Siapa bilang jamaah Maiyah bukan merupakan bagian dari ‘sobat ambyar’ yang sedang masyhur di kalangan para pemuda? Terbukti ketika Wakijo lan Sedulur mendendangkan dua lagu Didi Kempot pun seperti menunjukkan bahwa di dalam maiyah, ada ruang khusus yang memiliki ruang kemerdekaannya sendiri untuk menuangkan segala bentuk kebahagiaan. Di antara proses sinau bareng, wirid ataupun sholawat yang semuanya adalah manifestasi wujud dari prosesi dzikr atau ingat kepada Allah.

Pak Ilyas pun ingin membangunkan mental Garuda yang mungkin sedang ambyar untuk segera membangunkannya. Dengan segala perumpamaan atas ketidakselaran ataupun disharmoni cara pandang, khususnya tentang negara. “Garuda ini kan tugasnya nanti akan menolong saudaranya sendiri, yang kini sedang diinjak-injak dan kehilangan martabatnya!” kata Pak Ilyas. Dari apa yang disampaikan Pak Ilyas tersebut, terdapat dua subyek yaitu Garuda dan saudaranya. Berarti, tidak semua rakyat negeri ini sanggup memiliki mental Garuda. Garuda sejati yang tidak sedang mempersolek dirinya sendiri seolah-olah menjadi Garuda.

Nah, lantas apa yang mesti dilakukan apabila sudah mengetahui ada ketidakselarasan atau disharmoni cara pandang sebagai satu kesatuan yang sudah terikat dalam wadah yang bernama negara? Tentu saja hal ini tidak hanya membutuhkan proses rekonstruksi, akan tetapi membutuhkan hard-reset mengenai cara pandang tidak hanya mengenai negara. Namun, cara pandang tentang relasi hubungan seorang hamba dengan Tuhannya.

Yang namanya cara pandang pasti jika ditelusuri, error yang terjadi bukan apa yang terjadi di luar diri kita, namun sesungguhnya error tersebut ada di dalam diri kita. Hardware dan software tubuh kita mungkin terlalu banyak terjangkit virus kadunyan yang menciptakan hijab-hijab pandangan tanpa kita sadari. Dan untuk menempuh jalan ini, segala akibat seperti keterasingan ataupun kesunyian yang pada umumnya dialami para pejalan ini—karena perbedaan pandangan dengan mayoritas lingkungan—telah Simbah tulis dalam tajuk terakhir. Jika merasa menderita atau takut dianggap aneh bahkan gila, bisa langsung tekan tombol cancel dan segera kembalilah ke dalam lingkunganmu pada umumnya.

Tidak semua mampu menjadi Garuda yang sejati untuk menolong para saudara- saudaranya. Tidak semua mampu bertahan dalam keterasingan ataupun kesunyiaan dalam pelukan zaman yang serba modern dan canggih. Tidak semua mampu berpuasa untuk menahan segala amarah baik dalam bentuk lisan, tingkah laku, maupun akhlak. Tidak semuanya mampu cengengesan (ketawa-ketiwi) meski dalam ketidakjelasan hidup. “Urip ora cetho wani cengengesan terus!” begitu ungkap Dosen Ilyas.

MENANAMKAN ILMU HUDHURI

Setelah jeda sejenak yang diisi oleh Wakijo lan Sedulur dengan Sholawat Badar, jamaah diajak untuk mengingat kembali apa yang seharusnya dan memahami alur pembelajaran dengan mengenal batas-batas ruang yang mesti dikemas rapi agar makna yang diambil bisa mendekati keseimbangan. Malam hari itu, di Gambang Syafaat ada sebuah bonus atau mungkin bisa dibilang sebagai hikmah karena kedatangan dua Marja’ Maiyah sekaligus, yaitu Syeikh Nursamad Kamba dan Mbah Nun.

Mbah Nun mempersilahkan Syeikh Kamba untuk memberikan ilmunya terlebih dahulu. Namun sebelumnya, Mbah Nun menekankan bahwa beliau hadir di sini untuk belajar bersama, dari kita untuk kita. Kemudian Syeikh Kamba menambahkan bahwa meskipun secara akademik dan literatur Syeikh Kamba sudah menempuh pembelajaran selama 13 tahun di Mesir, tapi pada akhirnya Syeikh Kamba kembali belajar kembali kepada Mbah Nun.

Kemesraan ini pun sedikit kembali mengingatkan awal pertemuan beliau dengan Mbah Nun pada tahun 2001. Dalam pertemuan tersebut, ketertarikan mulai saling menemukan kesamaan ketika mulai membahas tentang tajalli karya Ibnu arabi yang menjadi bahasan pada pertemuan tersebut. Malam hari ini Syeikh Kamba ingin membahas hal tersebut. Perubahan banyak terjadi di maiyahan seperti mengalami fenomena recharge. Seolah- olah maiyah mampu membekali dirinya sendiri sehingga mampu menciptakan lingkungan yang damai.

“Makrifat adalah sebuah pembelajaran yang mampu mentransformasi sesuatu.” Kata Syeikh Kamba. “Ilmu yang terdapat di dalam maiyah adalah ilmu makrifat baik secara intelektual, psikis/kejiwaan, dan spiritual.” Lanjut beliau. Kata-kata beliau tersebut dinyatakan beliau bukan berarti tanpa dasar fakta apa pun. Menurut beliau ketika suatu agama mengikuti ajaran Rasulullah, syarat utamanya harus mencintai, harus dengan ridhlo, pun ketika melakukan ajaran agama sudah tidak ada lagi transaksional (mengharap imbalan atas apa yang telah dilakukan).

Kemudian beliau memberi contoh ketika anak Maiyah mendapat pertanyaan, “kamu tahu kenapa Allah ridhlo kepada dirimu?” Lantas anak maiyah mampu menjawab dengan tegas, “Tahu!” Beliau mengejar, “Kenapa” Anak maiyah menjawab, “karena aku ridhlo pada diriku sendiri.” Sebuah percakapan yang beliau contohkan tersebut menggambarkan betapa dalam bekal yang telah didapatkan dalam lingkungan maiyah.

Syeikh Kamba seolah tak henti-hentinya untuk kembali mengingatkan tentang lima fase jalan yang otentik dilalui oleh Rasulullah. Kedaulatan berpikir atau independensi, taskiyatun- nafs atau penyucian diri dari segala penyakit hati (dengki, iri hati, benci, curang), kebijaksanaan dan kearifan, amanah dan yang terakhir adalah muhabbah (cinta).

Untuk mempermudah memaknai salah satu dari lima jalan tersebut, kali ini Syeikh Kamba mencoba mengambil salah satu terminologi pertanyaan yang sering diajarkan oleh Mbah Nun. Mana yang lebih berharga? Melakukan yang wajib atau yang sunnah? Ketika jawaban sudah pasti diketahui dan lebih condong ke arah yang sunnah. Lantas mengapa yang sunnah lebih bernilai? Karena kita melakukannya tanpa disuruh, yang berarti kita telah melakukannya karena cinta.

Pernahkah kita sedikit membayangkan cintanya Allah? Bagaimana Allah mampu terus mencinta hamba-Nya sekalipun mendapatkan balasan yang mayoritas hamba-Nya hanya berbuat dusta ataupun ingkar? Cintanya Allah itu sendiri menurut Allah adalah cinta yang sejati. Sebuah cinta yang bertepuk sebelah tangan atas hamba-Nya dan tidak perlu merasa dimiliki oleh hamba-Nya. Dan cinta inilah merupakan salah satu pengetahuan dari ilmu hudhuri.

Hanya dengan ilmu hudhuri ini, manusia dapat bertransformasi merubah perilakunya. Transformasi perubahan perilaku inilah yang tampak pada jamaah Maiyah. Kita akan melihat ilmu itu menjadi sia-sia jika tidak mengubah apa pun. Namun, jika melihat pada fenomena yang selalu nampak dalam ruang sinau bareng, nampaknya ilmu tersebut sudah mampu diaplikasikan oleh semua yang terpayungi oleh Al-Mutahabbina Fillah.

Orang Maiyah itu menurut pemaknaan Syeikh Kamba tidaklah menderita, karena telah mengalami transformasi perspektif. Karena telah mengalami hudhuri yang didasari dengan penuh rasa cinta. Dan apa yang didapat dari penjelasan Syeikh Kamba, seorang Garuda sejati hendaknya menanamkan sifat hudhuri ini. Agar terhindar dari kepalsuan-kepalsuan untuk memperindah dirinya sendiri. Mempersolek segala bentuk kezaliman seolah-olah sedang berjuang demi sebuah bangsa dan negara.

Dan yang terakhir adalah menjaga cinta tersebut salah satunya dengan mengamalkan wirid. Mengapa kita mesti menerapkan wirid? Karena berfungsi untuk menjaga pikiran kita agar mampu istiqomah untuk selalu berpikir tentang kebaikan.

MENGKHUSYUKKAN CINTA

“Ridhlo itu terjemahan hudhuriah-nya itu adalah sehat. Jadi sehat adalah orang yang sedang berada dalam ridhlo yang sedang diberikan oleh Allah. “ Mbah Nun mencoba memberikan respons terhadap apa yang telah disampaikan oleh Syeikh Kamba. Sehat di sini tentu tidak berbatas pada kesadaran dhohir saja, melainkan sudah meliputi kesadaran batinnnya.

Untuk sedikit lebih mendalami pemaknaan akan ridhlo tersebut, Mbah Nun menjelaskan bahwa apa yang dimaksud dengan ridhlo itu bukan berarti bermakna menyetujui. Ridhlo terlepas dari permasalahan setuju atau tidak setuju. Karena esok yang mendapat panggilan adalah Yaa Ayattuhan-nafsu muthma’innah. Wahai jiwa yang tenang. Dimana makna akan tenang itu sendiri belum mampu mendeskripsikan makna dari muthma’innah.

“Lantas bagaimana tanda orang yang muthma’innah?” Menurut Mbah Nun jawabannya adalah dengan belajar lagi tentang ridhlo. Karena dalam ayat selanjutnya jelas Allah bersabda irji’ii ilaa rabbiki radhiyatan mardhiyyah. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridhlo dan diridhloiNya. Kalau mengibaratkan dengan huruf, bisa mengambil transformasi dari ‘alif (١) yang radikal, menjadi ra’ (ر), kemudian bagaimana mampu menjadi pengasuh dalam wajud ba’ (ب).

“Saya khawatir orang maiyah iku dianggap gendheng (gila) karena telah mampu mengambil jarak nilai terhadap lingkungan sekitarnya.” Ungkap Mbah Nun.”Dan itu membahayakan kalau anda tidak siap.” Lanjut beliau sedikit mengkhawatirkan situasi yang berada dalam setiap insan yang bersinggungan dengan maiyah. Mbah Nun menggambarkan disaat lingkungan sekitarmu tertawa, kita malah terdiam. Dan ketika mereka sedang terdiam dan menganggap tidak ada yang lucu, justru kita tertawa sendiri.

Akan tetapi, ketika Mbah Nun langsung menanyakan hal tersebut kepada jamaah yang hadir dalam Gambang Syafaat malam itu. Serentak menjawab dengan tegas dan mantab, “BAHAGIAAAA…” Kekhawatiran Mbah Nun yang seolah telah tertulis dalam tajuk “Menderita Karena Maiyah” nampak seperti sebuah penegasan cinta dan keikhlasan antar semua insan yang terlibat dalam maiyah.

Untuk mengetahui ridhlo tidaknya seorang hamba, Mbah Nun memberikan contoh keadaan khusyu’ ketika sholat. Sebagai jamaah, kita bisa memanggilNya sebagai Dia. Ketika sholat, segala makna Tuhan berganti menjadi Engkau seolah sedang melakukan komunikasi langsung. Dan ketika dalam kekhusyukan, kita bisa menyeru-Nya dengan
“Aku”. Tapi Mbah Nun berpesan untuk berhati-hati memaknai tentang penjabaran tersebut nanti bisa dikira sebagai penganut ajaran Syekh Siti Jennar. Padahal itu adalah suatu metode Sunan Kalijaga agar mengetahui batasan akal pikiran kita masing-masing.

Acara pun terus berlangsung dengan tanya jawab antara jamaah dengan Mbah Nun ataupun Syeikh Kamba hingga tak terasa waktu telah menunjukkan sekitar pukul 03.00. “Kita kalau tidak melakukan sesuatu bukan karena cinta terus karena apa?“ Kata Mbah Nun. Nampaknya Garuda-garuda yang sedang terbaring itu pun sedang mentransformasi cintanya untuk segera menolong saudara-saudaranya. Acara pun dipungkasi dengan doa, yang dipimpin oleh Syeikh Kamba.