Waspada adalah sikap kehati-hatian atas sebuah ancaman. Ancaman bisa datang dari luar dan bisa juga datang karena kelalaian mengelola diri. Banyak bentuk kewaspadaan, salah satunya adalah puasa. Puasa adalah salah satu bentuk kewaspadaan agar kita terhindar dari bahaya dengan cara kita menyeleksi apa-apa yang masuk dalam diri kita.

Diri manusia itu terdiri atas tubuh dan jiwa. Melalui indera kita itu pula sesuatu yang dari luar masuk ke dalam diri kita. Dari mulut masuk berbagai jenis makanan dan minuman dari bermacam sumber. Ada yang dari sumber hewani dan ada pula dari sumber nabati. Dari perolehannya ada yang didapat dengan cara halal dan ada pula yang diperoleh dengan cari srampangan. Dari makanan itu kemudian menjadi bagian tubuh kita. Namun, tubuh tidak terlepas dari hati karena darah mengalir ke hati. Maka makanan yang baik yang diperoleh dengan cara yang baik pula akan berimbas ada hati yang baik. Sebaliknya makanan yang buruk apalagi diperoleh dengan cara yang buruk pula maka akan berimbas pada hati yang buruk pula.

Mulut ini sangat unik, ia dimasuki makanan dan minuman namun dia mengeluarkan suara, ia mengeluarkan bahasa, ia menjadi wakil dari tubuh dan hati untuk menyatakan siapa diri sesungguhnya. Mulut adalah ujung tombak, maka ada ungkapan mulutmu adalah harimaumu. Mulut bisa membahayakan kita jika kita tidak berhati-hati menggunakannya. Setiap yang keluar dari mulut adalah cerminan dari otak dan juga hati kita. Dari mulut itu kita bisa mendapatkan penghargaan maupun penghinaan. Mungkin saja yang masuk dalam mulut juga berefek pada apa yang keluar dari mulut juga.

Namun yang mempengaruhi hati dan otak kita tidak hanya yang masuk dari mulut saja, hal lain yang patut kita sadari adalah mata dan telinga. Sekarang ini adalah eranya dimanjakannya mata dan telinga. Melalui media sosial setiap hari kita disuguhi berbagai macam tontonan yang baik dan yang buruk. Atau ada tontonan-tontonan tertentu yang memang didesain untuk menjerumuskan kita.

Kehati-hatikan dan kewaspadaan atas hal-hal yang masuk dari mata dan telinga kita patut kita lakukan karena dari sana maka hati dan pengetahuan kita akan terbentuk secara cepat dan langsung. Mungkinkah mata dan telinga dipuasakan dari hal-hal buruk? Memang ajaran puasa adalah juga memuasakan mata dan telinga namun dalam praktiknya puasa dua lubang ini teramat sulit. Pada umumnya yang bisa kita lakukan adalah puasa mulut dari masuknya makanan dan minuman, tetapi kita tidak pernah mengistirahatkan mulut dari berkata kasar dan menyakiti, telinga dan mata dari melihat dan mendengar hal-hal yang tidak diridloi Allah.

Menjaga penglihatan dan pendengaran adalah upaya menjaga hati sehingga nantinya ketika kita mengeluarkan sesuatu yang keluar adalah kebaikan yang manfaat bagi sesama. Kecuali diri kita sudah memiliki mekanisme imunitas sehingga apa saja yang masuk ke dalam diri kita mampu kita olah dan yang keluar menjadi kebaikan belaka.

Gambang Syafaat pada edisi 25 Februari 2020 ini, akan mempelajari pentingnya Waspada Mata dan Telinga, karena yang masuk dalam tubuh bisa manjadi jalan tembus cahaya illahiyah menuju hati kita atau justru sebaliknya. Sampai bertemu nanti malam.