Beberapa kali saya mengikuti ceramah motivasi oleh apa yang disebut dunia modern sebagai motivator. Ada kalimat yang mengganggu saya, “semua orang bisa sukses, semua orang bisa jadi apa saja!” Berbagai kalimat lain menggugah peserta ceramah motivasi agar hatinya kuat.

Mengapa mengganggu, selama ini beberapa peserta ceramah ternyata tidak mengalami perubahan, meski belum tentu juga seratus persen gagal. Saya tidak percaya bahwa semua orang bisa sukses, semua orang bisa jadi apa saja, nyatanya profesor bisa dihitung sekian persen dari banyak orang. Orang kaya, hampir selalu lebih sedikit dari orang kebanyakan.

Saya paham bahwa tugas motivator itu memberi bekal sikap mental, tetapi keberanian memastikan bahwa semua orang bisa sukses adalah ketidaksopanan. Seseorang menjadi apa, variabelnya tidak satu dua. Ada jarak antara potensi dan “yang kedaden”- realisasi. Semua orang bisa sukses, Ya, asal…  Nah syarat dan ketentuan itu yang tidak semua orang memenuhi.

Saya punya asumsi bahwa potensi menjadi “yang kedaden” atau realisasi, mirip seperti komputer. Bayangkan bahwa diri Anda itu komputer, yang bagian-bagiannya tentu saja ada hardware dan software. Komputer tidak bisa digunakan sebagai “designer” jika tidak ada sofware pengolah semacam coreldraw. Komputer tidak bisa jadi “akuntan” jika tidak ada aplikasi akuntansi yang terinstall.

Benar bahwa semua orang bisa jadi sukses, jadi apa saja, secara potensi. Tapi untuk menjadi sukses beneran, diperlukan software/aplikasi pendukung yang bisa menghantarkan potensi menjadi realisasi. Dengan kata lain, mungkin Anda semua punya master aplikasi untuk jadi apa saja, tapi tetap hanya menjadi “folder file” saja, sebelum dilakukan penginstallan, sebelum “file exe nya diklik”. Sebelum itu semua “bisa menjadi apa saja mu” hanya sebagai potensi.

Pertanyaannya adalah, bagaimana agar master aplikasi/ installer menjadi software/aplikasi yang terinstall? Ya diinstal! Siapa yang bisa memproses penginstallan? Menurut saya, ada aplikasi-aplikasi bawaan yang memang sudah diberikan oleh Tuhan kepada kita, terinstall otomatis sejalan dengan pertumbuhan “hardware”, tapi lebih banyak yang belum.

Pencarian bakat, dalam bahasa yang mudah, “mencari yang gue banget” dalam bahasa yang mbulet. Itulah proses penginstallan. Praktisnya adalah, Anda melakukan simulasi-simulasi, setelah itu baru latihan. Simulasi adalah Anda “dolan sing adoh”, “sekolah sak mlengere”, “kursus sak akeh akehe”. Sampai pada titik Anda merasa berkata “sepertinya saya dianugerahi/dititipi Tuhan untuk menjadi A”.

Latihan adalah Anda memfokuskan usaha-usaha untuk membuat Anda refleks. Setelah Anda menemukan “yang gue banget”, maka tenani, diistiqomahi sampai Anda benar benar ampuh dalam hal yang Anda pilih, sampai terinstall di diri Anda. Orang yang tidak salah pilih dalam menentukan “yang gue banget” setelah melakukan simulasi, dan kemudian mengistiqomahi, itulah jalan sukses.

Beruntunglah orang-orang yang bergaul dengan komunitas, mendapatkan kondisi-kondisi yang memberikan ruang tumbuh kepada kita. Baik ruang tumbuh untuk jiwa ruhani maupun skill badani.

Jadi, jangan percaya pada motivator, carilah/buatlah ruang tumbuh.

BERBAGI
Ali Fatkhan
Berdomisili di abahgandrung@gmail.com, sehari hari bekerja sebagai PNS di Kudus. Penggiat di simpul Gambang Syafaat Semarang.