Pembacaan Wirid Akhir Zaman yang telah dibuat oleh Mbah Nun mengawali kegiatan pembuka Gambang Syafaat edisi 25 Oktober 2019. Jamaah dibagi menjadi tiga kelompok oleh pembawa acara. Masing-masing bertanggung jawab atas bagiannya sendiri membaca bagian yang didapatkan. Wirid Akhir Zaman yang belum lama ini dihimbau oleh Mbah Nun agar dibaca setiap kegiatan sinau bareng di semua simpul Maiyah Nusantara, berisi perpaduan antara kalimat-kalimat toyibah dan ayat-ayat suci Al Qur’an.

“Pseudo Garuda” menjadi tema yang diangkat dalam edisi kali ini. Pamflet dengan background warna merah menyala. Siluet figur menggunakan helm berbentuk paruh garuda cukup memberi gambaran tentang tema. Pseudo termasuk kata asing yang jarang digunakan. Bisa diartikan sebagai bayangan atau tipuan atau kepura-puraan atau kepalsuan.

Garuda dipandang sebagai simbol negara Indonesia. Sosok hewan yang dianggap sebagai raja burung penguasa langit yang berjiwa kesatria. Akan tetapi beberapa tahun terakhir, Indonesia sudah tidak lagi terlihat seperti garuda sejati. Fenomena-fenomena yang belakangan ini terjadi semakin menjelaskan banyak kepalsuan di Indonesia.

Gus Aniq dengan penampilan yang cukup berbeda, menggunakan blangkon khas Jawa memberi pendapat awal. Beliau mencontohkan berbagai kepalsuan yang sudah ada sejak zaman nabi. Semua penjelasannya berujung pada pembahasan sila pancasila. Lima sila yang berisi ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan dinilai belum asli.

Masyarakat belum benar-benar menerapkannya dalam kehidupan. Sila pertama sampai kelima saling terkait. Jika satu sila terputus atau gagal diterapkan maka akan berimbas pada sila-sila lain. Mayoritas penduduk Indonesia belum bisa mencapai keadilan, artinya belum bisa menerapkan kerakyatan. Jika belum bisa menemukan kerakyatan artinya ada masalah pada persatuan. Persatuan gagal diraih berarti ada yang salah dengan kemanusiaan. Puncaknya, jika kemanusiaan tidak pernah ditemukan maka belum ada kesadaran untuk berketuhanan. “Indonesia seperti garuda yang hilang kebebasannya.”

Pak Saratri mengungkapkan bahwa negara ini bagaikan burung garuda yang sedang diupayakan untuk dicabut bulunya satu demi satu. Hingga pada suatu hari akan benar-benar kehilangan semua bulunya dan tidak lagi mampu terbang.

Negara penuh keberagaman ini sudah mulai kehilangan daya pikatnya. Dulu Indonesia memiliki kiblat sendiri dalam pengembangan diri di semua lini. Jati dirinya masih sangat kuat untuk diakui. Sekarang namanya tidak lagi garang. Indonesia secara sadar melemahkan dirinya sendiri.

Negara dengan penduduk terbanyak nomor empat ini telah kehilangan kepercayaan diri. Kiblatnya mulai kabur dan menjadikan apa pun sebagai panutan meskipun sebenarnya tidak cocok. Beliau mencontohkan bagaimana nama-nama orang khas Indonesia tidak lagi familiar. Nama seperti Bejo, Sutarto, Sudaryono, Parmin, atau Tukijah sudah dianggap tidak berkelas. Pilihan nama barat seperti Leonard, Freddy, atau mungkin Angelo menjadi pilihan yang lebih menggairahkan. Nama toko atau swalayan skala kecil sampai besar juga sama. Nama-nama bernuansa bule sering dipakai demi menambah kesan ‘wah’ untuk mempengaruhi konsumen.

Sangkar emas tetap sangkar. Tidak memberi kebebasan bagi burung yang ada di dalamnya. Kemewahan di sekeliling kita hanya fatamorgana. Mayoritas bukan milik bangsa tapi milik asing. Banyak lini yang sudah dikuasai asing. Produk minuman dan makanan yang beredar di dalam negeri kebanyakan dijalankan oleh pihak luar. Masyarakat kelas menengah ke bawah hanya sering menjadi penonton.

“Seperti apa sosok garuda?” Tanya Pak Ilyas kepada jamaah. Semua saling pandang. “Dipercaya jika nantinya garuda akan menolong saudaranya yang sedang ditindas,” imbuh beliau.

Tidak bisa dipungkiri bahwa mayoritas masyarakat Indonesia sebenarnya belum paham tentang simbol negaranya. Burung garuda yang dinilai sebagai burug besar gagah dan kuat nyatanya tidak melekat pada kepribadian masyarakat saat ini. Jika tidak mengerti sosok garuda, maka tidak akan mampu mengerti bentuk kebangkitan yang harus diperjuangkan.

Pak Ilyas bercerita kelebihan orang-orang Indonesia dengan balutan canda tawa. Hanya di Indonesia ada suporter bola berani naik tiang lampu stadion tanpa pengaman. Hanya di Indonesia ada petani yang memanjat pohon kelapa belasan meter tingginya tanpa bantuan alat. Hanya di Indonesia ada tradisi-tradisi daerah yang tidak bisa dijangkau nalar manusia seperti adegan pemain kuda lumping memakan pecahan kaca.

Sayangnya masyarakat sudah tercemari pikirannya. Menilai milik sendiri sebagai sesuatu yang rendahan, tidak berharga dan tidak layak dibanggakan. Ada contoh kecil dari Pak Ilyas. Jika ada pepaya besar dan manis maka akan dikatakan sebagai pepaya Thailand. Jika buahnya kecil dan tidak enak maka identik dengan pepaya lokal.

Masyarakat kita lebih tertarik dengan barang-barang berbau luar negeri. Seandainya masyarakat Indonesia masih belum paham dan tidak mau menerima bentuk sejatinya yaitu burung garuda. Bisa dipastikan masyarakat akan terus menjalani kehidupan dengan bentuk lain seperti burung emprit.

Malam semakin indah dengan kehadiran dua Marja’ Maiyah yang sudah sangat dirindukan dan diharapkan kehadirannya. Dua pria yang mengenakan pakaian putih bersih berjalan dan duduk di depan jamaah. Usia mereka memang tak lagi muda namun semangat untuk berbagi ilmu dengan cinta untuk jamaah maiyah tak perlu diragukan. Mbah Nun dan Syeikh Nursamad Kamba.

Syeikh Kamba tanpa sungkan memenuhi permintaan pembawa acara untuk berbagi ilmu pada jamaah Gambang Syafaat. Beliau berdiri untuk memuaskan mata jamaah yang ingin memandang secara langsung. Ratusan bahkan ribuan jamaah yang memenuhi area masjid terlihat begitu antusias.

Banyak sekali ilmu yang disampaikan Syeikh Kamba. Maiyah menjadi salah satu topik yang disampaikan. Beliau menjelaskan bahwa selama ini Maiyah selalu berupaya untuk menjalankan lima prinsip dalam kegiatan. Syeikh menyebutnya sebagai jalan kenabian.

Pertama, independensi, diartikan sebagi upaya netral, tidak memihak atau berpihak pada siapapun dan lepas dari semua pengaruh di sekitar. Kedua, penyucian jiwa. Ketiga, kearifan dan kebijaksanaan. Keempat, amanah, kejujuran dan tanggung jawab. Kelima, cinta. Jamaah Maiyah diharapkan untuk tetap istiqamah menjalankan lima prinsip tersebut dalam kehidupan di masyarakat.

Syeikh Kamba juga menyampaikan sedikit tentang perbedaan beliau dengan Mbah Nun dalam menerima ilmu dari Allah. Kaitannya dengan hudhuri dan hushuli.

Kurang lebih, jika hudhuri merupakan kebenaran yang datangnya tanpa perantara. Kebenaran itu datang begitu saja tanpa melalui proses konsepsi yang melibatkan pikiran dan yang lain. Syeikh mencontohkan salah satu proses hudhuri hadir ketika jamaah Maiyah melakukan wirid shohibu baiti, kemudian ada perasaan berbeda dan membuat jamaah lebih baik. Tanpa mengetahui makna dari setiap kata-katanya, tetapi jamaah bisa merasakan kebaikan dari wirid shohibu baiti tersebut.

Sementara hushuli kebalikannya. Hushuli proses kebenaran yang datang pada diri manusia melalui perantara. Bisa berupa pemahaman konsepsi tentang sesuatu hingga akhirnya manusia mendapatkan suatu pengetahuan atau kebenaran. Syeik Kamba mengatakan jika beliau cenderung melalui proses hushuli dalam mendapatkan kebenaran dan kebaikan dan Mbah Nun cenderung melalui proses hudhuri. Beliau menambahkan lagi jika kebenaran yang diperoleh dari proses hudhuri presentase kekeliruannya lebih kecil dibanding hushuli.

Wirid Akhir Zaman atau yang lain punya fungsi untuk manusia. Pembacaan wirid berguna untuk menjaga konsistensi manusia dalam berbuat baik. Satu pesan penting dari beliau, Tuhan harus direfleksikan dengan cinta dan kasih bukan hanya melalui perkataan.

Mbah Nun menyambung penyampaian panjang Syeikh Kamba dengan menjelaskan ridhlo. Menurut beliau, ridhlo tidak sama dengan setuju. Seseorang bisa jadi ridhlo terhadap sesuatu meskipun dia tidak setuju. Jamaah Maiyah sering dihimbau untuk ridhlo atas apa saja yang dikehendaki Allah. Semua hal yang dianggap buruk dan sebenarnya tidak setuju di hati tetap diupayakan untuk ridhlo. Mbah Nun mengucapkan, “Daripada menunggu ridha Allah, lebih baik meridhloi semua ketentuan Allah.

Di samping itu, anak-anak Maiyah selalu diingatkan untuk dapat melakukan pengukuran dan filterisasi informasi atau masalah yang datang pada dirinya. Ada yang hanya perlu diletakkan sampai tangan, ada yang harus disimpan sampai pikiran dan hati atau ada juga yang tidak perlu diperhatikan. Misalkan tentang masalah negara yang tidak sepatutnya dipikirkan rakyat biasa.

Mbah Nun juga memberikan sedikit wawasan tentang arti sehat. Sehat menurut medis berbeda dengan pemahaman Mbah Nun. Sehat secara medis selalu linear dengan kesehatan jasmani. Seseorang akan dianggap sehat apabila tubuhnya segar, bugar dan bisa beraktivitas tanpa hambatan. Orang-orang yang mengalami kondisi seperti stroke baru dianggap sakit.

Menurut beliau, sehat itu tidak berjarak atau berpisah dari Allah. Di mana pun dan kapan pun selalu ingat dan dekat dengan Allah. Kondisi Mbah Nun sekarang yang masih tahan duduk berjam-jam hampir setiap malam untuk ber-Maiyah, tidak dianggap sebagai sehat. Beliau hanya sedang menjalani ketetapan kondisi dari Allah untuk tidak diberi sakit fisik.

Sehingga bisa jadi seseorang yang menderita sakit fisik sebenarnya sangat sehat karena jaraknya dengan Allah sangat dekat. Sebaliknya, orang yang terlihat sehat bisa jadi dinilai sakit karena jauh dari Allah.

Menyampaikan topik cinta, Mbah Nun menggunakan ungkapan yang sering dipakai Mas Noe, ‘lubang hati’. Beliau berharap jika Maiyah ini mampu mengisi lubang-lubang yang ada di hati jamaah setiap kali datang. Terkait keresahan Mbah Nun terhadap kegiatan Maiyah yang membuat jamaah terasa terasingkan dari dunia luar, beliau mengungkapkan jika orang-orang ingin berhenti bermaiyah tidak masalah.

Sebuah pertanyaan dari Mbah Nun yang kurang lebih, apakah yang saya tulis dan selama ini saya sampaikan melalui Maiyah membuat kalian sengsara?

“Tidak!”

“Mboten!”

Dan jawaban penolakkan lain. Jamaah Maiyah sudah terlanjur jatuh hati dengan ajaran cinta yang diberikan Mbah Nun dan marja’ lain.

Mbah Nun dan Syeikh Nur Samad Kamba yang duduk berdampingan di atas kursi sederhana berwarna hijau terlihat menyejukkan. Tidak ada rivalitas atau senioritas di antara keduanya. Mereka saling berkomunikasi dan melengkapi untuk merespon setiap pertanyaan dari jamaah.

Di penghujung pertemuan, Mbah Nun dengan tulus dan senyuman menyampaikan, “I love you full! I love you all!” untuk jamaah Gambang Syafaat yang hadir dan untuk jamaah Maiyah di mana pun berada.