Pada saat remaja, aku belanja kaset-kaset Emha Ainun Nadjib-Kiai Kanjeng. Aku tergoda mengenalkan album mereka ke umat Islam di desaku. Semula, orang-orang sudah mengenaliku sering memberi ceramah dan menggerakkan kaum muda di masjid. Keputusanku memutar kaset-kaset Kiai Kanjeng dan menggunakan toa agar terdengar di seantero desa sempat membikin ribut dan omelan.

Sekian orang ingin toa cuma mengantarkan orang berceramah atau mengaji kitab suci. Lagu-lagu aneh dan suara Emha Ainun Nadjib belum berterima. Aku pun jadi sasaran omelan. Semua itu gara-gara aku sedang terlalu kagum pada Emha Ainun Nadjib sebagai penceramah, esais, dan pesajak.

Aku menduga belum ada orang di desaku khatam 3 atau 4 buku garapan Emha Ainun Nadjib. Aku saja sedang mulai membaca halaman demi halaman sekian buku dan mendapatkan sekian tulisan di majalah-majalah. Kagumku tak cuma di peristiwa membaca. Pengajian-pengajian Emha Ainun Nadjib di Solo sering aku datangi dengan girang. Di pondok pesantren modern di pinggiran Solo, aku nekat mbludhus demi menikmati pengajian dan sajian musik berlagak religius berpusat ke Emha Ainun Nadjib.

Kagum itu tak memuncak. Pada saat usiaku bertambah dan bacaanku terus bertambah, Emha Ainun Nadjib mulai mendapat saingan-saingan ampuh. Kagum tetap berlaku meski “diselingkuhi” dengan pilihanku menekuni ide-imajinasi tokoh-tokoh dipuja. Puisi-puisi gubahan Sapardi Djoko Damono dan Afrizal Malna mulai menjeratku di kedalaman imajinasi. Esai-esai suguhan Goenawan Mohamad dan Ignas Kleden memberi sengat berpikir serius. Emha Ainun Nadjib sempat “terlupa” sejenak meski menguat (lagi) saat perjumpaan di Loji Gandrung (Solo) sekian tahun lalu. Perjumpaan berdalih menghormati Romo Mangun. Di mataku, ia sudah tua tapi masih tebar pesona.

Pengenalan mundur terjadi dengan membaca majalah Femina edisi 21-27 Maret 1991. Di halaman 76-78, tulisan berjudul “Emha Ainun Nadjib: Kiai Bercelana Jins”. Ia diceritakan berpenampilan khas: rambut gondrong dan bercelana jins.

Aku mengutip kalimat berkaitan puisi dalam biografi Emha Ainun Nadjib: “Kemudian dalam perjalanan di dunia tulis-menulis, dia menemukan bahwa tidak selamanya tulisan atau puisi yang dicari media massa sesuai dengan kehendaknya seratus persen.” Pada 1991, ia telah pesajak besar. Puisi-puisi sudah ada di majalah dan buku. Ia pun sering diundang di pelbagai acara puisi di Indonesia dan negeri asing.