Di sela-sela jadwal padat manggung di beberapa tempat Kota Semarang. Letto meluangkan waktu membersamai jamaah Gambang Syafaat. Kehadiran Letto tentu menjadi daya tarik kawula muda untuk datang mendengarkan lagu-lagu Letto dan ikut sinau bareng di Majelis Masyarakat Maiyah Gambang Syafaat. Tema sinau bareng malam ini sederhana saja: Hati yang Bersandar. Kalau Anda yang paham dan hafal dengan lagu-lagu Letto. Judul tema malam ini hanya variasi dari salah satu judul lagu Letto ”Sandaran Hati”.

Pada edisi 25 Mei 2019, Gambang Syafaat hendak mengajak jamaah menyelami makna dari judul lagu tersebut. Dan juga mengabarkan kepada kaum milenial bahwa makna lagu itu sangat luas dan dalam. Jadi pada kesempatan kali ini, jamaah tidak hanya melihat Letto manggung, tetapi juga menyimak penjabaran dari Mas Sabrang.

Tidak bisa dipungkiri, kehadiran Mas Sabrang dengan segenap personil Letto telah mengundang segerombolan anak muda untuk duduk melingkar di halaman parkir Masjid Baiturahman. Sekerumunan anak muda itu yang datang dengan niat untuk melihat Letto manggung dijamin bakal rugi. Sebab, jeda dari satu lagu ke lagu berikutnya teramat lama. Di sela-sela jeda itu ada sinau bareng, ada diskusi, ada peristiwa saling berbagi pendapat antar narasumber di atas panggung. Ketika sinau bareng berjalan teramat serius dan dahi-dahi jamaah kelihatan berkerut. Lagu Letto dimainkan untuk memberi jeda, menyegarkan pikiran, dan mendinginkan suasana agar tidak kelewat serius dan kaku. Lagu-lagu yang dimainkan Letto malam itu berfungsi ganda: ia bisa berfungsi sebagai jeda diskusi dan menggoda kita untuk berpikir.

Kebanyakan para remaja dan umat milenial menafsirkan lagu-lagu Letto pada kisah percintaan manusia. Namun di forum sinau bareng, Mas Sabrang membocorkan sedikit beberapa makna yang terpendam di lagu-lagu Letto. Juga tidak menyalahkan tafsir-tafsir yang sudah berkembang di masyarakat terhadap lagu-lagu Letto.

Di dalam lagu ”Sandaran Hati” misalnya, ada lirik yang berbunyi: aku dan nafasku, merindukanmu. Kata Mas Sabrang, tidak hanya aku dan nafasku saja yang merindukanmu. Tetapi juga semua yang ada di diri kita ini juga merindukanmu. Konteks ”mu” di lirik itu merujuk pada Tuhan. Berhubung huruf ”m” dalam kata ”mu” itu ditulis kecil. Maka kita jadi salah sangka bahwa ”mu” yang dimaksud seolah-seolah manusia, padahal yang dimaksud Tuhan. Penjelasan singkat tentang penggalan lirik ini membuat kawula muda yang mendengarkan jadi terkesima dan melongo menyimaknya. Saya tidak terkecuali satu di antara pendengar yang baru tahu bahwa lagu ini sangat relijius.

Merespons judul tema, Mas Agus Wibowo, penggiat Simpul Maiyah Gugur Gunung, mengatakan bahwa manusia itu sandarannya jelas: hanya Allah. Seumpama kita menyadari bahwa sandara kita sama, kita akan terhindar dari godaan perilaku-perilaku yang menyimpang dari ketentuan alam dan Tuhan. Menyadari di mana tempat kita bersandar akan menghindarkan kita pada perasaan lebih unggul, lebih mulia, lebih baik dari yang lain. Padahal sejatinya yang berhak menilai itu hanya Allah. Manusia hanya melakukan sesuatu yang sudah ditentutkan Allah. Urusan baik dan buruk yang berhak menilai hanya Allah. Dan menurut Mas Agus,”Proses kita bertemu dan berkumpul seperti ini untuk meleburkan seperti itu. Karena pada masing-masing orang memiliki kelebihan masing-masing.”

Sinau bareng membuat orang berkumpul dan mentadabburi segala hal dan peristiwa. Lewat cara seperti ini segala sifat yang ingin mengungguli orang lain jadi lebur. Proses bertemu dan berkumpul untuk sinau bareng telah melahirkan tiga dimensi, kata Kang Ali. Pertama, dimensi kegembiraan. Kedua, dimensi spiritualitas. Ketiga dimensi intelektualitas. Ketika kita datang sinau bareng di Gambang Syafaat atau di simpul-simpul lain, usahakan harus mendapatkan tiga dimensi itu. Atau setidak-setidaknya mendapatkan satu dari ketiga itu. Namun yang jelas, hampir pasti—atas izin Allah—sinau bareng selalu memberikan kegembiraan kepada setiap orang yang mengikutinya. Kegembiraan itu akan bernilai kosong kalau tidak menguatkan spiritualitas dan intelektualitas kita.

Secara wajar kegembiraan itu bisa melanjutkan kita untuk melakukan hal-hal yang baik bagi kita dan Allah. Namun kenyataannya, sifat manusia justru melakukan hal sebaliknya. Semisal lelakukan kejahatan tingkat kesulitannya berkali-kali lipat ketimbang saat melakukan kebaikan, kata Pak Ilyas. Setiap kita melakukan satu tindakan kejahatan, pasti membutuhkan satu kejahatan lain. Tetapi mengapa kita justru enggan melakukan yang baik sekaligus mudah itu? Tidak lain karena kita tidak bersandar pada Allah.

Hanya bersandar kepada Allah kita menjadi tenang. Sebab, sandaran yang paling kuat, kata Habib Anis, hanya Allah. ”Semua selain Allah tidak bisa dijadikan sandaran.”

Akhir-akhir ini tempat-tempat bersandar itu berwujud pada manusia yang terbatas pada durasi jabatan. Seorang penguasa yang tidak abadi kekuasaannya. Seorang penguasa yang membuat kita lupa bahwa ada yang lebih berkuasa di atas kita. Alangkah baiknya semua yang terjadi di Indonesia tetap kita sandarkan pada Allah. Kita melibatkan Allah untuk memberesi persoalan yang menimpa Indonesia. Polarisasi yang terjadi sekarang ini, bisa saja tidak terjadi kalau seandainya kita mau meletakkan sifat egoisme sembari menyadari bahwa tempat bersandar kita sama, yakni Allah.

Kegaduhan kampanye yang baru saja kita lewati, kata Habib Anis, membuat kita kebanjiran informasi, tetapi tidak kebanjiran ilmu. Bahkan orang-orang yang kita sangka berilmu secara tiba-tiba menjadi produsen informasi-informasi yang provokatif. Ini era ketika semua orang bisa melahirkan informasi sekaligus bisa sebagai konsumennya. Cara kita membentengi diri agar tidak terjermus di gelombang besar arus informasi yang tidak jelas itu, tidak lain, dengan menguatkan dan mengingat tempat kita bersandar.

Habib Anis berpesan,”Hidup Anda bisa berarti kalau Anda memberi nilai pada hidup Anda sendiri.” Sayangilah hidup kita yang sementara ini. Hanya dengan itu barangkali kita akan menyanyangi diri kita, sehingga tidak mudah merelakan diri kita terjebak pada persaingan kelompok atau pendukung dua kubu yang mengorbankan iman, kewarasan, akal sehat, dan lebih parah lagi persaudaraan. Jangan salah ambil sikap. Jangan salam ambil keputusan.

”Keputusan yang tepat dalam hidupmu adalah keputusan yag membuat hidupmu bermakna,” kata Mas Sabrang. Dan ingat, kata Mas Sabrang sekali lagi,”semua hidup mati, tapi tidak semua hidup bisa memberi arti.”

Dan di penghujung acara Letto memainkan musiknya. Lagu ”sampai nanti, sampai mati” dipilih sebagai pengakhir pertemuan. Di sela-sela bernyanyi Mas Sabrang mengatakan,”lagu-lagu Letto menghibur dengan makna, menghibur dengan nada.” Memang seharusnya demikian, musik tak sekadar pelipur lara atau sekada hiburan saja. Ia juga bisa berfungsi lebih dari itu. Tanggal 25 Mei 2019, orang-orang yang berkerumun dan duduk lesehan di depan Aula Masjid Baiturahman telah menyaksikannya.