Banyak pintu seseorang ikut melingkar atau tergabung dalam jamaah Maiyah, ada yang karena sosok Mbah Nun itu sendiri, senang shalawatan terutama lewat lagu-lagu yang dibawakan Kiai Kanjeng dan lewat buku-buku karangan Simbah. Sebagai seorang jamaah dan penggiat Maiyah, saya memasuki pintu ketiga tadi. Meski jika di tanya, banyak buku Mbah Nun yang tidak terlalu saya pahami. Namun, membaca tulisan-tulisan Mbah Nun sudah menjadi keharusan bagi saya untuk selalu terus sinau dan mengambil pelajaran dari setiap apa yang Simbah tulis.

Lebih dari sepuluh buku karangan Mbah Nun yang saya miliki, dari esai-esai yang Mbah Nun tulis itu saya sedikit demi sedikit belajar bagaimana memandang dan bersikap dalam bermasyarakat dan bernegara. Selain dari buku, artikel dan rutinan Maiyah yang saya hadiri menjadikan tambahan wawasang pengetahuan dan jalan menjalin silaturahmi dengan jamaah yang lain. Tandas membaca buku “Begini Begitu Emha”, saya terinspirasi untuk mulai mengoleksi majalah-maajalah lama yang banyak memuat tulisan Mbah Nun serta buku-buku tentang Mbah Nun atau Maiyah namun ditulis oleh orang lain.

Jadi begini. Saya memiliki metode jika ingin memahami jalan fikiran seorang tokoh adalah dengan cara membaca tulisan tentang tokoh tersebut namun ditulis oleh orang lain. Bagi orang lain hal ini mungkin sepele, jujur metode ini baru saya temukan tiga tahun lalu atas keresahan saya yang lelet dalam memahami benang merah dari buku yang saya baca, khsusnya buku yang banyak membahas teori dan gagasan seorang tokoh.

Metode tersebut sangat berguna saat saya ingin memahami buku Madilog karya Datuk Tan Malaka. Buku yang lingkungan pergaulan saya bilang sebagai buku wajib yang harus di baca anak tingkat satu. Sebelum membeli Madilog, saya cari pelbagai artikel di google penulis-penulis yang mengomentari tentang buku Madilog. Setelah dapat buku apa saja yang direkomendasikan, tidak ada cara lain selain harus ke toko buku langganan.

Begitulah ceritanya jika saya ingin memahami jalan pemikiran seorang tokoh, hal ini banyak saya praktekkan ke banyak buku. Sadar kemampuan membaca dan memahami saya lemah, mungkin cara saya ini sedikit membantu ke teman-teman. He he.

Kembali ke buku yang saya bahas, Buku “Begini-Begitu Emha-Cerita Kecil dari (Surat) Pembaca” ini disusun khusus sebagai hadiah ulang tahun ke-67 Mbah Nun oleh penggiat Maiyah Gambang Syafaat.

Buku ini saya beli hasil dari Pre Order penerbit Buku Beruang. Buku setebal 122 halaman ini seminggu lalu saya cek sudah habis terjual, mungkin karena pihak penerbit tidak mencetaknya terlalu banyak. Bagi yang belum berkesempatan memiliki buku ini, teman-teman dapat membacanya secara gratis di laman simpul Maiyah Gambang Syafaat Semarang – ya karena tulisan pada buku ini bersumber pada laman tersebut medio Ramadhan tahun 2019.

Tulisan-tulisan pada buku ini bersumber dari para penggiat Gambang Syafaat Semarang, di mana salah satunya adalah Kang Muhammad Yunan Setiawan, senior saya di Jepara. Saya pertama kali bersua dengan beliau saat menghadiri rutinan simpul Maiyah Majlis Alternatif Jepara. Jika Kang Yunan membaca tulisan ini, mungkin beliau akan bertanya-tanya siapa saya, hehe. Tapi karena beliau bukan orang sembarangan, terlebih foto dan tulisan-tulisannya yang sering beredar di Caknun(dot)com, tak heran jika saya dan mungkin jamaah Maiyah lainnya dengan mudah mengenal beliau.

Buku ini berisi lima belas tulisan, terbagi menjadi tiga tema besar: Surat Pembaca, Peristiwa & Puisi. Sebagai orang yang tak pandai menulis seperti saya, buku “Begini Begitu Emha” adalah oase menyegakarkan bagi saya untuk menyelam lebih dalam ke fikiran-fikiran si Mbah, selain itu saya belajar betul bagaimana orang-orang kok ya pandai sekali dalam menulis, jujur saya sangat iri pada beliau-beliau. Saya tidak menilai mana yang paling bagus dari kelima belas tulisan pada buku ini, jujur semuanya bagus dan mencerahkan khasanah pengetahuan saya tentang Mbah Nun. Tapi jika boleh menilai mana dari tulisan ini yang sangat mengena, saya akan memilih: Ingat, Bukan Emha yang Hebat! (Hal 15), Kebudayaan Mencatat dan Membaca (65), Cak Nun di Antara Penerbit dan Royalti (71), Berpuisi di Diskotek (83), dan Repotnya Bersikap Sebentar-sebentar Anti (113). Sekali lagi, jika teman-teman penasaran degan judul yang saya maksut, silahkan akses laman Gambang Syafaat langsung, Gasss, Lur.

Yang menarik dari buku ini adalah bagaimana para penulis mengumpulkan majalah dan koran lawas hasil dari membeli dan meminjam. Hal tersebut demi megumpulkan cerita-cerita tentng Mbah Nun pada masa lalu. Majalah Panji Masyarakat, Tempo, HumOr dan Horison koleksi dari para penulis menjadi bahan utama menjumpai berita lawas seputar Mbah Nun. Seperti melacak sejarah, kita akan berjumpa kapan panggilan Emha dan Cak Nun akrab di telingan kita.