blank

Setiap kali ada sahabatnya yang meninggal maka Emha Ainun Nadjib (Mbah Nun) selalu menyambutnya dengan sebuah esai. Jika hal itu disatukan menjadi buku mungkin menjadi satu buku yang sangat tebal. Mereka antara lain yang telah di tulis Mbah Nun adalah Rendra, Pak Darmanto Jatman, Hamid Jabbar. Dalam esai-esainya menghantar kepergian saudara-saudara dekatnya itu Mbah Nun tidak hanya mengenang tetapi memaknai, mengambil ilmu, juga menjadi saksi atas laku hidup mereka yang ditulis.

Terhadap orang tua kebudayaan Jawa meminta kita untuk “Mikul Duwur Mendem Jero”. Apa yang dilakukan oleh Mbah Nun dengan menghantar kepergian saudaranya dengan esai mungkin dalam rangka itu. Mendem jero sebagaimana yang dia ungkapkan di sebuah kesempatan adalah sebuah upaya menggali dan mencari apa saja yang dapat dipelajari dari yang mati, yang baik-baik tentunya.

Dalam bersikap hidup kita memang diberi pilihan, belajar dari atau mempelajari. Sekilas dua uangkapan itu sama tetapi sebenarnya berbeda. Perbedannya terletak pada kemerdekaan subjek belajar. Untuk mempelajari kita memiliki kebebasan penuh dengan metode, model, evaluasi semacam apa. Kita memiliki kemerdekaan penuh sebagai subjek belajar. Kita bisa mengilmui segala hal seremeh apapun oleh mata dunia.

Perihal kematian sebagaimana diungkapkan oleh Mbah Nun, kebudayaan hanya menyebut bahwa kematian hanya lawan dari kehidupan bukan kelanjutan atau puncak dari suatu tahap eskalasi kehidupan.

Ketika Hamid Jabbar meninggal dunia pada 29 Mei 2004, Mbah Nun menulis sebuah esai berjudul “Kalau Hanya Penyair, Ia hanya Mati”. Esai itu dimuat di Majalah Horison edisi Juli 2004. Pada orang yang mati, menuliskannya, mengenangkannya bukan dalam rangka menghidup-hidupkannya. Orang mati di jalan Allah akan tetap hidup. Kata Tuhan: “Jangan dikira hambaKu yang berjuang di jalanKu itu mati. Tidak, Ia hidup.”

Hamid Jabbar adalah syahid, bukan mati syahid. Syahid adalah orang yang telah menyaksikan (yasyhadu) kehidupan, kebenaran, kebobrokan, kebaikan, dan lain-lain.

Terminologi lain mengungkapkan Syahid adalah contoh atau teladan. “Kami (Allah) menjadikan kalian sebagai ummatan wasathan (menengah, moderat) agar menjadi syuhada (contoh) bagi segenap umat manusia”. Dalam konteks ini syuhada adalah bentuk plural dari syahid yang artinya contoh, bukti, model. Dari para syahid itu kita menyandarkan diri unutk meniru sebagai model.

Dalam esai pengantar kepergian Hamid Jabbar itu terungkap banyak hal yang selama ini tidak banyak diketahui orang. Misalnya, Mbah Nun ternyata pernah menjadi sekretaris Dewan Kesenian Yogya. Saat menjadi pejabat kesenian yang baru dibentuk itu, Mbah Nun membuat acara “Baca Puisi Penyair Tiga Kota”, Hamid Jabbar menjadi salah satu yang diundang dan menginap di kontrakan Mbah Nun.

Fakta lain yang terungkap dalam esai itu adalah Mbah Nun mengaku pernah menjadi teknisi paruh waktu di sebuah toko komputer terbesar di Yogyakarta. Tapi bukan itu yang penting, yang terpenting dalam esai itu adalah bagaimana Mbah Nun mempelajari Hamid Jabbar yang menurutnya sangat dicintai oleh Allah dan ditunjukkan kecintaan itu dengan sangat nyata karena meninggal di atas panggung saat membaca puisi. “Penyair meninggalkan dunia melalui mimbar puisi! Betapa gagahnya Hamid. Bak Panglima perang meninggal di titik pusat medan peperangan.” Kata Mbah Nun.

Di suatu kesempatan pada peringatan tujuh hari meninggalnya Pak Darmanto Jatman, Mbah Nun menyampaikan bahwa banyak tokoh seperti Umar Kayam, Rendra, Gus Dur yang telah pergi dan sangat disayangkan jika kepergiannya tidak hikmai, tidak dipelajari.

Bahkan sering kita salah menempatkan yang mati tidak pada tempatnya. “Gus Dur, Bung Karno, dan banyak toloh lain tidak dihormati sebagaimana mestinya. Tokoh-tokoh itu hanya dipasang sebagai alat kampanye untuk keperluan kekuasaan. Dari Mbah Nun kita bisa belajar bagaimana beliau mempelajari para syahid itu.