Awal tahun 2018 Indonesia mendapat jatah merasakan musim gugur sejenak. Di Eropa, musim gugur ditandai dengan daun-daun yang berguguran. Sedangkan pada bulan Januari ini, masih belum jelas musim apa yang sedang menghuni Indonesia. Hujan datang tapi tidak dalam intensitas yang padat. Panas ada tapi tidak sampai membuat sumur-sumur kekeringan. Di antara ketidajelasan dua musim itu. Tampaknya kita sedang diatur untuk merasakan musim gugur yang rasanya mustahil bisa dirasakan masyarakat Indonesia.

Awal tahun ini adalah musim gugur bagi Indonesia. Tidak ada daun-daun berguguran. Yang ada adalah seniman dan orang-orang hebat bergantian berguguran satu per satu. Di awali Yon Koeswoyo, disusul Darmanto Jatman, berlanjut pada Bambang Darto, Nunik, Daoed Joesoef, Sys NS, dan Amir Effendi Siregar. Mereka dalam jangka waktu yang berdekatan pergi meninggalkan kita semua. Sepertinya pintu antrian menghadap Tuhan sedang lowong sehingga beliau semua tidak perlu waktu lama untuk saling menyusul satu sama lain.

Kematian itu pasti. Tapi waktu eksekusinya yang tidak bisa ditebak. Takdir membuat kematian datang secara tiba-tiba dan tidak terencana. Berita-berita kematian pun sering seperti kabar pengumuman pemenang undian doorprize. Tidak diduga dan mengagetkan. Dan semuanya bermuara pada kesedihan.

Tapi tampaknya dengan melihat orang-orang hebat yang telah pergi mendahului kita. Kita dilarang untuk bersedih terlalu lama. Kematian mereka semua bisa melegakan kita. Mereka adalah manusia-mansuia yang berusia lebih setengah abad dengan konsistensi di bidang kesenian yang digeluti sampai akhir hidup.

Almarhum Yon Koeswoyo meninggalkan warisan setumpuk lagu yang bercerita tentang Indonesia dan asmara. Lagunya terus dinyanyikan dan didengarkan dari zaman ke zaman, dari generasi ke generasi. Beliau meninggalkan kegagahan cerita tentang biografi diri dan musik yang sulit disamai oleh generasi selanjutnya. Beliau adalah satu dari sedikit generasi yang pernah merasakan tiga zaman pemerintahan: Orde Lama, Orde Baru, dan Reformasi. Pernah dipenjara Bung Karno karena meniru The Beatles, dipuja jutaan anak muda pada masa Orde Baru, dan tidak kehilangan penggemar di kala semua personel Koes Plus menua. Lagu-lagunya masih dinyanyikan generasi tua dan muda. Emha Ainun Nadjib mengatakan,”Mengapa semua orang menyukai lagu-lagunya Koes Plus, karena yang mereka nyanyikan adalah suara batin kita semua. Makanya setiap kita mendengar lagunya kita seperti pernah mendengarnya pernah menyanyikannya.”

Lalu Darmanto Jatman. Beliau meninggalkan warisan puisi yang bercerita kosmologi Jawa. Puisi tentang rumah dan isteri dengan refensi Jawa meluaskan pandangan kita pada kebudayaan Jawa. Darmanto tidak melulu memahami Jawa lewat keris. Beliau sudah berpikir luas menjangkau ruang-ruang keluarga dan arsitektur untuk bercerita Jawa. Bentuk penyampaian puisinya yang mencampurkan bahasa Jawa, Indonesia, Inggris, dan Belanda, menurut Sutanto Mendut,”polarisasi Pribumi-nonpribumi tidak ada di puisinya Darmanto.”

Yang terakhir manusia ampuh Daoed Joeseof yang usianya hampir seabad. Umur beliau dicatat sebagai manusia langka Indonesia yang masih bisa menulis dengan bagus dan bahkan berpolemik ketika usianya melebihi 90 tahun. Ini tinggalan etos intelektual yang sulit ditandingi. Daoed Joesoef telah mewarisinya. Kita diharapkan mengikuti jejaknya.

Mereka semua menghadap Tuhan dengan catatan telah menunaikan tugas kesenian dan intelektual dengan baik. Totalitas dan loyalitas terhadap bidang kesenian dan keilmuan yang mereka tekuni mengantarkan nama-namanya menjadi legenda di bidangnya masing-masing. Tampaknya Tuhan sedang memanggil manusia-manusia Indonesia yang hebat di bidangnya masing-masing. Di bidang musik diwakili Yon Koeswoyo, di bidang sastra diwakili Darmanto Jatman dan Bambang Darto, di bidang penyiaran diwakili Sys NS, di bidang pendidikan diwakili Daoed Joesoef.

Mereka bergiliran menghadap Tuhan. Satu per satu nama mereka berguguran sebagai penghuni bumi Indonesia. Tuhan telah memilih waktu yang tepat untuk memanggilnya. Di saat karya mereka sudah banyak, umur mereka sudah menua. Tuhan memanggilnya untuk mengingatkan kembali orang-orang atas jasanya yang besar terhadap negeri ini. Kita kembali lagi mengingat namanya, mengingat jasanya yang besar. Setelah dalam beberapa tahun terakhir terlupakan dengan derasnya nama-nama politisi, artis, dan atlet sepakbola.

Tidak ada penghormatan khusus dari negara terhadap masa tua seniman-seniman yang berjasa besar terhadap bidang kesenian Indonesia. Mereka dengan gagah melewatkan masa tua di atas kasur tempat tidur dengan ditemani penyakit yang membersamainya di masa tua. Hingga penyakit-penyakit itu berdamai dengan tubuhnya, dan mereka pergi meninggalkan kita.

Mereka lahir dan wafat di tanah Indonesia. Dengan warisan karya seni dan intelektual yang melimpah. Jasad mereka tidak sekadar jasad. Jasad mereka adalah “pupuk” yang ditanam untuk menyuburkan tanah Indonesia yang tampaknya dalam beberapa tahun terakhir kering secara kebudayaan dan sering melahirkan percikan api permusuhan.
Kematiannya hendak menyuburkan tanah Indonesia agar semua jenis “tumbuhan” bisa tumbuh berdampingan.