Gambang Syafaat edisi September 2019 dikejutkan dengan kehadiran sosok calon presiden nomor urut 10, Nurhadi. Beberapa waktu lalu, nama beliau dan pasangannya: Aldo, sempat viral di media sosial.

Capres dan cawapres fiktif itu mampu mencairkan suasana ketika masa pemilu kemarin. Banyak quotes nyeleneh yang dikeluarkan oleh pasangan yang tergabung dalam, ‘Koalisi Indonesia Tronjal Tronjol Maha Asyik.’

“Gelombang Gela” menjadi fokus utama dalam sinau bareng pada Jumat, 27 september 2019 kemarin. Seperti yang disampaikan Kang Hajir, tema ini sudah dipilih lama dan tidak ada kaitannya dengan aksi demo anak muda yang mempermasalahkan pembuatan RKHUP dan RUU KPK. Pembahasan gela memiliki cakupan yang sangat luas.

Wakijo lan Sedulur ditemani seorang jamaah perempuan membawakan lagu berjudul, ‘Pamer Bojo’ ciptaan Didi Kempot. Salah satu lagu yang menggambarkan rasa gela seseorang terhadap pasangannya. Semua jamaah terlihat larut dan suasana menjadi meriah.

Gela secara singkat diartikan sebagai rasa kecewa. Ada banyak versi dari kecewa. Anak muda zaman now sering mengekspresikan rasa gela dengan ungkapan, ‘harapan selalu jauh dengan kenyataan.’

Pak Nurhadi yang dimintai respon terhadap tema, mulai membagikan pengalamannya ketika kemarin jadi sorotan media. Bagaikan artis papan atas yang sedang naik daun. Meski namanya sekarang sudah tidak viral seperti kemarin, beliau tetap santai dan tidak gela. Aktivitasnya sebagai tukang pijat masih dilakukan dengan penuh kenikmatan.

Banyak orang bersedih bahkan menangis karena efek dari rasa gela yang teramat besar. Menurutnya, gela hanya terjadi pada orang-orang yang belum siap. Jika sudah siap, maka tidak ada rasa gela yang akan melanda hati dan pikiran. Ketika seseorang siap bersedih, maka yang keluar hanya kebahagiaan.

Rasa gela muncul pada orang yang banyak berangan. Sebuah quote Jawa disampaikan, “Ora usah ngeceh-ngeceh pikiran!” kata Pak Nurhadi dengan logat khas Kudus. Bisa dimaknai kurang lebih, ‘jangan terlalu banyak memikirkan sesuatu yang tidak pasti atau tidak tentu’.

Kehadiran narasumber Mas Silok yang pernah menjadi TKI di Korea Selatan juga dimanfaatkan jamaah untuk ngangsu kawruh. Beliau menceritakan pengalaman hidupnya ketika merantau ke negeri gingseng itu.

Bekalnya hanya satu: keyakinan. Mas Silok berhasil bertahan selama belasan tahun tanpa visa pekerja alias TKI ilegal. Jika dilogika, harusnya beliau sudah ditangkap oleh pihak imigrasi sejak awal bekerja di sana.

Bukan hanya bertahan, beliau juga berhasil mendirikan usaha berupa jasa pengiriman barang. Ada cerita unik di balik usahanya yang berhubungan dengan gela. Bisnisnya terinspirasi ketika beliau membantu kepulangan jenazah salah seorang TKI di Korea Selatan.

Waktu itu biaya untuk memulangkan jenazah sangat banyak. Tanpa pikir panjang, beliau mengurusnya sendiri dengan meminjam uang yang nilainya setara tujuh puluhan juta rupiah dari pengurus masjid di Korea Selatan.

Menariknya beliau tidak punya perencanaan atau strategi bagaimana nanti caranya membayar utang. Beliau yakin kalau niatnya baik pasti akan ada jalan. Keyakinannya terjawab. Tangan Allah bergerak dan membantu beliau melunasi utang-utangnya yang digunakan untuk mengantarkan jenazah TKI pulang ke Indonesia.

Mas Silok berpesan kepada jamaah Maiyah Gambang Syafaaat agar terhindar dari rasa gela, caranya sederhana. Ikhlaskan saja semua yang kita lakukan. Tidak perlu berharap apa pun pada makhluk terlebih manusia. Berharap pada manusia seringkali berujung kecewa. Cukup bersandar pada Allah.

Pak Saratri menilai bahwa gela muncul karena adanya harapan berlebihan terhadap sesuatu. Beliau mengilustrasikan Indonesia. Negara besar yang memiliki berbagai macam kekayaan, namun hanya sedikit yang bisa dirasakan kenikmatannya.

Jika Indonesia dianggap sebagai sebuah restoran besar, seharusnya Indonesia memiliki banyak variasi menu makanan. Namun, hanya bakso dan mi ayam saja yang bisa disajikan untuk konsumen. Tentu hal ini menimbulkan rasa gela bagi banyak orang.

Pendapat juga diberikan oleh Pak Ilyas, narasumber Gambang Syafaat yang baru pulang menunaikan ibadah haji itu menganggap gela itu normal. Setiap orang boleh untuk gela.

Rasa gela bisa positif jika seseorang mampu mengambil hikmahnya. Sebaliknya, dapat berdampak negatif bagi mereka yang gagal mendapatkan hikmah dan terjebak dalam waktu lama.

Beliau membagikan kisah ketika dulu sempat hanya kuliah selama tiga bulan di perguruan tinggi negeri di Semarang. Tidak ada rasa gela yang berlebihan waktu itu. Pak Ilyas menambahkan bahwa gela hadir karena adanya target yang terlalu tinggi namun persiapan untuk menerima kenyataan kurang.

Di tengah-tengah suasana sinau bareng yang sudah mulai memadat, tidak ada lagi guyon, dan canda tawa. Tiba-tiba orang-orang yang duduk di belakang berdiri semua. Tidak disangka-sangka gerimis turun malam itu. Penggiat memita jamaah untuk maju ke depan. Persis di depan para narasumber. Setelah semua keadaan terkendali. Sinau bareng dilanjutkan lagi. Kali ini, pembahasaan dilanjutkan oleh Habib Anis.

Beliau mengawali dengan mengajak jamaah membaca Surat Al Fath ayat 1-3 sebanyak tiga kali. Tidak hanya gela, sebenarnya banyak sekali gelombang yang hadir dalam diri manusia. Gelombang ini dapat membawa kebangkitan atau pun kehancuran bagi diri seseorang.

Beliau sedikit merespon aksi demo kemarin. Kejadian itu merupakan bentuk gelombang yang ada di dalam masyarakat. Bagaiamana anak-anak muda turun ke jalan dengan kesukarelaan. Gelombang ini dapat menjadi awal perbaikan atau malah menambah kerusakan Indonesia. Semua kembali kepada individunya masing-masing. Habib Anis mengingatkan bahwa hanya Allah yang mampu memberikan pertolongan nyata atas semua kegelisahan dan masalah manusia.

Mas Sabrang yang turut membersamai jamaah Maiyah Gambang Syafaat turut merespons tema. Menurutnya, ia hanya bisa memberikan pemahaman logis yang cukup mengedukasi. Gela bisa menghasilkan kesedihan atau kebanggan. Kemunculan rasa gela ini diawali dari proses transformasi. Setiap orang akan mengalami transformasi dalam hidup.

“Baik transfromasi di dalam dan di luar diri,” tuturnya.

Konsekuensi dari proses transformasi di luar membuat seseorang memiliki kontrol yang sedikit. Seseorang tidak bisa memiliki kendali yang besar terhadap transformasi yang ada di luar dirinya. Sehingga menyebabkan seseorang tidak mampu melihat masalah dengan jeli dan mengundang gela. Sementara transformasi di dalam diri seseorang dapat dijadikan sebagai bahan refleksi dan intropeksi.

Beliau menyampaikan jika semua keinginan dari luar dapat berpotensi menjadi gela. Misalkan saja pasangan suami-istri yang baru menikah. Lima tahun awal sering dianggap sebagai masa-masa sulit. Pasalnya, seseorang akan mulai menghadapi kenyataan tentang pasangan yang dinikahi. Jika imajinasi seseorang terhadap pasangan tidak sesuai, maka akan muncul gela. Istri tidak secantik yang dibayangkan. Suami tidak sebaik yang diharapkan. Atau bentuk kekecewaan lain. Rasa gela yang muncul di masyarakat disebabkan karena rusaknya ruang publik. Menurut beliau, perbedaan pendapat bukanlah penyebab dari sebuah kerusakan.

Seperti gitar yang bisa mengeluarkan nada-nada indah, hanya jika kedua sisi senar gitar ditegangkan. Saat seseorang memetik senar gitar yang kendor, maka tidak akan muncul harmoni nada memukau.

Penanganan yang keliru terhadap masalah akan membuat rasa gela semakin besar. Bagaikan kapal yang salah kerangkanya tetapi hanya diperbaiki dengan cara menambal sisinya, sampai kapan pun tidak akan terselesaikan.

Narasumber lain, Om Budi ikut memberikan pandangan lain. Beliau mengawalinya dengan bercerita alasan keterlambatannya datang ke forum Gambang Syafaat.

“Di kampung saya ada acara makan-makan yang rutin diadakan setiap satu minggu sekali. Kebetulan lidah saya sedang sariawan,” ucap beliau.

Hidangan yang disuguhkan cukup menggoda beliau: mangut kepala ikan manyung. Terjadi pergolakkan antara keinginan beliau untuk menyantap hidangan favoritnya tersebut terhadap kenyataan bahwa lidahnya sedang diguncang cobaan berupa sariawan.

Jika Om Budi memaksakan, maka hidangan mangut kepala manyung tadi akan terasa tidak enak. Akhirnya beliau mengalah dan lebih memilih untuk mengeksekusi segelas air jeruk hangat. Sembari beliau merasakan harum bau mangut yang masuk melalui dua lubang hidung.

Beliau tetap merasa bersyukur karena masih bisa menikmati segelas jeruk hangat. Hal yang ingin disampaikan: banyak orang yang lupa bersyukur dengan kondisi yang sedang dialami.

Menurutnya, manusia tidak perlu merasa gela atas kejadian yang datang dalam kehidupan meskipun itu tidak enak. Karena hidup itu nikmat jika ada enak dan tidak enak. Kalau hidup seseorang selalu enak, mungkin akan terasa monoton dan kurang nikmat.

Satu-satunya yang perlu di-gela-kan dari seseorang adalah kegagalannya untuk menyenangkan Kanjeng Nabi dan mendapatkan ridha Allah melaui amal baik. Bisa berbentuk ibadah mahdhah atau pun bermanfaat terhadap sesama makhluk.

Gambang Syafaat edisi September 2019 benar-benar terasa istimewa. Selain presiden nomor 10, jamaah juga dikejutkan dengan kehadiran Presiden Jancukers: Sudjiwo Tejo. Tidak ingin ketinggalan, dalang nyentrik itu juga memberi tanggapan terhadap tema. Menurut sebagian besar orang, gela termasuk bagian dari sebab akibat. Sebab-akibat selalu dianggap sebagai dua hal yang selalu bergandengan erat.

Mbah Tejo memberikan wawasan berbeda. Menurutnya, sebab dan akibat merupakan dua obyek yang berbeda. Mereka berdiri sendiri-sendiri. Misalkan motto dalam masyarakat Indonesia yang sering dikenal: hemat pangkal kaya.

Berdasarkan fakta di lapangan, tidak selamanya orang yang hemat selalu menjadi orang kaya dan tidak selamanya orang yang boros menjadi orang miskin. Banyak juga yang menghabiskan uang di jalan Allah dengan bersedekah, malah diberikan kekayaan melebihi orang-orang yang memegang prinsip, ‘hemat pangkal kaya’. Semua suka-suka Allah.

Beliau memberikan contoh lebih khusus lagi. Orang-orang modern yakin dan percaya jika rokok yang dibakar pasti terbakar, orang dipukul pasti sakit, dan orang tidak makan pasti lapar.

Sementara faktanya tidak selalu seperti demikian. Salah satu kejadian aslinya tentu pada kisah Nabi Ibrahim yang merasa dingin ketika dibakar api. Semua tidak selalu sesuai dugaan manusia. Lagi-lagi terserah Allah yang Maha Berkuasa dan Berkehendak.

Gagal merupakan salah satu penyebab dari datangnya rasa gela. Mbah Tejo menilai gagal sebagai sesuatu yang biasa saja. Tidak perlu berlebihan dalam menyikapinya.

“Gagal hanyalah bentuk penilaian manusia terhadap keputusan Tuhan yang tidak sesuai dengan keinginan atau harapan manusia.” Beliau melanjutkan dengan membawakan sebuah tembang Jawa yang membius para jamaah.

Satu pesan berharga untuk semua orang, terutama jamaah Maiyah yang tersebar di seluruh negeri: kekecewaan bisa jadi merupakan undangan Allah untuk makhluk-Nya agar mau kembali mendekat pada-Nya. Pesan yang berharga untuk kita semua agar tidak terlalu mudah berharap besar, sebab di balik itu bersembunyi rasa gela yang cukup besar pula. Gelombang gela perlu dikenali gejalanya agar tidak terjebak di dalamnya. (Ahmad Khan)