketemu.

Pikiran manusia tidak akan menjangkau Allah secara dzat, misalnya Allah seperti apa wujudnya, di mana keberadannya, maka tidak akan pernah ada ujungnya. Manusia hanya bisa menangkap memanifestasi – manifestasi dari Allah. Semua ciptaan Allah dihadirkan atas dasar cinta. Hal ini juga diturunkan kepada para nabi pembawa agama Allah. Pembahasan ‘demi apa’ bisa melebar ke banyak segi kehidupan. Niat semua orang berbeda-beda. Masing-masing punya prinsip kepercayaan sendiri-sendiri.

Pertemuan malam itu ditutup dengan do’a bersama. Mengirimkan doa untuk Mbah Nun, para guru maiyah dan termasuk keluarga jamaah maiyah.