Tandhang adalah kesediaan manusia untuk melakukan sesuatu, bukan hanya tapi brantasi menyelesaikan pekerjaan atau persoalan yang ada. Misalnya di kampung ada perhelatan 17-an, di sana ada banyak pekerjaan maka melakukan sesuatu, turut serta nyengkuyung adalah bentuk tandhang atau tandang itu. Orang tandhang karena dirinya memiliki ikatan dengan lingkungan yang ditandhanginya. Ikatan itu bisa kita sebut cinta. Orang tandhang juga berdasarkan kemampuannya. Dalam kerja bakti yang membutuhkan pekerjaan fisik, orang-orang yang biasa bekerja di belakang komputer tidak begitu berguna. Sebaliknya pada pekerjaan lain mereka sangat dibutuhkan. Ada orang-orang yang sangat ahli dalam bidang perancangan, konsep, ada jug orang lain yang sangat ahli dalam bidang eksekusi tapi secara konsep amburadul. Orang yang hanya bagus pada satu bagian dan lemah pada bagian lain jangan disalahkan. Justru ini adalah kesempatan untuk berbagi tugas agar tercapai yang namanya guyub.

Kita bisa membayangkan suasana gugur gunung di dalam lagu gugur gunung. Ini adalah gambaran ideal masyarakat kita:Ayo kanca ayo kanca ngayahi karyane praja/Kene-kene-kene-kene gugur gunung tandang gawe/. Dalam lagu ini digambarkan ajakan untuk mengerjakan sesuatu secara bersama-sama agar pekerjaan cepat selesai. Dalam bekerja bersama atau gotong royong kita membutuhkan lilo legowo, menepikan kepentingan pribadi dan mendahulukan kepentingan masyarakat. Kita juga harus kompak melakukan pekerjaan sesuai bagian masing-masing. Tidak usah saling menyalahkan. Tidak usah saling tanding, cari muka, merasa paling berperan saat gugurgunung itu.

Pertanyaan yang muncul adalah mengapa terjadi pertandingan antar anggota saat kita gugurgunung ngayahi karyane praja hingga keahlian-keahlian yang dititipkan allah kepada manusia tidak bisa mewujud? Mungkin karena hilangnya kepercayaan, hilangnya lilo legowo. Pamrihnya tidak ke Allah.

Budaya tanding atau budaya kompetisi, berlomba-lomba tetap harus kita pelihara. Yang kita tantang adalah diri kita sendiri “seberapa jauh kita bisa berbuat baik dan benar untuk negeri ini?” Budaya tanding juga kita butuhkan agar kita tidak mudah letoy, mudah menyerah sebelum mengeluarkan segala daya, tenaga, dan pikiran. Pantang bagi kita untuk menyerah. Demikianlah mukhadimah Gambang Syafaat pada edisi 25 Agustus 2019. Masih banyak opini, sudut padang, renungan yang memungkinkan untuk kita rembuk nanti malam. Sampai ketemu.