Di lokasi acara Sinau Bareng kali ini terlihat berbeda. Terlihat stan penjual merchandise dan berbagai macam makanan dan karya-karya kreatifitas masyarakat Salatiga berdiri mengelilingi lapangan Alun-alun Pancasila. Sebelum Magrib Pak Erfak sang maestro gamelan KiaiKanjeng melakukan cek sound. Masyarakat yang mengetahui ini langsung mendekati panggung. Suasana di lokasi panggung menjelang Magrib berubah menjadi penuh jamaah hingga separuh lapangan. Tampak rasa kerinduan mereka tidak mau terlewatkan begitu saja untuk menyambut Mbah Nun dan KiaiKanjeng.

Menjelang pukul 20:00 WIB dari samping panggung terlihat para Banser dan Kokam sedang memberi jalan Mbah Nun menuju ke panggung dengan disambut sholawat oleh KiaiKanjeng. Di panggung Mbah Nun ditemani Pak Bupati, Ibu Bupati, Pak Kapolres dan seluruh staf-staf Pemkab Salatiga. Mbah Nun mengawali acara Sinau Bareng malam itu dengan mengajak semuanya berdiri untuk melantunkan lagu Indonesia Raya dan lagu Syukur dan Alun-alun Pancasila yang dipenuhi manusia serentak bergemuruh. Mbah Nun mengajak semuanya untuk mensyukuri hari jadi kota Salatiga ke-1268.

Karena ini acara berjudul Sinau Bareng, Mbah Nun menanyakan kepada jamaah tujuan kita Sinau Bareng kali ini diniatkan untuk apa? Berbagai jawaban muncul dari anak muda, bapak ataupun ibu. Mereka menjawab mencari keberkahan, mencari wawasan, dan ada juga yang menjawab mencari jodoh. Kemudian Mbah Nun memberi pertanyaan lagi, bagaimana kita menyikapi uang yang kita miliki akan berpengaruh terhadap rasa syukur yang lahir dari ekspresi kita mensyukuri rezeki dari Allah. Konsep dan kunci ikhlas apabila kita mendapatkan uang sepuluh ribu menerimanya dengan penuh rasa syukur akan sangat berarti, kalau kita tidak membayangkan uang seratus ribu dan seterusnya.

Mbah Nun mencontohkan bahwa beliau sejak dulu tidak pernah mengubah konsep tentang uang sepuluh ribu rupiah. Bagi Mbah Nun, uang sepuluh ribu rupiah adalah uang yang sangat besar nilainya. Uang sepuluh ribu rupiah bagi Mbah Nun dalah rezeki yang harus disyukuri, sehingga konsep yang terbangun dalam diri adalah bukan membeda-bedakan uang berdasarkan nominal yang tertera. Kebanyakan orang hari ini, ketika punya uang sepuluh ribu, angan-angan yang ada dalam pikirannya adalah bahwa nanti atau besok akan punya uang seratus ribu, sehingga kemudian uang sepuluh ribu terasa sudah tidak berharga lagi, karena ia membandingkan dengan uang seratus ribu. Begitu juga ketika ia memiliki uang seratus ribu, konsep dalam pikirannya kemudian adalah angan-angan mendapat uang satu juta, sehingga seratus ribu sudah tidak berharga lagi ketika ia benar-benar mendapatkan uang satu juta, sepuluh juta, seratus juta.

Mbah Nun menyampaikan bahwa jika konsep sepuluh ribu itu kita pegang, maka berapa pun uang yang kita dapatkan dan kita miliki itu akan selalu kita syukuri dan kita akan tetap menghargainya. Sehingga tidak ada celah sedikit pun dalam diri kita untuk merendahkan rezeki yang sudah Allah berikan kepada kita. Kerahkanlah sebagian tenaga dan rezeki kita untuk menolong orang-orang yang lemah. Karena Allah itu selalu bersama orang yang lemah. Innama tunshoruna wa turhamuna wa turzaquna bidlu’afaikum”, (Kalian dilimpahi pertolongan, kemenangan dan rizki oleh Allah). Temukanlah kenikmatan setiap apa saja yang Allah kasihkan ke kita dan temukanlah keindahan saat kita berbuat baik.

Sebelum acara diakhiri, Pak Bupati dan Ibu Bupati diberi waktu untuk melantunkan lagu era 1980, 1990 dan 2000-an cukup membuat suasana dingin menjadi hangat. Sekitar waktu menginjak pukul 00.00 WIB acara ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Mbah Nun dengan membaca Surat Alam Nasroh.

BERBAGI
Galih Indra Pratama
Aktivitas sehari-hari bekerja di Pratama Audio di Jepara. Jannatul Maiyah Gambang Syafaat dan berbagai tempat.