Pemikiran Cak Nun dan lontaran pernyataannya kerap memancing orang-orang menulis surat terbuka. Surat terbuka itu berisi tanggapan atas pemikiran Cak Nun atau pernyataan Cak Nun. Orang-orang yang tidak menyetujui pernyataan Cak Nun menuliskan dengan gamblang beberapa bagian yang tidak disetujui, lalu ia membeberkan alasan ketidaksetujuannya. Beberapa surat terbuka yang dimuat di media cetak itu sebagian merekam peristiwa kecil yang dialami Cak Nun. Seperti halnya surat terbuka yang dimuat Panji Masyarat edisi 11 Desember 1983 berikut ini.

Surat terbuka ini ditulis oleh orang yang tidak setuju dengan pernyataan Cak Nun atas ketidakhadirannya di Forum Puisi Indonesia 83. Si Penulis Surat Terbuka mengakui bahwa di acara tersebut—di antara penyair yang tampil—sosok Cak Nun adalah orang yang ingin ia temui. Namun, keinginan itu menimbulkan kecewa, sebab Cak Nun batal hadir dan bayang-bayang bertemu Cak Nun pun kandas. Yang lebih menyedihkan, lewat berita di koran, alasan Cak Nun tidak hadir membuat hati Si Penulis Surat Terbuka ini dongkol. Cak Nun mengatakan—sebagaimana pernyataannya yang dikutip koran Merdeka saat itu—alasan ketidakhadirannya karena seolah-olah dia ditempatkan sebagai orang baru. Padahal, kata Cak Nun, ia bersama Hamid Jabbar, Adri Darmaji, Linus sudah diundang oleh TIM sejak awal 1970-an. ”Lho kok aneh! Tiba-tiba kami ditampilkan sebagai penyair baru yang nampak di tahun 80-an. Eh, tiba-tiba disuruh tampil sebagai bayi yang baru lahir (grs. Bawah dari pen-). Ah barangkali karya kami dianggap kurang bermutu,” katanya.

Si Penulis Surat Terbuka menganggap,”Dari ucapan itu, mungkin kita dapat merasakan adanya sikap yang ingin lebih eksist, perasaan lebih mapan. Atau kongritnya, ada sikap yang tidak disejajarkan dengan penyair yang lebih muda alias baru muncul (th.80).” Singkat cerita, Si Penulis Surat Terbuka menganggap alasan ketidakhadiran Cak Nun yang ia lontarkan ke wartawan tidak etis. Sehingga Si Penulis Surat Terbuka perlu mengingatkan agar Cak Nun tidak mengulangi tindakan-tindakan yang tidak disetujuinya.

Kejadian seperti ini memang tidak hanya sekali. Pernyataan-pernyataan Cak Nun yang menjadi berita di koran atau majalah pun gampang membuat orang terpancing membuat sanggahan. Barangkali mereka memiliki rasa cinta yang begitu besar kepada Cak Nun, sehingga mengharuskan Cak Nun melakukan apa yang sesuai kehendak dirinya. Apabila ada beberapa sikap Cak Nun yang tidak sesuai keinginannya, maka ia perlu mengingatkan Cak Nun agar sesuai dengan apa yang dipikirkannya. Dan seolah-olah Cak Nun mesti harus berpikir dan menjadi apa yang diinginkannya.

Hal itu juga berlaku pada zaman sekarang. Ceramah-ceramah Cak Nun di youtube dipotong-potong dan dicari yang sesuai kepentingan kelompok tertentu. Seolah-olah dalam video ceramah yang dipotong-potong itu, Cak Nun sedang berada di kelompok U dan sedang menyerang kelompok T. Padahal Cak Nun sering menegaskan bahwa ia tidak mau menjadi A untuk memusuhi B. Ia merangkul siapa saja dan tidak menghendaki permusuhan berlatar kelompok agama, golongan politik, dan yang lainnya. Beberapa video kerap mengundang kritik di media sosial dan tidak jarang juga disertai hujatan bernada merendahkan.
Setelah ceramah-ceramahnya kerap dimanfaatkan beberapa pihak yang sekadar mengambil keuntungan. Juga rentan memicu kontroversi. Apa yang dilakukan Cak Nun? Ia sama sekali tidak terganggu dengan itu semua. Ia masih berkeliling dengan KiaiKanjeng dan mengajak orang-orang di pelbagai tempat sinau bareng. Kritik dan hujatan tak membuat Cak Nun kendor. Ia menyilakan kritik terhadapnya datang terus-menerus. Dan Ia tetap berpegang teguh dengan pemikirannya. Meski pemikirannya kerap mendapat kritik dari pelbagai pihak.

Di surat terbuka ini, kita jadi tahu pengalaman Cak Nun menerima surat terbuka atau kritik terbuka sudah terjadi saat ia masih muda. Ia yang kini memasuki usia sepuh tentu sudah sangat kenyang dengan pelbagai macam kritik dari orang-orang yang tidak menyetujui pemikirannya. Barangkali di saat-saat seperti ini, pelbagai kritik dan hujatan di media sosial sedang ramai ditujukan padanya. Kita bisa membayangkan Cak Nun tetap santai saja menanggapinya, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Mungkin dalam hati ia berkata,”Wis tau.”