Ada tingkat kepentingan yang biasanya dibebankan oleh manusia atas kegiatan puasa. Pertama, kepentingan duniawi. Kedua, kepentingan ukhrawi. Dan ketiga, kepentingan ilahiyah murni. (Mbah Nun)

Ini bisa jadi sebuah catatan ringan yang bisa kita elaborasi dalam bentuk perilaku kita dalam bermasyarakat, tentunya juga bukan hanya soal letak dan hakikat manusia pada konteks budaya dan perilaku beserta sistem nilai yang disusun pada kolektivitas, ada yang memandang dunia sebagai tujuan. Seluruh aktivitas pribadi, gerakan sosial, pengorganisasian kekuasaan dan kesejahteraan yaitu dengan mengandaikan bahwa dunia ini adalah wadah satu-satunya dari segala awal dan segala akhir.

Kepentingan pertama dalam tingkatan beban manusia atas kegiatan puasa adalah memosisikan puasa sebagai metode, cara atau persyaratan untuk memperoleh sesuatu yang bersifat duniawi. Jika kita manusia Jawa tradisional, sejak dari kakek nenek kita kenal dengan konsep prihatin, kata orang tua kita, kalau ingin bahagia nanti, ingin sukses , ingin jaya, ingin kaya dan berpangkat, terlebih dulu harus mau prihatin.

Prihatin dalam arti ini adalah salah satu bentuk perilaku sosial dalam kehidupan bermasyarakat baik individu yaitu bersikap mau menderita dengan cara puasa, bukan hanya untuk mendapatkan ilmu atau ngelmu, agar dukdheng sekti mandraguna. Mbah Nun sering memberi pengertian yang logis bahwa untuk berlatih menjadi manusia adalah untuk belajar melakukan hal yang tidak disukai tetapi baik, benar dan indah. Dan tidak melakukan hal yang disukai karena itu bisa jadi akan menghancurkan dan membawamu pada jurang keduniaan.

Dalam pengertian lain bahwa puasa adalah pekerjaan menahan di tengah kebiasaan menumpahkan, atau mengendalikan di tengah tradisi melampiaskan. Pada skala yang besar nanti kita bertemu dengan tesis ini : ekonomi-industri-konsumsi itu mengajak manusia untuk melampiaskan, sementara agama mengajak manusia untuk menahan dan mengendalikan. Keduanya bisa dibilang sebagai musuh besar dan akan berperang frontal jika masing-masing menjadi lembaga sejarah yang sama kuat. Namun hal ini bisa diatasi dengan sederhana jika memang kita sebagai muslim yang berpasrah diri sepenuh-penuhnya kepada Allah dan merindukan kualitas takwa dan tauhid yang tertinggi, pamrih kepentingan ukhrawi pun kita bisa atasi.

Yang ketiga adalah jenis kepentingan ilahiyah murni, sedemikan percayanya kita kepada Allah, sehingga kita pasrah dengan cara membebaskan diri dari segala cita-cita dan kerinduan kepada dunia maupun surga. Sebab yang sungguh-sungguh penting hanyalah Allah SWT.

Barangkali ini menjadi suatu jalan dengan menggunakan metode puasa dan ingin menekankan betapa pentingnya puasa bagi kesehatan dan keselamatan manusia. Yang menjadi pertanyaan untuk kita adalah bisakah kita bayangkan bahwa disuatu era kelak akan ada perbenturan yang lebih frontal bukan hanya soal pilpres tapi yang lebih mengakar adalah benturan pada tawaran konsumsinya, pada irama, pilihan nilai filosofi dan sikap batinnya.