Sumber Foto: www.caknun.com

Beberapa penggiat Simpul Maiyah dari pelbagai kota mengikuti workshop penulisan yang diselenggarakan jajaran tim redaksi caknun.com di Rumah Maiyah, Kadipiro, pada Sabtu (4/1/2020) lalu. Mereka berkumpul untuk menjadi penulis-penulis Maiyah. Sebab, kita tahu Simpul Maiyah tersebar di pelbagai kota dan tugas penggiat menuliskan perjalanan simpul tersebut dalam menjalankan nilai, ilmu, dan laku Maiyah. Kumpulan tulisan itu akan menjadi kekayaan khazanah keilmuan Maiyah pada masa depan.

Memang sedari awal, urusan tulisan tidak pernah dianggap sepele dalam lingkup Simpul Maiyah. Adalah kewajiban setiap gelaran sinau bareng selesai, penggiat wajib mengabarkan aktivitas dan peristiwa yang dilalui dalam bentuk tulisan atau reportase. Sepertinya terlihat sepele. Atau, kita bisa saja bergumam,”Halah jagongan wae kudu digawe reportase.” Namun, pada suatu saat kita bakal merasakan kekosongan narasi atau cerita atau data kalau tidak meninggalkan warisan apa-apa kepada generasi selanjutnya tentang Maiyah, minimal dalam bentuk tulisan.

Mbah Nun sering mencontohkan bangunan Borobudur. Kita mendapat warisan bangunan yang hebat tapi tidak dibarengi dengan warisan cerita atau data yang tertulis mengenai bagaimana proses perancangan dan pembangunan candi tersebut. Dari situ kita belajar, jangan sampai generasi selanjutnya tidak bisa mempelajari Maiyah karena alasan kekurangan data atau cerita.

Beberapa pelatihan penulisan pernah diselenggarakan Simpul Maiyah. Diantaranya Kenduri Cinta yang mengundang penulis-penulis reportase untuk mengiktui pelatihan selama dua hari, Sabtu-Minggu. Saat itu pelatihan penulisan diampu oleh Erik Supit. Dalam kesempatan itu, Erik Supit mengajarkan bagaimana menulis dengan teknik story telling. Atau, menulis seperti orang bercerita. Mas Erik menyarankan kepada kita untuk menceritakan Maiyah. Sebab dalam gelaran sinau bareng selalu ada hal yang menarik diceritakan. Semisal tentang seorang jamaah yang berangkat sinau bareng dengan anaknya yang masih berusia tiga tahun. Atau, tentang jamaah yang tubuhnya penuh dengan tato tetapi memiliki kenyamanan mengikuti sinau bareng.

Penyampaian Mas Erik saat itu mendapat sambungan penjelasan saat Mbah Nun, Pak Budi Sardjono, dan Romo Iman Budhi Santosa pada sore hari menemani teman-teman bertukar cerita mengenai seluk-beluk penulisan. Pak Budi menjelaskan rumusan menulis berita yang baik, yang tidak kaku berpatokan pada unsur 5W+1H. Dalam penulisan berita, unsur itu tidak boleh dilewatkan, tetapi dalam Maiyah unsur itu tidaklah cukup.

”Harus Anda tambahi dengan 2 I, intuisi dan imajinasi,” kata Pak Budi kepada peserta.

Dalam penjelasannya sore itu, Pak Budi mengatakan intuisi adalah kecermatan melihat yang tidak orang lain lihat. Semisal, Pak Budi mencontohkan, saat kabar perceraian Sitoeresmi. Di satu sisi itu berita penting, tetapi di sisi lain Pak Budi juga berteman akrab dengan Sitoeresmi dan suaminya. Kantor tempat Pak Budi bekerja menyuruh Pak Budi meliput kabar perceraiannya itu. Pak Budi lalu berangkat ke menemui Sitoeresmi di rumahnya, tetapi tidak untuk wawancara tentang kasus perceraiannya. Pak Budi hanya dolan dan makan siang di sana. Dari kunjungan ke rumah Sitoeresmi itu, Pak Budi lalu menulis berita, ”Makan Siang Pertama Tanpa Suami.”

Pak Budi menceritakan bagaimana hari-hari awal Sitoeresmi menjalani hidup tanpa suami. Juga anak-anaknya menjalani rutinitas harian tanpa kehadiran seorang bapak.

”Dari tulisan itu saya tidak membuat Sitoeresmi dan suaminya tersinggung,” tambah Pak Budi.

”Kecerdikan mengambil angle adalah perpaduan antara intuisi dan imajinasi,” katanya lagi.

Mbah Nun menambahkan, kalau kita melihat berita sepakbola yang ditulis dengan 5W+1H, kita hanya mendapatkan berita berapa skor pertandingan itu dan siapa pencetak golnya. Namun, kalau kita menulis berita bola dengan menggunakan intuisi dan imajinasi, kita bisa mendapatkan pengetahuan yang lebih tentang isi sepakbola. Pada 1980-an, kata Mbah Nun, di Kompas ada tulisan bagus tentang sepakbola yang ditulis Sindhunata. Di tulisan itu, Sindhunata bisa menceritakan filosofi pemain, biografi pemain, sampai hal-hal sepele yang dialami pemain. Sepakbola yang semula hanya mengunggulkan informasi hasil pertandingan menjadi lebih luas karena dikaitkan dengan politik, budaya, agama, ekonomi dan lainnya. Mbah Nun mengatakan apa yang dilakukan Sindhunata saat itu, dia sedang menggunakan intuisi dan imajinasi.

Sedangkan Romo Iman mengenalkan lagi ilmu Ki Hajar Dewantara yang sekarang mulai dilupakan banyak orang. Ilmu itu adalah tentang tiga hal: niteni, niroake, nambahke. Tiga hal itu bisa dijadikan pegangan dalam menulis.

”Coba, titenono tulisane Cak Nun, terus tiruke, ojo lali tambahke,” ujar Romo Iman.

”Tidak apa-apa kita meniru gaya tulisan Cak Nun asal kita harus melakukan variasi dari peniruan tersebut. Jangan tiru persis, ngapain nulis kalau niru persis,” seloroh Romo Iman.

Romon Iman juga menceritakan dalam hal niteni itu tidak mudah. Karena untuk bisa niteni dan niruke, kita harus tahu setiap detail bentuk tulisan yang kita tiru. Dan, untuk mencapai itu, tidak ada cara lain selain terus latihan.

Mbah Nun juga berpesan,”syarat menulis mung siji: sregep!” Dalam pengalamannya sebagai penulis, Mbah Nun bercerita, beliau selalu menulis setelah bangun dan akan tidur. Menulis apa saja yang ingin ditulis. Bahkan dalam keadaan tidur terus tiba-tiba ingin menulis. ”Langsung jenggirat tangi, nulis,” ceritanya.

Tiga maestro kata sore itu, Mbah Nun, Pak Budi, dan Romo Iman itu bersepakat, resep membuat tulisan bagus hanya dengan perbanyak latihan dan harus rajin.