Sikap anti yang berlebihan terhadap suatu hal saya kira hanya akan bikin repot kita sendiri. Misalnya begini. Anda adalah seorang musisi jazz yang sangat membenci musik dangdut sampai ke akar-akarnya. Alasannya, Anda menganggap dangdut adalah musik yang harus dihindari karena merusak kepekaan Anda sebagai musisi jazz. Anda ingin imajinasi dan kuping Anda tak terkotori pengaruh musik dangdut yang repetitif dan berlirik ugal-ugalan. Di rumah, Anda tak sekalipun membiarkan keluarga Anda menyetel lagu dangdut baik dari hape maupun pemutar cakram. Anda juga akan sangat bereaksi keras ketika salah satu anggota keluarga Anda menonton acara dangdut di televisi. Tak hanya itu, bahkan di media sosial sekalipun Anda akan langsung berkomentar pedas jika ada rekan yang membagikan atau mengunggah video musik dangdut. Kongkritnya, dangdut itu seperti sampar yang membawa mala.

Namun, pada satu kesempatan tak terduga, tepatnya ketika Anda diundang bos tempat di mana Anda bekerja untuk menghadiri pesta syukuran atas terpenuhinya target perusahaan, rupanya hiburan yang disuguhkan di situ ialah pertunjukan musik dangdut. Anda pun lalu merasa terjebak dalam situasi sulit. Mau keluar ruangan rasanya tak enak dengan bos. Anda bisa dituduh tidak sopan kepada atasan karena pergi justru di saat acara tengah hangat-hangatnya. Sementara itu, memilih bertahan di tempat acara hanya akan membikin emosi Anda meluap-luap dan Anda pun terbakar amarah sendirian. Akhirnya, Anda pun memilih diam berdiri di dekat meja makanan sembari sesekali tersenyum kepada bos serta berpura-pura tengah asik makan sambil menunggu acara lekas usai.

Sikap anti semacam itu pada akhirnya akan merugikan diri kita sendiri. Kita pun jadi gampang mengambil posisi berhadap-hadapan dengan apa saja yang menurut kita anti. Imbasnya, kita jadi gampang berkonfrontasi dengan pihak lain. Dangdut dalam amsal yang saya ceritakan di atas pun sebenarnya bisa diganti dengan objek apa pun. Situasi semacam inilah yang agaknya tengah dikisahkan oleh Cak Nun dalam dua puisinya yang berjudul Ulat 1 dan Ulat 2 (Horison, XII, 274). Dalam puisi bersajak liris itu Cak Nun bercerita tentang seseorang yang bermimpi tubuhnya dikerubuti ulat. Sudah dijentiknya ulat-ulat itu sebisa mungkin, tapi selalu saja muncul. Sampai akhirnya, saking tak ada cara lain untuk mengenyahkan ulat itu dari tangannya, orang itu pun memutuskan memotong tangannya sendiri—jangan kaget, tokoh kita ini oleh Cak Nun diceritakan tengah dalam keadaan bermimpi. Kita simak dulu petikan Ulat 1 biar lebih jelas:

aku ingin tidur lagi dan bermimpi menjentik ulat itu
agar terlempar dan tak berjalan menuju tempat persem-
bunyianKu, tapi tak bisa, setiap jari tanganku dengan
potongan kayu kecil itu hendak menjentiknya, ribuan kaki-
kakinya yang berbaris menempel erat-erat ke kulitku
hingga terasa juga rongga dadaku

maka terpaksa kupotong lengan kiriku dan lengan
kananku dan darah mengucur deras, mengucur terus dan
tak kunjung tuntas, tapi dari arah dadaku mendadak mun-
cul seekor ulat yang warnanya menggeriapankanku sehingga
kulit-kulitku tak berani bersentuhan dengan apapun, bah-
kan kedua telapak kakiku ingin meloncat dan terbang saja
agar tidak menyentuh tanah

Puisi ini, secara umum menggambarkan orang yang ingin dirinya “suci” dan karena itu ia rela melakukan apa saja agar tubuhnya tetap “suci”. Pun jika ia diharuskan memotong tangannya sendiri, ia rela. Dalam perkataan lain, apa yang Cak Nun kisahkan di puisinya itu adalah sebentuk penggambaran tentang bagaimana kehendak untuk tidak tercemari “ulat” justru membuat seseorang gelisah dan rela berbuat nekad. Sosok aku-lirik dalam puisi di atas dengan bergeloranya ingin membunuh semua ulat yang menempel pada tubuhnya. Namun, semakin ia enyahkan ulat itu, semakin ia menggerogoti seluruh tubuhnya. Bahkan, keberadaan ulat itu justru bertebaran di mana-mana, tak hanya menempel di tubuhnya. Di puisi Ulat 2, Cak Nun menceritakan:

ulat-ulat bergantungan di meja, di jendela, di pintu,
di kursi, di gantungan pakaian, di buku-buku, di langit-
langit bilikku, ulat-ulat melata di setiap helai rambutku,
di alisku, di hidungku, di telingaku, di tanganku, di tiap,
jari kakiku, ulat-ulat bergelantungan dan melata di seku-
jur tubuhku ulat-ulat melata bergelantungan dan melata di batin-
ku hingga penuh tolong sirnakan aku sebab aku takut
bertempat dan menempatkan diri…

Kunci dari dua sajak di atas ada pada larik terakhir puisi Ulat 2. Di situ Cak Nun menulis, tolong sirnakan aku sebab aku takut/ bertempat dan menempatkan diri… Ini menjadi pembuka tabir dari dua sajak bergerumbul kata ulat tersebut. Upaya memandang ulat sebagai hewan yang harus dibunuh dan dienyahkan dari tubuh kita itulah penyebab segala persoalan yang muncul dalam sajak ini. Padahal, di awal sajaknya, Cak Nun sudah memberi kode bahwa peristiwa yang terjadi pada sosok aku-lirik di dalam puisi tersebut adalah di dalam mimpi. Ini bisa kita artikan bahwa ulat-ulat itu sebenarnya tak pernah ada, tak pernah nyata. Ia hanya asumsi yang hidup di dalam pikiran kita. Cak Nun sebenarnya tengah mengkritik orang-orang yang dalam pikirannya kerap terjebak oleh asumsi yang berlebihan. Apalagi dari asumsi tersebut orang-orang lalu memosisikan dirinya sebagai orang yang pemikiran dan keyakinannya paling sahih.

Gemar bilang anti terhadap suatu hal pada akhirnya merepotkan dirinya sendiri. Bukan tidak boleh kita anti terhadap sesuatu yang menurut kita buruk dan menindas. Namun, bersikap anti pun perlu ada takaran dan dosis tersendiri. Seorang yang mengaku dirinya anti-kapitalisme tapi tiap hari masih memakai ATM tentu boleh disebut orang yang setengah-setengah. Pertanyaannya, apakah relevan ngotot menentang kapitalisme habis-habisan sementara kita hidup di zaman yang begitu rumit seperti hari ini, di mana kapitalisme bahkan telah menemani tidur kita dalam bentuk layanan media sosial di gawai? Inilah yang saya maksud, betapa sikap anti tetaplah harus memiliki takaran dan dosis tertentu. Tak boleh berlebihan, tak boleh overdosis.

Terakhir, mengapa di akhir sajaknya Cak Nun menyinggung persoalan “menempatkan diri” sebegitu keras? Menempatkan diri bisa menjadi sesuatu yang berbahaya jika tidak dilakukan dengan penuh kesadaran dan kebijaksanaan, sampai-sampai aku-lirik dalam sajak Cak Nun ini ia memohon kepada Tuhan agar tak gegabah menempatkan diri. Lihatlah, betapa orang yang telah melabeli dirinya kaum cerdik pandai justru adalah orang di panggung utama yang tega membodoh-bodohkan orang lain. Lihat pula orang-orang yang mengaku paling beragama, betapa mereka paling lantang menyebut saudara seimannya sebagai kafir. Lalu, lihat pula sekelompok orang-orang yang mengaku sebagai penyelamat rakyat justru adalah pioner-pioner dalam menggarong hak-hak rakyat. Satu lagi, lihatlah juga orang-orang yang mengaku dirinya paling mempedulikan bangsa ini justru adalah orang yang paling getol memecah-belah bangsa ini. Merekalah orang yang terburu-buru menempatkan diri, melabeli diri, mengklaim diri, dan mengagung-agungkan diri sendiri. Apa yang Cak Nun singgung pada puisi bertarikh 1978 itu sampai hari ini masih terjadi. []