Selasa, 21 mei 2019

Sebuah pamflet digital masuk ke dalam pesan whatsapp, dari kakak tingkat yang sudah sering datang ke forum maiyah. Dia cukup tahu bahwa diriku tertarik dengan maiyah.

Pamflet tentang kegiatan Gambang Syafaat yang dilaksanakan pada 22 mei 2019. Kegiatan Gambang Syafaat biasanya dilaksanakan tanggal 25, karena ada satu dan lain hal akhirnya diajukan. Tidak ada informasi tentang kehadiran Cak Nun di pamflet. Namun karena rasa ingin tahu yang teramat dalam, kubulatkan tekad untuk datang. Membuktikan sendiri benarkah ada cinta di sana?

***

Rabu, 22 Mei 2019

Masjid Baiturrahman, sebuah masjid yang terletak di pusat Kota Semarang. Menjadi tempat diselenggarakannya kegiatan. Langkahku gontai untuk menuju sebuah area yang dijadikan tempat diskusi. Jauh dari kesan mewah. Hanya ada karpet hijau yang disediakan di depan panggung kecil. Sisanya duduk di atas aspal area masjid. Bahkan panggung tersebut baru kali ini digunakan. Seringkali orang-orang ini berdiskusi tanpa panggung.

Satu kata yang terucap dalam hati, “kagum”. Banyak senyum dilemparkan, banyak tawa diterbangkan dan banyak jabat tangan dilepaskan. Mereka tak canggung untuk menyapa sesamanya meski belum saling kenal.

Aku? Tak banyak orang yang dikenali mata. Jika dipaksakan, hanya satu orang teman kampus dan seorang dosen di atas panggung yang entah mengenalku atau tidak. Beliau bukan dosen fisika.

Orang-orang di sini melepas semua identitasnya. Tidak ada ASN dan non ASN. Tidak ada dosen dan mahasiswa. Tidak ada guru dan murid. Tidak ada 01 atau 02. Tidak ada si kaya dan si miskin. Tidak ada si pintar dan si bodoh. Tidak ada bos dan karyawan. Mereka hanya berada di bawah label, “manusia”. Bukan, lebih tepatnya, “makhluk Gusti Allah” karena ada nyamuk, malaikat, jin dan pepohonan yang mungkin turut serta dalam kegiatan.

Acara dibuka dengan tadarus Al-Quran, shalawat sebagai bentuk penghormatan kepada Baginda Rasul serta ditutup dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Lagu kebangsaan dalam sebuah acara semacam pengajian? Menarik bukan? Aku juga baru tahu ini. Biasanya aku hanya mendengar lagu kebangsaan dibawakan di acara-acara formal seperti seminar di kampus.

Diawali dengan sebuah prolog berdasarkan tema yang sudah disepakati, “Angon Tresno”. Ada satu penggal kalimat yang menarik. Menumbuhkan cinta itu mudah, mengungkapkan cinta juga masih cukup mudah, namun menjaga serta melestarikan cinta itu susah. Pernah merasakan?

Seorang panitia memberitahukan bahwa Mbah Nun dan Mas Sabrang akan menyambangi tempat ini. Senang. Perasaan yang muncul ketika mendengar dua nama itu.

Dua nama yang selalu menjadi penantian sebagian besar jamaah Maiyah yang datang. Menurut informasi, Mbah Nun sudah beberapa bulan tidak bisa menghadiri forum Gambang Syafaat. Malam itu terpancar kebahagiaan dari raut muka mereka, termasuk aku. Semua kerinduan orang-orang itu akan terbayarkan. Bertemu figur penuh kelembutan dan cinta.

Orang-orang di atas panggung mulai berbagi pengalaman dan pengetahuan. Tidak ada yang menggurui. Semua saling belajar dan menghargai. Ada canda di antara mereka.

Semua mata mulai teralihkan dengan kedatangan Mbah Nun, disusul rombongan termasuk Mas Sabrang. Di sela kegiatan, panitia memintai tolong jamaah untuk membacakan Al-Fatihah atas berita yang mengabarkan bahwa Ust. Muhammad Arifin Ilham meninggal dunia. Salah seorang ustad yang juga berperan dalam memberikan keteduhan pada masyarakat di Indonesia.

Panitia juga mengingatkan agar jamaah tidak merekam Mbah Nun ketika sedang berbicara. Wajar. Belakangan ini banyak sekali hujatan/cacian yang ditujukan pada Mbah Nun. Banyak video-video potongan di media sosial yang beredar. Video tersebut seolah menyudutkan dan membuat Mbah Nun terlihat salah.

Aku sedikit mengerti tentang dunia internet. Video-video potongan yang banyak beredar di youtube dengan judul ‘mengerikan’ dan ‘thumbnail’ sensasional sengaja dibuat untuk menarik penonton. Mungkin kamu pernah melihatnya? Bagaimana Mbah Nun diadu dengan ustad Abdul Shomad, Mbah Nun dianggap pro kubu A-Z, Mbah Nun dinilai atheis dan masih banyak yang lain.

Sebagian orang mungkin tidak tahu. Para oknum yang mengunggah video-video ini mendapatkan uang dari iklan yang tampil di chanel youtube mereka. Semakin banyak penonton maka semakin banyak uang didapatkan. Semakin banyak kerusuhan yang ditimbulkan, semakin pemilik chanel-chanel ini kegirangan.

Efeknya? Video tersebut menuai banyak kecaman yang bisa dilihat di kolom komentar. Semakin banyak orang yang salah paham terhadap Mbah Nun dan Maiyah. Terlebih menjelang musim politik kemarin. Menyedihkan.

Moderator memberikan kesempatan para jamaah untuk bertanya. Ada sebuah pertanyaan yang ingin kulontarkan. Tubuhku sedikit gemetar. Lidahku kelu karena baru pertama bertemu Mbah Nun dan Mas Sabrang. Selama ini hanya bisa melihat beliau dari balik layar komputer atau handphone.

Bermodal,’bismillah’. Kuberanikan diri untuk mengangkat tangan dan memegang mikropon. Beberapa pasang mata mengarah padaku. Masih ada ragu untuk berbicara.

“Mas Sabrang, setiap orang memiliki bakat/fadilahnya masing-masing. Mbah Nun pernah menyampaikan bahwa jika ingin berhasil, kita harus istiqamah pada apa yang kita suka. Lalu bagaimana dengan Mas Sabrang? Mas Sabrang sering berpindah-pindah bidang. Berpindah-pindah wilayah,” ucapku sembari menghela napas.

“Mas Sabrang pernah kuliah fisika dan matematika, menjadi musisi, bahkan menjadi sutradara. Apakah tidak ingin menetap di satu bidang utama, misalnya guru fisika? Bagaimana jika ternyata Gusti Allah memberi tugas ‘sampeyan’ untuk mengisi bidang tertentu. Mas Sabrang malah berpaling ke bidang lain. Bagaimana jika bidang itu diisi oleh seseorang yang tidak punya passion dan cinta pada bidangnya,” lanjutku. Mikropon di tangan sudah menjadi milikku. Kepercayaan diri untukbertanya semakin menguat.

“Negeri ini contohnya. Banyak posisi-posisi penting yang diisi oleh orang-orang tanpa kemampuan dan passion. Kepentingan dan uang menjadi tujuan utama. Bukankah itu membahayakan? Lalu, apa sebenarnya tujuan Mas Sabrang?” tanyaku.

Sebuah pertanyaan panjang yang kususun saat itu juga. Pertanyaan yang cukup lama tertanam dalam benak pikiran. Apa tujuan manusia? Untuk apa manusia ada?

Sesaat setelahnya, Mas sabrang memberikan pendapat. Banyak hal yang diungkapkan. Tidak semuanya dapat dirangkum. Beliau setuju terhadap pendapatku. Ketika suatu urusan diserahkan pada orang yang bukan ahli, maka tunggu saja kehancurannya. Negeri ini tidak memberikan cukup tempat untuk para ahli/pakar tersebut berbicara. Sehingga orang-orang yang hanya mendapatkan ‘panggung’ saja yang bisa berbicara.

“Tentang bidang? Tidak pernah ada bidang. Manusia yang mencipatakan sendiri bidang. Ada ilmu fisika, biologi, kimia, matematika, psikologi, seni dan banyak lagi. Manusia yang memecah sendiri. Contohnya astrofisika dan astronomi. Kedua cabang tersebut adalah bagian dari fisika,” ucap Mas sabrang.

Ada orang yang belajar lebih dalam pada beberapa hal. Ada lagi orang yang belajar tentang banyak hal tapi tidak mendalam.

Mas Sabrang termasuk tipe orang yang belajar terhadap banyak hal dan memadukannya menjadi sebuah pengetahuan baru untuk memecahkan masalah. Mas Sabrang ingin mendapatkan pola dari setiap ilmu yang dipelajarinya. Ketika sudah mendapatkan pola, maka belajar apapun sangat mudah.

Sebuah ilmu tidak bisa berdiri sendiri. Harus ada ilmu-ilmu lain yang menemani. Analoginya, ketika kita belajar musik yang masuk ke telinga, maka kita akan belajar tentang seni/keindahan, kita belajar frekuensi nada (fisika), di sisi lain kita juga belajar telinga/ anatomi tubuh manusia (biologi). Ada juga perhitungan yang melibatkan ilmu matematika.
“intinya begini, pilih sebuah peran/tanggung jawab. Kemudian pelajari/ dapatkan banyak ilmu pengetahuan untuk menjalankan tanggung jawabmu,” ucap Mas Sabrang yang begitu bersemangat malam itu.

Mbah Nun memberikan tambahan untuk semua pertanyaan malam itu. Raut mukanya tidak memperlihatkan kemarahan atau kesedihan. Meskipun banyak cercaan yang harus didapatkan beberapa waktu lalu.

Mbah Nun menjelaskan banyak hal, di antaranya adalah isim (nama) dan fi’il (perbuatan). Banyak orang yang menilai sesuatu dari segi isim (nama). Mbah Nun mencontohkan dengan memijat pundak Habib Anis, salah seorang sahabat beliau dan mengatakan, “nek aku mijet Bib Anis ngene, durung mesti aku tukang pijet. Durung mesti kabeh wong sing iso mijet kuwi tukang pijet.”

Banyak orang tertipu dengan tampilan luar dan tidak memahami makna secara keseluruhan. Isim merupakan tanda/simbol. Bisa juga disebut pelembagaan atau penamaan.

“Nek aku shalawatan, dikira aku musisi. Nek aku nulis utawa maca pusi, dikira aku penulis apa penyair,”celetuk Mbah Nun.

Ketika memahami sesuatu secara fi’il, maka kita tidak akan membeda-bedakan seseorang dari profesi/pekerjaannya. Baik tukang becak, pengusaha atau apapun. Semuanya sama. Makhluk Gusti Allah.

“Kalau kita berpegang pada fi’il, kita tidak mudah merendahkan orang lain,” ucap beliau.
Pukul 02.00 WIB, orang-orang ini matanya masih menyala. Tak terlihat kantuk di sorot mata mereka. Suasana tambah seru ketika Mbah Nun juga menyelipkan ‘kelakar’ dalam ucapannya.

“Misale ana wong tiba, kecelakaan. Kuwe arep ngapa? Arep nulung apa meh nakoni disek? Omahmu ngendi? Partaimu apa? Agamamu apa? Yen islam, aliran islammu apa?” ucap beliau sembari tersenyum pada jamaah. “Selak wonge mati disek,” imbuhnya diiringi tawa jamaah. Sebuah realita yang mungkin saja masih ada. Bagaimana kita terpecah akibat adanya perbedaan yang sebenarnya diciptakan oleh manusia sendiri.

Tak ada sedikit pun kegusaran atau marah di raut muka beliau. Mbah Nun tetap terlihat tersenyum seolah tak ada beban atas serangan dari dunia maya.

Mbah Nun juga memberi pernyataan bahwa orang-orang yang mengira bahwa beliau dinabikan itu salah. Beliau hanya manusia biasa. Beliau bahkan sesekali menggunakan bahasa yang dianggap kasar/tidak lazim dalam menyampaikan ilmu, sebagai bentuk bahwa dirinya juga manusia biasa. Sama seperti jamaah maiyah lain.

Malam itu sangat indah. Ratusan orang ini digerakkan tanpa adanya komando apalagi paksaan. Mereka datang karena rasa cinta. Gambang Syafaat sudah berjalan kurang lebih 20 tahun.

Sebelum pada akhirnya kegiatan ditutup dengan sebuah lagu, ’ruang rindu’ yang dibawakan langsung oleh Mas Sabrang. Semua orang terlihat senang dan mengikuti.

Pukul 03.15 WIB, kegiatan ditutup dengan doa bersama untuk keamanan negeri ini agar menjadi lebih baik lagi ke depannya. Tidak ada perpecahan dan semua jamaah mendapatkan manfaat dari pertemuan malam itu. Tidak ada ajaran kebencian di maiyah. Semua tentang cinta dan ketulusan.

***

Dalam sebuah sumber, Maiyah diartikan sebagai ‘upaya setiap pelakunya, sendiri-sendiri atau bersama-sama, untuk mencari dan menemukan ketepatan posisi dan keadilan hubungan dengan Tuhan, sesama makhluk, alam semesta dan diri sendiri.’

Banyak artikel sesat dan video-video potongan jahat yang beredar di media sosial mengeni Mbah Nun dan Maiyah. Buat teman–teman yang ingin mengenal Mbah Nun dan Maiyah, lebih baik datang langsung ke lokasi. Kegiatan maiyah dilaksanakan rutin di beberapa kota dengan nama yang berbeda. Bangbang wetan, Kenduri Cinta, Macapat Syafaat, Padhangmbulan, Gambang Syafaat. Selamat menemukan cinta di dalamnya.