18 tahun Gambang Syafaat (GS) adalah masa di mana kita perlu menjenguk perjalanan kita. Di atas panggung ada Habib Anis, Pak Ilyas, Pak Saratri. Kebetulan malam ini beliau bertiga bisa hadir secara bersamaan membersamai jamaah. Jarang sekali mereka bisa berkumpul bertiga di forum Gambang Syafaat. Terkadang ada Habib Anis dan Pak Ilyas, tapi tidak ada Pak Saratri. Terkadang ada Pak Ilyas dan Pak Saratri tapi tidak ada Habib Anis. Terkadang ada Pak Saratri dan Habib Anis tapi tidak ada Pak Ilyas. Terkadang malah beliau bertiga tidak hadir. Terkadang juga mereka hadir secara bersamaan. Seperti malam ini.

Beliau bertiga adalah saksi bagaimana Gambang Syafaat bermetamorforsis dari forum yang dihadiri oleh jumlah jamaah yang sedikit sampai banyak. Mereka mengaku tidak terlalu lama bergiat di Gambang Syafaat. Pak Ilyas mengakui,” aku iki ora suwe ning GS, tapi tek limang tahun yo luweh.” Lima tahun bukanlah usia panjang. Itu setara dengan durasi jabatan presiden Indonesia. Tapi, dari durasi lima tahun itu, Gambang Syafaat bisa berkembang biak dan menumbuhkan benih-benih Maiyah di pelbagai kota. Kalau kita mundur lima tahun dari sekarang. Yang berarti pada 2012. Gambang Syafaat masih seperti forum yang “kesepian” jamaah. Bahkan ruang dalam Aula Masjid Baiturahman yang dulu menjadi tempat Gambang Syafaat menyelenggarakan acara sebelum berpindah ke halaman Aula. Masih menyisakan banyak ruang yang kosong. Aula itu seperti bangunan yang sangat luas. “Bahkan dulu ketika Mbah Nun awal-awal rawuh ke sini, semua jamaah disuruh naik saja, tempate iso orak kebak,” kenang Pak Ilyas.

Perjalanan Gambang Syafaat sebagai simpul Maiyah yang selalu bisa menarik ratusan jamaah yang datang tidak terjadi secara tiba-tiba. Istiqamah menyelenggarakan acara dan keikhlasan berbagi yang membuat forum ini bisa berumur belasan tahun dan bisa menghimpun ratusan jamaah.

Selama 18 tahun banyak pengisi yang datang dan pergi. Mereka berganti dari generasi ke generasi. Sekarang, kita akrab melihat Habib Anis, Pak Ilyas, dan Pak Saratri di Gambang Syafaat. Pada peringatan ulang tahun Gambang Syafaat malam ini. Pak Ilyas menceritakan bagaimana mereka bertemu dan membangun paseduluran yang erat. “Saya masih ingat dulu waktu Mbah Nun ngisi di Simpang Lima. Mbah Nun menyuruh Cak Zaki menelpon Habib Anis untuk datang ke Simpang Lima. Setelah Habib Anis datang ke Simpang Lima. Beliau mengenalkan Habib Anis ke Pak Ilyas. Bib, iki Pak Ilyas, kata Mbah Nun.” Mbah Nun selalu mengenalkan orang-orang yang bisa menemani jamaah kepada teman-temannya. Semua teman Mbah Nun selalu dikenalkan kepada orang-orang yang bergiat di Maiyah. Pesannya cuma “tolong bangun silahturahmine yo.” Dari perkenalan itu bisa menjalin persahabatan yang erat. Berkat dari pertemuan, perkenalan, dan persahabatan yang erat itu, orang yang bergiat di Maiyah bisa sangat rela hati menghadiri undangan forum Maiyah di pelbagai tempat. Seringkali kita melihat Pak Ilyas tampil di Suluk Maleman, Pati. Sering juga kita melihat Habib Anis tampil di Kidung Syafaat, Salatiga.

Cerita yang serupa juga dialami Pak Saratri. Beliau menceritakan pada suatu hari rumahnya “dikepung” segerombolan laki-laki berwajah garang. Di antaranya ada sekjen Gambang Syafaat Ronny. Mereka datang ke rumah Pak Saratri untuk bersilaturahmi. Dari silaturahmi itu berlanjut pada keseringan Pak Saratri hadir di Gambang Syafaat. Pak Saratri juga orang yang menyaksikan Gambang Syafaat yang cuma dihadiri belasan sampai puluhan orang. Pak Saratri tidak pernah membayangkan forum Gambang Syafaat bisa dihadiri ribuan jamaah. “Sempat dulu saking sedikitnya yang hadir, kami pernah berpikir untuk berhenti saja. Tapi, sudah dipesan oleh Mbah Nun pokoke Gambang Syafaat kudu mlaku sak isone. Yowis akhirnya kami terus menyelenggarakan acara wae hingga akhirnya tidak kami duga bisa sampai seperti ini.”

Pak Saratri menceritakan pertemuan beliau dengan Habib Anis dan Pak Ilyas dijembatani Gambang Syafaat. Mereka semula bertemu di Gambang Syafaat hingga menjadi hubungan persahabatan yang erat. Pak Saratri juga pernah hadir di Suluk Maleman, Pati. Hubungan pertemanan itu membangun relasi yang saling membantu. Bantuan itu tidak berupa materi tapi usaha menemani jamaah untuk membicarakan suatu pelbagai persoalan dengan kemampaun keilmuan yang dimiliki masing-masing.

Beliau bertiga adalah sesepuh di Gambang Syafaat yang selalu hadir menemani jamaah. Pertemuan melahirkan perkenalan. Perkenalan melahirkan persahabatan. Timbal balik itu terjadi di Gambang Syafaat. Sampai usia yang mencapai 18 tahun Gambang Syafaat telah memiliki “adik-adik” Maiyah di pelbagai kota. Tidak menutup kemungkinan kelahiran “adik-adik” mereka bermula ketika mereka yang berasal dari kota yang sama bertemu di Gambang Syafaat, lalu berkenalan dan berkawan dan bersepakat membuat Maiyah di kota asalnya. Modal dasarnya hanya kerelaan untuk berteman dengan siapa saja. Seperti yang kita rasakan malam ini. 18 tahun forum ini terselenggara, Gambang Syafaat bisa dihadiri oleh siapa saja: tua-muda; laki-perempuan; dan dari beragam profesi. Semua guyup dalam aktivitas rutin bulanan sinau bareng.