Setiap tanggal 25 adalah tanggal yang istimewa bagi jamaah Maiyah wilayah Semarang dan sekitarnya. Istimewa dalam arti luas bagi jamaah Maiyah bisa menjalin silaturahmi, sesrawungan dan menyambung persaudaraan dengan sedulur-sedulur Maiyah di Gambang Syafaat setiap bulannya. Saling jabat erat adalah sebuah kebahagiaan tersendiri bagi saya dengan sedulur-sedulur Maiyah di wilayah Semarang dan sekitarnya. Semua terjadi bukan karena ada rencana sebelumnya, namun memang kita ikhlas dipertemukan satu sama lain. Tidak ada paksaan untuk selalu berupaya menjadi tempat yang nyaman bagi semua, namun kenyamanan itu terwujud dengan sendirinya.

Para penggiat Gambang Syafaat selalu menebarkan kegembiraan demi kegembiraan sendiri-sendiri setiap bulannya. Mereka datang dari berbagai latar belakang. Ada yang bekerja di fakultas, kantor, buruh dan ada juga yang produksi berbagai macam kebutuhan sehari-hari buat masyarakat disekitarnya. Dan ada lagi salah satu kelompok musik karena Gambang Syafaat mereka terlahir sebagai kelompok musik, yaitu Wakijo Lan Sedulur. Berbagai keunikan dan keberkahan sering terjadi di Gambang Syafaat, entah itu dari penggiatnya sendiri, jamaah hingga para pengisi setiap bulannya. Yang jelas mereka semua datang selain mencari keberkahan, mereka selalu menjadikan forum Gambang Syafaat sebagai tempat silaturahmi dan bermuwajahah antar sesama mahkluk ciptaan Allah.

Salah satu yang terlihat wujud keberkahan dari Gambang Syafaat adalah terbentuk kelompok Musik Wakijo Lan Sedulur. Mereka memang terlahir karena dipertemukan di Gambang Syafaat. Dahulu sebelum menjadi kelompok musik, mereka juga menjadi jamaah Maiyah saat Sinau Bareng ataupun di Gambang Syafaat sendiri. Karya-karya lagunya tidak kalah dengan grup band papan atas. Selain mereka ramah dan baik, mereka juga selalu mengisi setiap tanggal 25 di Gambang Syafaat. Keikhlasan mereka patut dijadikan contoh.

Di kalangan jamaah Maiyah di berbagai kota, nama kelompok musik Wakijo Lan Sedulur sudah tidak asing lagi. Kelompok musik ini terbilang unik. Baik dari segi pemilihan nama, konsep, lirik, maupun idealisme bermusik. Mereka bermusik secara alami dan merdeka, tanpa harus terikat dengan industri musik yang dikendalikan keinginan pasar. Tidak mengenal genre, bahkan sulit didefinisikan. Sebab, kelompok ini mengusung konsep musik pelayanan. Mereka bisa saja sholawatan dengan aransemen musik kekinian, tetapi juga tampil sebagai band profesional dengan produktivitas lagu karya sendiri. Menempatkan musik sebagai media yang luas untuk menuangkan gagasan reliji seputar kehidupan manusia dengan manusia, alam, dan Tuhan.

Dalam komposisi dua personel, mereka sempat melahirkan singgel pertama berjudul “Mencari Kehadiran”. Lagu tersebut mencuplik kisah “suluk”, yakni menempuh jalan spiritual menuju Tuhan. Klip pertama diluncurkan pada November 2017. Pembuatannya dilakukan di daerah Wonosobo. Tepatnya di sebuah bukit di kaki Gunung Sindoro-Sumbing, Desa Kapencar, kampung kelahiran Wakijo. Mereka berkumpul dari forum Maiyah Gambang Syafaat. Rutin mengisi Maiyah Gambang Syafaat setiap tanggal 25 setiap bulan di Baiturrahman. Untuk harmonisasi bermusik.

Menurut Azis sang gitaris, Wakijo Lan Sedulur berbeda dengan band biasa yang cenderung mencari panggung berbasis event musik, konser dan lain-lain. Sedangkan cara pandang Wakijo Lan Sedulur adalah musik sebagai pelayanan dan tidak mengutamakan kepentingan pribadi, juga tidak mengikuti industri musik. Tidak mengklasifikasi genre. Penyajian musik bisa luas dan masuk di ruang-ruang tradisi dan budaya masyarakat secara universal. Mereka merasa satu frekuensi tentang musik. Bermusik bagi mereka juga bukan menjadi pekerjaan utama. Sebab para personel memiliki pekerjaan masing-masing. Mereka menempatkan musik sebagai media. Kalau petani berbicara dengan media ladang dan sawah, maka kami berbicara melalui musik, ungkapnya.

Kelompok musik Wakijo Lan Sedulur memiliki hubungan kedekatannya dengan vokalis grup band Letto. Kadang mereka berkolaborasi dengan Mas Sabrang vokalis Letto saat Sinau Bareng di berbagai tempat. Selain vokalisnya memiliki suara yang khas, para personil lainnya juga memiliki keahlian dibidang musik dan pekerjaannya masing-masing. Banyak simpul Maiyah yang sudah dihadiri oleh kelompok Musik Wakijo Lan Sedulur, seperti PadhangMbulan, Kenduri Cinta, BangbangWetan, Juguran Syafaat, Gugur Gunung, Suluk Surakartan, Semak Kudus, Kalijagan Demak, Suluk Badran, Suluk Maleman Pati dan masih ada lagi yang tidak saya ketahui.

Mereka selalu mensyukuri persaudaraan Maiyah ini, tidak hanya di Gambang Syafaat, namun dimana pun berada. Cobalah kalau anda jamaah Maiyah, sesekali menyambangi simpul-simpul Maiyah di berbagai tempat. Rasakan keakraban, kehangatan dan kegembiraan yang terjalin. Sudahkah kita mengalami kejadian-kejadian kita alami saat mengikuti Maiyahan. Memang Maiyah selalu menebarkan keindahan, kebenaran dan kebaikan di sekelilingnya setiap waktu. Saya selalu mencatat peristiwa dan kejadian saat Maiyahan ataupun sesudah Maiyahan. Mbah Nun juga pernah berpesan, apa pun yang terjadi di Maiyah itu adalah karya Allah bukan karya Mbah Nun, semua peristiwa dan kejadian itu kehendak Allah.

Begitu juga dengan kelompok musik Wakijo Lan Sedulur, mereka terbentuk atas kehendak Allah. Karena mereka terlahir dari Gambang Syafaat. Mereka bertahun-tahun menjalani kehidupan yang sederhana. Saya pernah mendengar, katanya Wakijo Lan Sedukur pernah ditawari untuk masuk Indonesia Idol, tapi mereka menolaknya. Alasan mereka hanya ingin selalu srawung dengan sedulur-sedulur Maiyah dan tidak ingin terkenal.

Selain itu, mereka juga sering diminta mengisi musik di acara forum diskusi remaja kampung hingga kampus. Biasanya kami membawakan karya sendiri sekitar 5-6 lagu. Selain itu ada sholawatan versi aransemen mereka sendiri. Dalam beberapa bulan terakhir ini Wakijo Lan Sedulur meluncurkan singgel terbaru yang berjudul “Mari Pulang”. Dalam kesempatan saat meluncurkan lagu itu mereka membuat video klip berkerja sama dengan salah satu rekannya yang pernah juga terlibat tim dokumentasi di Gambang Syafaat.

Selain mengusung musik sebagai bentuk pelayanan, mereka juga memosisikan musik sebagai sarana untuk sesrawungan dan menambah saudara dimana pun berada. Mereka terbilang sudah beberapa kali pentas dalam setahun cukup membuat para personil tidak ingin mencari relasi untuk pentas ke berbagai daerah-daerah seperti band-band lainnya. Mereka mengalir apa adanya, kalau tidak ada jadwal pentas, mereka tidak akan mencari relasi agar bisa pentas. Maka dari itu mereka belajar banyak sekali kepada Gambang Syafaat yang telah mempertemukan rekan-rekannya kemudian mereka mempunyai ide untuk membentuk sebuah kelompok musik hingga saat ini.

Wonogiri, 24 Desember 2019