Masa lalu hanya berlalu, ia tak pernah benar-benar pergi. Sesekali, kita mengingatnya kembali karena ada benda-benda yang mengingatkan kita pada masa lalu. Benda hanya benda jika kita tak memiliki ingatan atau kenangan tentangnya. Benda menjadi bermakna sejak ada peristiwa dan kedekatan kita padanya. Cak Nun mengenang masa lalu melalui benda berwujud pohon. Pada puisinya yang termuat di majalah sastra Horison, edisi XI, 1976, pohon adalah pemantik bagi Cak Nun mengenang masa dan peristiwa ke dalam puisi. Puisi tiga bait berjudul “Nostalgia” mewedarkan perhatian Cak Nun pada pohon.

Di bait pertama, begini bait pembukanya: Pohon-pohon amat rindang dan udara yang damai me-/ manggilmu di sini, engkaupun berteduh sehabis kekerasan/ matahari memecah cintamu dari ketegangan rindu akan-/ Mu yang tiada tergambarkan. Di larik awal, pohon dituliskan dalam narasi yang sewajarnya. Pohon memang rindang dan meneduhkan kita dari matahari. Namun, narasi pohon ini kemudian digerakkan ke wilayah kebertuhanan Cak Nun. Rindu Cak Nun pada Tuhan yang tiada tergambarkan. Atau, kerinduan Cak Nun kepada Tuhan yang memang tiada tergambarkan.

Perbincangan bermula Tuhan tetapi lekas mengarah ke persoalan ketuhanan. Cak Nun seperti tak kuasa menahan diri untuk tak terseret arus-Nya yang mengalir dalam jiwanya. Ketidakkuasaan itu lalu diumpamakan sebagai sosok anak kecil. Ini ada di bait kedua, begini isinya: Pohon-pohon yang hijau yang daun-daun mengepak bagai/ sayap Garuda memanggilmu/ berbaring. Bagai membaringkan nasib, bagai anak kecil/ yang lena di luar kabut pikiran risik. Situasi di bawah pohon sering menjelaskan keinginan orang untuk duduk berlama-lama atau rebahan. Sejuk udara dan suasana membikin pohon yang rindang itu perumpamaan bagi pikiran yang tenang dan tak ruwet. Apalagi bagi bocah yang lena saat bermain di bawah pohon. Pikiran bocah adalah pikiran yang jujur, lugu, tak bertendensi lain-lain.

Cak Nun lalu memungkasi puisinya, Dengan sorot mata yang tetap molek dan bersahaja meski-/ pun langit dan bumi keras menjepit engkaupun berbaring-/lah! Pohon-pohon yang perkasa yang akar-akarnya hu-/ njam dalam kedamaian hati, menenggelamkan ke mimpi-mimpi. Pada bait terakhir ini sebenarnya kentara terasa bahwa Cak Nun menjadikan pohon sebagai metafor untuk menggambarkan konsep pohon dalam bertuhan, berpikir, dan menjadi pribadi yang mendamaikan.

Sebagai pohon yang meneduhkan, seperti itulah kebertuhanan yang sesungguhnya. Sebagai pohon yang menjadikan bocah lena di luar pikiran risak, seperti itulah sebenarnya cara berpikir kita: pikiran yang tidak berkabut, pikiran yang tidak tercemari sesuatu yang “risik”. Dan seperti akar pohon yang mencengkeram dalam dan kuat ke tanah, seperti itulah seharusnya kita memahami diri sendiri. Tentu saja agar kita tak gampang goyah pada hal-hal yang menerpa kita. Dengan kita memaknai pohon sebagai sesuatu yang meneduhkan, memberi ruang yang nyaman bagi bocah-bocah untuk bermain, serta sebagai sebuah teladan akan pentingnya pemahaman yang kuat atas diri sendiri, kita tak akan pernah menyepelekan pohon: satu atau seribu, setunas atau sehutan.[]