Membaca beragam narasi Emha Ainun Nadjib tidak ada bosannya. Meskipun narasi itu sudah dibaca di waktu yang lalu. Hal ini dikarenakan membaca teks tidak terlepas dari konteks. Tentunya konteks kemarin sangat berbeda dengan konteks sekarang. Bukan hanya itu, narasi dari karya-karya Emha sangat beragam, mulai dari masalah bangsa, kekuasaan, politik, agama, sufistik, budaya, keadilan, kemiskinan, masyarakat, dan lain sebagainya. Dengan bahasa yang lugas terkadang berisi humor, Emha menuangkan gagasan, nasehat, dan kritiknya. Tulisan Emha kerap bermunculan, dalam momentum tertentu, Emha kerap menuangkan tulisannya dengan tema khusus. Baru-baru ini banyak tulisan terkait Covid-19. Dari beragam tulisan Emha, terdapat tipologi narasi yang berbeda. Namun pada tulisan ini hanya menyebutkan tiga narasi yang menurut penulis bermuatan sufistik-religiusitas.

Pertama, narasi berjudul Kebijaksanaan Cendol, seakan memberi teladan, nasehat dan peringatan kepada pembaca untuk meraih kemuliaan atas pekerjaan yang dijalani. Tidak ada pekerjaan yang bernilai rendah dibandingkan lainnya. Persepsi individu sangat beragam tergantung dari sudut mana melihatnya. Dikisahkan Bapak Tukang Cendol dagangannnya hendak diborong oleh Pak Yai untuk menjamu tamu, tetapi Tukang Cendol menolak pembelian tersebut. Kenapa ditolak. Padahal, secara umum, tujuan utama pedagang adalah bagaimna agar daganngannya laris sehingga cepat habis, lebih-lebih habis dalam wangku singkat. Narasi ini juga membuat pembaca seakan geleng-geleng dan mbatin kira-kira di era sekarang ada tidak pedagang seperti ini. Ternyata tukang Cendal lebih mengutamakan para pelanggan lainnya dibandingkan habis diborong.

Begitu bijaksana sikap tukang Cendol. Peristiwa ini membuat pak Yai terkagum-kagum. Sesampai di rumah, Pak Yai bersujud syukur dan mengucap istighfar. “Pengalaman bathinku belum seberapa, sembahyang dan latihan hidupku masih kurang” Gumam Pak Yai. Narasi ini juga mengajarkan kepada pembaca bahwa setiap pekerjaan yang dijalankan tidak hanya berorientasi materi melainkan bagaimana cara meraih kemuliaan dari pekerjaan tersebut.

Kedua, membaca teks Slilit Sang Kiai, pembaca akan disuguhi gagasan Emha yang sebelumnya tidak sempat kita bayangkan, bisa juga dibilang karena faktor ketidaktahuan kita. Sudah lazim bagi manusia pasca kematiannya akan mengalami kehidupan baru, yakni alam ukhrowi. Di alam akhirat, manusia harus mempertanggungjawabkan beragam tindakan yang telah diperbuat di dunia. Baik yang disengaja maupun tanpa unsur kesengajaan. Baik dan buruk amal manusia sudah termaktub di Lauhul Mahfudz. Tidak ada tindakan yang terlepas dari balasan. Jika amal saleh, balasannya pahala. Sebaliknya, jika amal buruk akan mendapat balasan yang sudah ditentukan. Amal manusia dapat menjadi penolong dan penghalang di Hari Pembalasan. Harapan setiap insan, pasca kematian semua amal baiknya diterima oleh Tuhan dan amal kurang baik diampuni olehNya.

Emha dalam narasi Slilit Sang Kiai memaparkan bahwa status sosial tidak menjamin manusi mulus dari hisab. Meskipun mayoritas masyarakat percaya apa yang diperbuat Pak Yai berdasarkan ketentuan agama. Tetapi tidaklah demikian, justru Pak Yai tersebut semua amalnya diterima di sisiNya, tetapi ada satu amal yang menghalanginya yaitu mengambil potongan kayu (slilit) seseorang tanpa ijin. Narasi ini memberi teladan agar apapun yang kita miliki dan kita pakai harus berdasarkan tuntunan agama, tidak pandang sedikit-banyak.

Ketiga, Puasa dalam Syahadat, Shalat, Zakat, Haji. Membaca teks ini, pembaca akan menemukan makna dari puasa. Narasi teks secara tiak langsung mengajak pembaca agar memaknai puasa. Berpuasa tidak hanya sekedar meninggalkan dan menanggalkan makan dan minum mulai dari subuh hingga magrib. Dan puasa tidak terikat oleh hari maupun bulan tertentu. Jika ditarik lebih luas, kapanpun dan dimanapun kita bisa berpuasa. Tentunya dalam arti menahan. Tergantung pribadi kita dalam mempuasai sesuatu. Apapun yang kita lakukan dapat diniatkan puasa. Aktivitas membaca itu puasa. Kenapa. Meluangkan membaca berarti meninggalkan aktivitas lain. Mungkin kegiatan ngobrol, ngumpul teman, jalan-jalan lebih enak dibandingkan membaca. Atau kita menghadiri Acara Maiyah itu juga puasa karena rela meninggalkan kesibukan lain demi Sinau Bareng di Maiyah.

Dalam kehidupan sosial, memaknai dan menerapkan substansi puasa sangat penting. Dengan harapan setiap aktivitas yang kita jalankan lebih terarah. Emha Ainun Najdib menuturkan, Jadi, puasa itu terkadang bersiifat sebagai keharusan, terkadang berupa menahan, di saat lain bersifat memaksa. Hakikat puasa dengan demikian mengajarimu untuk menghayati bahwa dalam kehidupan ini engkau tidak hanya bergaul dengan hak, tapi juga dengan kewajiban, larangan, dan anjuran.

Paparan ketiga judul narasi teks di atas tentunya secara tidak langsung menginformasikan, mengajak dan menjadi pembelajaran kepada pembaca agar dalam menjalankan laku sosial maupun laku ibadah berorientasi substantif.