Di tempat peminjaman dan penjualan buku, nama Emha Ainun Nadjib tidak asing bagi para penjaganya. Bagi penjaga perpustakaan, nama ini mengingatkannya pada nama penulis puluhan buku yang bukunya kerap dipinjam dan dibaca. Bagi penjaga toko buku, nama ini adalah nama penulis buku yang bukunya kerap dicari dan dibeli. Nama Emha Ainun Nadjib mudah kita temui di tempat-tempat buku semudah kita menemukan indomaret di pinggir jalan. Total bukunya ada puluhan. Terus cetak ulang dari tahun ke tahun. Dan, selalu menjumpai pembaca baru dari generasi yang berbeda.

Setelah esai, puisi, cerpen yang terserak di pelbagai surat kabar dan majalah tersusun dalam judul-judul buku. Pembaca buku Cak Nun atau pengkaji pemikiran Cak Nun termudahkan dengan penerbitan kumpulan tulisan Cak Nun. Dari tahun ke tahun, judul buku kerap cetak ulang dengan kover yang berganti-ganti. Karya-karya yang ditulis belasan atau mungkin puluhan tahun yang lalu masih bisa dibaca oleh pembaca-pembaca sekarang. Seolah tulisan-tulisan yang terkumpul di buku tersebut baru ditulis kemarin pagi sebelum buku itu terbit.

Saya kira penjaga perpustakaan atau toko buku mengakrabi nama Emha Ainun Nadjib setelah nama ini dikenal sebagai penulis buku. Ternyata perkiraan saya keliru. Penjaga perpustakaan atau penjaga-pemilik toko buku (di sekitar daerah Malioboro) sudah mengakrabi nama ini jauh sebelum orang-orang mengenalnya sebagai penulis. Barangkali saat nama ini begitu sering mengisi kolom-kolom di surat kabar atau majalah nasional. Saat tulisannya masih dimuat di kolom media cetak, sebelum terkumpul di buku.

Mereka mengakrabi nama ini sebagai pengunjung rutin (bagi penjaga perpustakaan) atau sebagai langganan tetap (bagi penjaga-pemilik toko buku) kios mereka. Penjaga Perpustakaan Kolsani, Pak Slamet, adalah saksi dari keseringan Cak Nun sebagai pengunjung perpustakaan. Ia ingat betul nama-nama pengunjung yang rutin ke perpustakaan tersebut. Ia bisa mengabsen beberapa nama yang dulu pernah rajin berkunjung ke perpustakaan ini untuk numpang membaca atau meminjam buku. Bahkan, beliau juga masih ingat para pengunjung yang sering datang ke Kolsani puluhan tahun yang lalu. Mulai dari Anies Baswedan sampai yang Pak Slamet ingat adalah Emha Ainun Nadjib.

Kisah itu beliau tuturkan kepada saya. Saat saya dan penulis cerita anak dari Boyolali Setyaningsih ngobrol singkat di beranda perpustakaan Kolsani. Nama terakhir yang disebutkan Pak Slamet itu lantas membuatku tertahan sejenak untuk mengorek lebih dalam kisahnya.

”Berarti dulu Cak Nun sregep ke sini ya Pak?” tanya saya ke dia.

”Iya, sering Mas. Dulu dia [Cak Nun] tidak seperti sekarang. Dulu masih berambut gondrong dan berkumis tebal. Masih jadi penyair jalanan di Malioboro sana,” jawabnya sambil telunjuknya mengarah ke arah Malioboro.

Informasi Cak Nun yang berambut gondrong dan berkumis tebal bisa sejenak kita tepikan. Informasi itu memang bisa kita lihat di foto-fotonya yang bersanding dengan tulisannya di kolom-kolom majalah. Namun, ceritanya sebagai pengunjung rutin perpustakaan tidak banyak yang tahu, setidaknya bagi saya. Saya memilih memercayai kisah Pak Slamet tentang Cak Nun sebagai pengunjung rutin perpustakaan Kolsani meski tidak ada foto atau bukti di buku tamu kedatangan Cak Nun di sana. Saya percaya Pak Slamet tidak sedang berbual tentang kisah ini.

Dan, saya kira perihal Cak Nun kerap mengunjungi perpustakaan adalah kebenaran. Sebab, beliau juga rajin dolan ke toko buku. Esai Muhidin M Dahlan berjudul ”Bu Afni: ”Dari Social Agency ke Buku Bangkit” (2008) menjadi bukti kebenaran informasi ini. ”Dari Bu Afni,” kata Muhidin,”saya tahu bahwa Emha Ainun Nadjib semasa masih menjadi penyair jalanan dan belum sesukses sekarang adalah pelanggan utama kios ini.”

Dua cuplikan itu bisa kita anggap sebagai informasi remeh sekadar mengabarkan bahwa dulu Cak Nun adalah pengunjug perpustakaan yang tekun dan pelanggan utama sebuah toko buku. Namun, bisa juga kita menganggap informasi kecil ini sangat penting. Sebab, potongan kisah Cak Nun sebagai pengunjung perpustakaan dan pelanggan buku bisa menguak sedikit rahasia di balik produktivitas Cak Nun sebagai penulis. Dan juga keproduktifan itu tidak mengurangi kualitas tulisan dan menyurutkan jumlah pembaca tulisannya. Konon, kehadiran tulisan Cak Nun di kolom sebuah majalah menjadi jaminan majalah itu bakal dicari banyak orang untuk dibaca. Maka dari itu, pelbagai surat kabar atau majalah beramai-ramai ”melamar” Cak Nun untuk menulis di majalah mereka. Kehadiran satu tulisan Cak Nun di media cetak bisa membuat majalah itu bertemu banyak pembaca.

Tentu ada sebuah usaha keras dan panjang yang dilakukan Cak Nun agar bisa menjadi penulis produktif yang memiliki banyak pembaca. Usaha itu bisa juga, satu di antaranya, adalah ketekunan ke perpustakaan untuk meminjam atau membaca buku di perpustakaan dan ke toko buku untuk membeli buku yang pantas dimiliki. Kita bisa saja berpikiran buruk bahwa kepergian Cak Nun ke dua tempat itu barangkali sekadar menengok tulisan-tulisannya sudah dimuat di majalah yang barusan ia kirimi tulisan. Dugaan ini ada benarnya juga. Sebab, kelaziman penulis-penulis yang tumbuh di kultur media cetak adalah rajin ke loper koran untuk mengecek tulisannya yang dimuat.

Cak Nun bisa juga termasuk menjadi bagian penulis-penulis seperti itu. Dan, kita tidak tahu pastinya apa yang dilakukan Cak Nun di perpustakaan dan di toko buku. Mereka, para penjaga perpustakaan dan penjaga kios buku, telanjur mengingat bahwa Cak Nun adalah barisan nama yang sering berkunjung menemui, mencari, dan membaca buku-buku yang Cak Nun cari dan yang mereka tawarkan.

Peristiwa itu membuat nama Cak Nun tidak asing bagi penjaga perpustakaan dan penjaga-pemilik toko buku. Pemilik Social Agency dan penerbit Pustaka Pelajar Masud Chasan juga pernah menceritakan bahwa Cak Nun termasuk barisan orang langka yang masih mencari majalah sastra Horizon di kiosnya. Peristiwa itu terjadi pada 1980-an, pembaca dan pemburu majalah Horizon terus menyusut. Hanya Korie Layu Rampan, Ragil Suwarna Pragolapati, Simon HT, dan Cak Nun saja yang tersisa (Adhe, 2016). Ini menandakan bahwa Cak Nun bersama teman-teman sastrawan lainnya juga pembaca Horizon yang tak lekang zaman.

Wajar saja sebelum nama penjaga perpustakaan atau pedagang buku sekarang mengakrabi nama Emha Ainun Nadjib sebagai penulis. Berpuluh-puluh tahun lalu, penjaga perpustakaan dan pegadang buku sekitar Malioboro sudah mengakrabi nama ini sebagai pengunjung perpustakaan, pelanggan di toko buku, dan pemburu majalah sastra Horizon.