Kita bersyukur punya Maiyah seperti ini. Semua menjadi bala kabeh. Tidak ada yang membahas politik sampai geger-gegeran. Ini majelis ilmu. Di sini kebaikan dicari bareng-bareng,” kata Gus Aniq menutup penjelasannya tentang tema bala kabeh malam itu. Seminggu sebelum Gus Aniq mengucapkan kalimat itu. Apel Kebangsaaan diadakan di Lapangan Pancasila Simpang Lima, Semarang, Minggu, 17 Maret 2019. Acara itu menghadirkan ulama-ulama terhormat di Tanah Jawa, Panglima TNI, Kapolri, dan beberapa band asal ibukota. Acara itu, menurut Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, bertujuan untuk mendinginkan suasana menjelang pemilu yang memanas dan meneguhkan kembali kesetiaan kita sebagai warga negara kepada NKRI.

Berjarak beberapa meter dari Lapangan Pancasila Simpang Lima, di pelataran Aula Masjid Baiturahman, Semarang, setiap bulannya setiap tanggal 25 Majelis Masyarakat Maiyah Gambang Syafaat kerap didatangi orang-orang dari beragam profesi, latar belakang, dan watak yang berbeda-beda. Malam itu tidak ada bekas yang tampak bahwa di dekat area Maiyahan itu, beberapa waktu lalu ada acara besar dengan biaya mahal. Atau malah barangkali jamaah tidak peduli dengan kondisi itu. Sehingga mereka gayeng saja duduk di atas aspal yang basah setelah sore tadi diguyur hujan deras. Suasana penuh kekeluargaan dan kedamaian ini selalu tercipta setiap bulannya tanpa perlu mengundang band dari ibukota dan menghabiskan uang 18 miliar. Jamaah juga tidak perlu menghujani penampilan Wakijo Lan Sedulur dengan tagar #wakijomakanduitrakyat di media sosial.

Malam ini Gambang Syafaat sinau bareng bab ”Bala Kabeh”. Latar pemilihan tema ini dipicu oleh keadaan mutakhir di Indonesia di mana saat ini ruang-ruang publiknya dan ruang media sosialnya telah menjadi panggung bagi dua kubu pendukung capres-cawapres Indonesia untuk adu argumentasi, data, dan slogan. Kita yang tidak tergoda larut dalam fanatisme pemilu ini lama-lama jenuh juga. Di sisi lain, kita tidak bisa menghindari keriuhan ini. Dua kubu yang sulit akur itu sepertinya membutuhkan jembatan penghubung agar tidak bablas menjadi rival yang saling memusuhi. Maka kita perlu cetuskan semua adalah saudara. Semua adalah bala kabeh. Namun, kita jangan persempit makna bala kabeh. Ajakan menjadikan semua orang menjadi bala kabeh tidak terbatas pada orang-orang yang terbagi ke dalam dua kubu pendukung pasangan capres-cawapres. Ajakan ini bersifat menyeluruh, bahkan tidak sekadar sesama manusia saja, tetapi sesama makhluk Allah.

Bala dalam bahasa Indonesia bisa berarti teman, saudara, atau sedulur. Frasa bala kabeh bisa diartikan saudara semua. Pengertian frasa ini sangat indah, tetapi sepertinya sulit terwujud saat ruang-ruang berkomentar malah menciptakan keterbelahan dan keberpihakan kelompok. Berangkat dari peristiwa-peristiwa ini, tema Bala Kabeh dihadirkan untuk mengingatkan ketunggalan kita. Kata Kang Hajir di Mukadimah,” Kita harus memiliki kesadaran tunggal. Kita dari sumber yang sama, dan akan kembali ke sumber itu lagi. Engkau adalah aku yang lain. Aku dan kamu sebagai satu ketunggalan. Kesadaran tunggal ini harus lebih diutamakan dibanding kesadaran kelompok. Kesadaran menjaga rumah bersama. NKRI memang harga mati, namun jika kita bertengkar melulu, NKRI itu akan hancur.” Kesadaran kelompok perlu ditanggalkan demi kesadaran tunggal. Menjalin persaudaraan, paseduluran, dan menjahit kekerabatan tidak hanya dengan manusia saja, tetapi juga dengan semua makhluk Allah, agar manusia bisa menjadikan makhluk lain menjadi bala kabeh. Tentu itu tidak mudah. Dan untuk merealisasikannya tidak cukup hanya sekadar abab saja. Perlu tindakan nyata dan bisa dimulai dengan menanam pemahaman konsep dan nilai paseduluran di pikiran kita masing-masing.

Di awal acara, Kang Duryanto meminta Mbak Andita naik ke panggung untuk menceritakan pengalaman saat ditugaskan Animal Rescue ke Palu. Pengalaman Mbak Andita di daerah bencara beberapa waktu lalu sangat penting dibagikan ke jamaah. Ia bercerita bagaimana kita hidup di dunia harus harmoni dengan alam. Sebab, kita harus sadar, kita jangan egois tinggal di bumi. Manusia bukan satu-satunya makhluk yang menghuni bumi. Maka dari itu bumi harus dijaga agar terus lestari. ”Saya anjurkan ke teman-teman kalau bisa hindari plastik. Juga pemakaian gelas plastik seperti itu,” katanya menunjuk gelas plastik yang menjadi wadah kopi narasumber Gambang Syafaat malam itu. Penggiat pun mendapat kritik atas pemakaiann gelas plastik ini. Sebagai gantinya bisa dengan gelas tabung seperti yang dibawa teman saya itu, katanya menunjuk contoh gelas tabung yang dipegang temannya.

Kantong plastik dan botol-botol plastik gampang membuat bumi kotor. Satu kantong plastik membutuhkan waktu penguraian 10-12 tahun. Sedangkan botol plastik lebih lama lagi. Ia bisa mencapai 20 tahun. Penghindaraan plastik dalam kehidupan kita bisa berperan sedikit menyelamatkan dan menjamin kelestarian bumi. ”Tidak usah ngajak orang lain, mulai dari kita sendiri saja,” lanjut Mbak Andita.

Praktik menjalin persahabatan dengan alam bisa dilakukan dengan mudah, kalau kita mau. Salah satunya, seperti yang dikatakan Mbak Andita, menekan pemakaian plastik. Selain paham dengan bahan-bahan yang mengancam kelestarian bumi, Mbak Andita juga menjadi bagian relawan penyelamat hewan-hewan di daerah bencana. Cara kerja ini unik sebab akan menggambarkan komunikasi antara manusia dan hewan.

”Cara berkomunikasinya dengan hewan piye Mbak? Saya perlu tahu itu. Apakah kalau dengan Asu itu terus dipanggil, Su piye Su,” tanya Gus Aniq dengan serius dengan diselingi guyon yang disambut tawa jamaah. Sayang sekali Mbak Andita tidak berjodoh dengan durasi waktu sinau bareng di Gambang Syafaat malam ini. Ada beberapa kendala yang terjadi tiba-tiba. Menjelang sore hari, Habib Anis mengabarkan asmanya kambuh (semoga beliau sehat lagi) sehingga mohon izin tidak bisa membersamai jamaah. Pak Ilyas yang biasanya secara rutin membersamai jamaah ternyata kondisi tubuhnya tidak fit dan harus beristirahat di rumah. Hanya ada Gus Aniq saja malam itu. Khawatir sinau bareng ini akan berlangsung dengan satu narasumber. Maka akhirnya diputuskan pukul 01.00 WIB, sinau bareng diakhiri. Waktu yang sebentar membuat pengalaman Mbak Andita dengan hewan-hewan di daerah bencana bisa dibagikan ke jamaah pada lain waktu. Gus Aniq lalu menyambung cerita Mbak Andita dengan cerita persinggungan nabi-nabi dengan hewan.

”Dulu,” kata Gus Aniq,” hewan bisa berbicara dengan manusia. Tetapi karena ada hewan yang mengejek Nabi Adam As sebagai orang yang telah melakukan dosa. Maka hewan itu dibuat bisu oleh Malaikat Jibril.” Dari kejadian itu jika kita amati secara kontekstual, bisa jadi awal mula mengapa bahasa hewan dan manusia itu berbeda. Sebab, dulu hewan kualat dengan Nabi Adam. Namun, tunggu dulu. Jangan buru-buru kita merasa lebih tinggi derajatnya karena mendengar satu cerita tentang hewan yang dilaknat malaikat karena menghina manusia. Ada juga cerita Nabi yang bertobat karena menghina hewan.

Dalam salah satu kitab klasik, Nabi Nuh itu bernama Abdul Ghoffar. Kemudian mengapa bisa berganti nama menjadi Nabi Nuh? Begini kata Gus Aniq:”Suatu ketika Nabi Nuh berjalan menemui anjing di pinggir jalan. Anjing itu dalam keadaan fisik yang jelak dan matanya buta. Lalu Nabi Nuh menyapa anjing itu. ”hei Njing, kamu itu sudah jelek, buta lagi.” Si anjing lalu menjawab,”Hei Nabi Nuh, Anda itu menghina saya atau menghina yang menciptakan saya.” Singkat cerita Nabi Nuh langsung menyadari kalau anjing yang ia hina juga ciptaan Allah. Menyadari kesalahan fatal, Nabi Nuh menangis terus. Karena kebanyakan menangis itu hingga dinamakan katsirun niyahah. Yang berarti tempat ngrasa. Tempat hati menangis.

Ada hewan mengejek manusia langsung dibuat bisu mulutnya. Ada manusia mengejek anjing langsung dibuat menyesal hatinya. Dua petikan cerita tersebut mengingatkan kita: sama-sama makhluk Allah tidak usah saling merendahkan satu sama lain. Allah melindungi ciptaan-Nya dari gangguan makhluk lain. Persinggungan kita sebagai manusia dengan hewan sewajarnya saja. Setidaknya jangan sampai menyakiti atau menyiksa. Begitu juga dengan makhluk Allah yang lainnya.

Gus Aniq mengatakan manusia itu makhluk paling junior di muka bumi ini. Sebagai junior, kita mesti hormat kepada yang senior-senior kita. Nah, siapa senior-senior manusia? kata Gus Aniq,” ”Dulur tuoane awake dewe iku jin. Tapi kita lupa yang terjadi sekarang itu jin tidak disebut leluhur, bala, atau tidak disebut dulur tua tapi dideskreditkan. Wa ma kholaqtul jinna wal insa illa liya’budun. Wa kholagtul jinna dulu, baru wal insa illa liya’budun. ”Aku (Allah) menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah. Allah menyebut jin dulu, baru manusia.

”Jin itu diciptakan sebelum Adam. Mereka punya tradisi peradaban yang sama. Jin punya peradaban seperti peradaban kita sekarang. Kurang lebih 2000-3000 tahun. Mereka punya peradaban keemasan dan peradaban kehancuran. Ketika mereka memasuki peradaban kehancuran, mereka saling membunuh, mereka saling tumpah darah. Hingga habis semua. Terus kemudian diciptakan manusia sebagai peradaban baru. Inni jaa’ilun fil ardhi khalifah. Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Kemudian para malaikat bertanya kepada Allah SWT, qaaluuu ataj’alu fiiha man yufsidu fihaa wayasfikuddimaa, apakah jenengan menciptakan manusia untuk saling bunuh-membunuh, saling bertumpah darah.” Karena ada kekhawatiran penciptaan manusia akan mengulang tragedi besar yang terjadi di peradaban sebelumnya. Maka dari itu, saat Allah menciptakan manusia, Dia mendapat interupsi dari para malaikat.

Proses itu menggambarkan manusia-manusia itu makhluk paling junior yang menghuni bumi. Jadi kita perlu sadar diri memberi hormat pada makhluk-makluk Allah yang senior dari kita. Hubungan itu bisa kita ibaratkan segitiga: manusia, alam, Allah. Tiga hubungan itu, menurut Gus Aniq,” Kita buat Tuhan sebagai logika dasar kerahmanatan., manusia sebagai pengelola kerahmatan, alam sebagai sahabat kerahmatan. Kalau ketiga-tiganya kita bawa ke benak kita, Insya Allah akan menjadi bala kabeh”. (Yunan Setiawan)