Berpuisi tak mengajukan perumpamaan tentu citarasa bahasa yang dihasilkan menjadi kurang sedap. Perumpamaan sengaja dibuat demi menyampaikan penggambaran perihal apa yang penyair maksud secara tepat-rasa. Penyair memilih kata-kata perumpamaan berharap apa yang ia bayangkan-rasakan dalam sajaknya menemui ekspresi yang presisi. Penyair bukannya hendak melebih-lebihkan apa yang ia tulis. Perumpamaan justru memberi kesempatan kepada penyair untuk mencapai tekstase atas sajak-sajaknya.

Di puisi-puisi Cak Nun, kita bakal mendapati pelbagai perumpamaan, dari yang wajar hingga sensasional. Mabuk itu perumpamaan, tak melulu bermakna denotatif. Kata-kata itu mungkin terkesan jauh dari urusan spiritual dan religiusitas. Tetapi, lewat puisi, kata tersebut justru representatif untuk menjelaskan apa yang Cak Nun kehendaki dalam puisinya, bertalian dengan capaian spiritualitas. Dalam puisi Aku Mabuk Allah (2004:54), Cak Nun ingin mengimajinasikan capaian spiritual itu melalui perumpamaan mabuk: aku mabuk allah/ semata-mata allah/ segala-galanya allah/ tak bisa lain lagi/ aku mabuk allah/ lainnya tak berhak dimabuki/ lainnya palsu, lainnya tiada/ nyamuk tak nyamuk/ kalau tak mengabarkan allah/ langit tak langit/ kalau tak menandakan allah.

Jika kita tengok realitas yang ada, kata “mabuk” dalam keseharian selalu menandai satu keadaan di mana manusia berada di titik setengah kesadarannya. Mabuk bisa disebabkan karena menenggak minuman keras atau ketaksanggupan fisik saat menempuhi perjalanan di dalam kendaraan. Mabuk jelas bukan kondisi yang muncul dari keadaan normal. Selalu ada kausalitas peristiwa sebelum pada akhirnya manusia mengalami mabuk. Dalam konteks masyarakat sosial, adanya orang mabuk minuman keras, misalnya, tak bisa dimaknai sebagai satu penyakit sosial belaka. Bagi seorang petugas kamtibmas, mabuk adalah persoalan penyakit masyarakat. Pemabuk oleh kamtibmas seringkali dianggap pembikin onar belaka.

Tetapi, ada hal yang juga jarang dipahami publik terkait peristiwa mabuk. Bahwa pilihan untuk merasakan mabuk sebenarnya bertolak dari perasaan untuk lepas dari segala persoalan, segala yang mengerangkeng jiwa dan raga. Artinya, sebuah wilayah di mana di situ banyak ditemukan kaum pemabuk, di wilayah tersebut pulalah sebenarnya banyak dijumpai ada ketidakberesan, baik itu dari segi ekonomi, politik, maupun sosial, yang memaksa seseorang untuk lepas dari pelbagai persoalan dengan cara mabuk. Mabuk adalah upaya ekstrem untuk meninggalkan segala bentuk ketidakberesan itu. Karena realitas tak pernah memberi ruang pada manusia untuk lepas dari ketidakberesan, ia pun memilih “mabuk”, memasuki ruang “transenden”.

Dalam konteks puisi Cak Nun, kita mendapati adanya pemaknaan ulang atas mabuk ke arah dimensi spiritual. Pilihan frasa “mabuk allah” merepresentasikan upaya Cak Nun untuk meninggalkan pelbagai beban hidup yang kerap membuat manusia justru selalu terjebak dalam nalar-kesadaran material, kesadaran yang membuat kita selalu diberati hal-hal duniawi. “Mabuk”, dengan demikian, menjadi sesuatu yang tak teraih, jauh, dan tabu. Maka, pilihan untuk “mabuk allah” adalah pilihan berisiko yang berkonsekuensi manusia harus berani melompat dari dimensi logika normal pada umumnya. Seseorang hanya akan “mabuk” ketika dirinya berani memasuki tegangan antara puncak kenikmatan dan ambang kesadaran.

Nah, dalam puisi itu, “mabuk allah” adalah peristiwa ketika manusia memasuki dimensi transenden, melepaskan segala nalar kebendaaannya lalu memusatkan diri pada capaian kenikmatan spiritualitas. Sehingga, pada larik selanjutnya kita dapati frasa “lainnya tak berhak dimabuki/ lainnya palsu, lainnya tiada”—mabuk dalam frasa ini lalu bisa kita maknai sebagai capaian kenikmatan spiritual, dan karenanya di luar itu tak pantas untuk “dimabuki”. Cak Nun menghendaki manusia selalu berpikir untuk berada pada tegangan antara “kesadaran” dan “kenikmatan” spiritual, sehingga ia tak terus-menerus terbebani oleh ambisi dan nafsu keduniawian.

Hal serupa bisa kita jumpai dalam puisi Jangan Tolak Mabukku. Cak Nun menarasikan mabuk sebagai laku yang selalu memiliki konsekuensi. Ditulisnya, “Jangan tolak mabukku, ya Kekasih, sebab telah kubayar mahal dari diriku sendiri/ Beribu anak panah yang menancapi tubuhku/ tidaklah mengakibatkan apa-apa kecuali cinta mendidih. Dalam pengertiannya yang denotatif maupun konotatif, untuk bisa mabuk seseorang memang mesti “berkorban”. Ia harus sepenuhnya menguasai diri dan memusatkan diri pada nalar spiritualitasnya. Kita tahu bersama, mereka yang tak kuat menjaga keseimbangan saat dalam kondisi “mabuk” seringkali justru menjauh dari puncak dari kemabukan, yaitu kenikmatan.[]