Kolom di koran atau majalah sering menjadi pembuktian seseorang untuk menjadi penulis. Penaklukan kolom-kolom itu kerap membuat calon penulis berusaha keras agar tulisannya bisa tampil di kolom tersebut. Dengan tampilnya tulisan di kolom media massa, seseorang seperti merasakan sudah sah menjadi penulis. Pada waktu itu media massa seperti koran atau majalah menjadi saluran tunggal menerbitkan karya, sehingga tidak sembarang orang bisa melihat tulisannya dimuat. Maka dari itu redaktur media massa melakukan seleksi tulisan secara ketat untuk memastikab sebuah tulisan yang dimuat pasti bagus.

Pada masa itu, penulis melakukan berbagai cara agar tulisannya dimuat redaktur. Selain menyuguhkan tulisan terbaiknya, penulis juga kudu cermat dengan hal-hal teknis lain seperti memberi pengantar tulisan. Hal ini, konon, penting terutama bagi penulis-penulis anyaran. Karena hal itu akan memudahkan redaktur dalam melakukan seleksi tulisan. Pada era tulisan masih dikirim kantor pos, di mana tulisan diketik dengan mesin ketik dan dibungkus dengan amplop, penulis perlu menuliskan secara rinci alamat tujuan, nama redaktur, dan pengantar tulisan.

Kerapian dalam mengirim tulisan bisa menyenangkan hati redaktur. Sehingga ketika redaktur mengetahui tulisan itu dibungkus secara rapi dan dilengkapi pengantar tulisan yang bagus, redaktur akan mesem menerima tulisan tersebut.

Majalah Horison edisi Juli 1973, menyinggung hal tersebut. Redaktur memuji cara Ragil Pragola Suwarna dalam mengirim tulisan. Menurut redaktur,” ada beberapa hal unik dengan surat2 Suwarna yang dikirim ke redaksi. Alamat pada sampul selalu ditulis dengan tinta cina dengan rapih sekali, dan selalu menyebut redaksi dengan kata “kamas”, sebuah kata Jawa yang sopan yang artinya kakak.”

Dari secarik informasi ini, kita bisa belajar dari Ragil Suwarna dalam perkara mengirim tulisan. Tentu dalam pelatihan penulisan, hal demikian kerap luput. Kita kerap sibuk belajar penulisan tetapi melewatkan hal teknis yang sebetulnya lumayan penting. Apalagi zaman sekarang, tulisan dikirim melalui email, tak lagi dibungkus di amplop dan dikirim melalui kantor pos, sehingga lebih memudahkan penulis dalam mendistribusikan tulisan.

Namun sayang sekali, kemudahan itu kerap melupakan calon penulis untuk memberikan keterangan identitas penulis dan pengantar penulis. Seolah dia menganggap redaktur sudah kenal dengan (karya) si penulis, sehingga si penulis merasa cukup mengirim file tulisan yang berisi judul tulisan dan isi tulisan. Padahal si redaktur baru pertama kali itu jumpa dengan tulisan si calon penulis tersebut.

Memang pada zaman sekarang, di mana perkembangan teknologi telah mengubah cara kita mengirim tulisan, kita mesti ingat sebuah adab memperkenalkan diri kepada redaktur. Bukan karena redaktur ingin dihormati, melainkan itu bisa memudahkan kerja redaktur dalam menyeleksi tulisan. Hal demikian tentu saja pernah disampaikan teman penulis Anda atau orang yang mengisi pelatihan penulisan, tetapi dari Ragil Suwarna kita memetik pelajaran berharga perihal pengiriman tulisan.

Ragil, penulis yang berproses di Persada Studi Klub (PSK), itu juga ternyata teliti pada hal-hal kecil dalam pengiriman tulisan. Sehingga redaktur Horison pun dibuat mesem dengan caranya mengirim tulisan.

Purwokerto, Sabtu, 4 April 2020