Ada tiga orang yang sedang mencari Pak Lurah. Anggap saja begitu. Ketiga orang tersebut berbeda-beda caranya dalam menemui Pak Lurah.

Orang pertama menemukan Pak Lurah dengan media peta. Dia mendapatkan peta rumah Pak Lurah, dan di sanalah Pak Lurah berhasil ditemui. Peta nya cukup lengkap, dengan petunjuk yang jelas. Orang pertama ini tidak begitu bersusah payah menemui Pak Lurah.

Orang kedua berhasil menemui Pak Lurah dengan sedikit proses. Dia mencari Pak Lurah melalui informasi dari orang yang katanya sudah pernah menemui Pak Lurah. Pertama, dia diminta menemui Pak RT, lalu Pak RT memberitahukan bahwa Pak Lurah dapat ditemui di Balai RW setiap malam Rabu. Nah, balai RW sendiri yang tahu adalah Pak RW. Setelah menemui Pak RT, orang kedua menemui Pak RW, setelah itu barulah berhasil menemui Pak Lurah, tepat sebagaimana kata Pak Lurah, di Balai RW malam Rabu.

Orang ketiga, ceritanya lebih panjang. Dia tidak punya akses ke Pak RT atau pun Pak RW, dia juga sama sekali tidak punya peta, bahkan mungkin tidak paham baca peta. Tapi niatnya menemui Pak Lurah memang bulat. Dia melakukan pencarian dengan metode tanya sana, tanya sini. Dalam proses itu malahan pernah dikerjain, ketemu Lurah Palsu. Juga pernah tersesat, tapi karena tidak berhenti mencari dan mencari, setelah melalui peristiwa-peristiwa, akhirnya berhasil juga orang ketiga ini menemui Pak Lurah.

Saat ketiganya bertemu Pak Lurah, masing-masing diminta bercerita. Orang pertama, tentu saja tidak begitu antusias, karena relatif lancar dan tidak mengalami peristiwa dramatis. Peta membuat pencariannya mudah dan simple. Orang kedua, lebih merasakan perjalanannya, sebab melalui beberapa langkah, tahapan menemui orang-orang yang tersambung ke Pak Lurah menjadi cerita tersendiri. Ada cerita lain, selain cerita utama, misalnya sosok Pak RT dan Pak RW.

Orang ketiga, yang tidak punya peta dan tidak kenal dengan Pak RT dan Pak RW, cerita lebih lama, dia bercerita dengan sangat menjiwai. Bagaimana dia tersesat, dan tidak putus asa. Saat ketemu Lurah yang ternyata bukan Lurah asli. Berbagai pengalaman diceritakan dengan antusias dan sepenuh rasa.

Pak Lurah, yang ternyata bernama Sanad tersenyum mendengarkan cerita ketiga orang yang menemuinya. Kemudian dia berkata: “Sanad itu ada tiga, pertama sanad literasi. Kedua sanad guru, dan yang ketiga sanad pengalaman. Anda semua contoh dari masing-masing jenis sanad itu”.

“Semua boleh minum kopi suguhan saya.” Lanjut Pak Lurah.