Dengan Semarang saya banyak mengalami persinggungan. Menjelang kelulusan SMA, kota inilah yang menjadi pilihan orangtua untuk menguliahkan anak ragilnya ini. Mana lagi kalau bukan di universitas yang memakai nama pahlawan nasional dari wilayah Yogyakarta itu. Dulu nama-nama universitas banyak memakai nama pahlawan atau orang-orang yang mumpuni di bidangnya di nusantara. Gajah Mada, Diponegoro, Airlangga, Brawijaya, atau Hassanuddin. Dan tanpa embel-embel kata ‘Negeri’ universitas itu sudah pasti bukan swasta.

Namanya UGM kan, bukan UNGM? Namanya UNDIP kan? Bukan UNNEDIP?

Yak. Dengan pertimbangan jarak kota Pati–Semarang yang nggak jauh-jauh amat, keluarga mengarahkan saya agar bisa kuliah di UNDIP. Terserah mau D3 apa S1 yang penting kuliah di Universitas Negeri, dan di Semarang. Sebenarnya ada satu lagi UNNES. Tetapi kurun waktu awal tahun 2000-an kampus negeri itu belum bisa menarik minat saya. Kayaknya itu khusus mencetak, eh kok mencetak, melahirkan calon guru-guru berkualitas dari wilayah Gunung Pati Semarang.

Minat saya ketika itu adalah menjadi pengangguran yang sakti. Pengangguran dengan mantra, duduk-diam-duit-datang. Minat untuk kuliah? Jangan ditanya. Hampir mati rasa. Karena menurut saya kuliah pun nggak akan memberikan jaminan kehidupan yang lebih baik.

Dan akhirnya saya terdampar di Solo. Kuliah mengambil jurusan musik di ISI Solo, dan sampai sekarang nggak paham ‘musik’ itu apa.

Apakah karena saya kuliah di Solo lantas hubungan kekerabatan saya dengan kota Semarang terputus begitu saja? Oh tidak. Kuliahnya di Solo, tapi dolane tekan Semarang. Banyak teman semasa SMA yang kuliah di Semarang. Konon setiap tahun hampir 70% lulusan SMA di kota Pati melanjutkan kuliah di kota Semarang.

Dengan menungganggi Astrea Grand Impressa 97 saya mengenal apa itu Citraland, apa itu Java mall, apa itu jalan Pemuda, apa itu Peleburan, apa itu Tembalang, sampai apa itu Taman KB dan Sunan Kuning. Tempat-tempat itu menjadi familiar oleh yang saya yang juga tak kalah liar. Jaman semana wes lumayan isa diarani ‘Gaul’ nek reti mall Citraland karo Java Mall. Karena di Pati nggak ada Mall. Sedih.

Di suatu tanggal 25 akhir tahun 2007 mungkin, saya di-sms oleh teman kuliah yang ingin meneliti pola komunikasi yang dibangun oleh Cak Nun. Siapa Cak Nun? Setahu saya beliau pernah muncul di Indosiar beberapa menit waktu Magrib dengan program ‘Cermin’. Belum begitu mengenal beliau, tetapi karena kali ini teman saya mengajak untuk melakukan penelitian di Semarang, tanpa pikir panjang langsung saya terima.

Bertiga dengan menggunakan mobil kami melenggang dari Solo ke Semarang. Saya kira penelitian itu akan berlangsung dengan cukup singkat karena target utamanya adalah mengambil data video. Paling lama jam sepuluh malam sudah selesai. Tanpa persiapan saya hanya memakai celana pendek, kaos, dan sarung. Sebelumnya saya sudah diajak untuk hadir di acara Macapat Syafaat Jogja dengan niatan yang sama. Mengambil data peneletian. Tetapi tak sampai benar-benar acara usai.

Gambang Syafaat. Begitu tulisan yang terpampang di panggung di dalam masjid Baiturahhman Semarang. Beberapa hadirin terlihat asyik dengan kepulan asap rokoknya. Terpancar wajah yang sedang menanti-nanti kehadiran sosok yang telah lama dirindukan.

Cak Nun datang disambut dengan gempita sholawat. Sesaat ruangan itu menjadi riuh gemuruh dengan alunan sholawat. Berbaju serba hitam, Cak Nun membelah lautan jamaah dan segera bergabung di atas panggung.

Yang paling saya ingat ketika itu adalah satu poin tentang, bersama kesulitan ada kemudahan. Bukan setelah kesulitan, namun saat kesulitan itu datang, satu paketlah ia dengan kemudahan. Satu poin itu yang saya ingat sampai sekarang.

Ketika malam semakin larut dan tak ada tanda-tanda acara usai, saya memutuskan untuk keluar dari ruangan. Saya ingin merebahkan badan. Tidak tahu lagi apa yang terjadi di dalam. Setelah berjalan-jalan di area parkiran, saya memilih beranda masjid. Sarung cukup bisa menahan dingin. Saya merebahkan diri di beranda.

Baru beberapa menit, seorang laki-laki yang kurang begitu jelas wajahnya karena keadaan tidak cukup terang menghampiri saya.

“Ngapa ning kene?”

Saya terperanjat. Belum sempat menjawab beliau sudah berkata lagi,

“Mlebu kana!” dengan nada sedikit keras.

Saya mengucek-ucek mata. Berjalan sedikit malas sempoyongan ngantuk. Saya pikir siapa sih orang itu. Apa dia curiga kalau saya nanti mencuri sandal?

Saya masuk lagi ke ruangan. Menikmati nuansa dialogis di sana.

Anehnya, sejak saat itu saya beberapa kali pergi ke Gambang Syafaat selain hadir di Macapat Syafaat, bukan dalam rangka membantu penelitian teman, tetapi karena hal yang sampai sekarang saya tidak tahu kenapa pula saya mau mengendarai sepeda motor dari Solo ke Semarang pulang pergi. Pulangnya dini hari lagi. Duit datang dari mana saya ya nggak ingat sama sekali.

Pokoknya kalau mau kesana ya ke sana. Sampai kenal apa itu IKAMABA, siapa itu kang Wahid Kawulo Alet, Arfen, atau beberapa nama lagi yang mungkin usia mereka sudah tak muda lagi. Tua iya. Kalau menikah sih ada yang belum kayaknya.

Sekali lagi terima kasih untuk jalinan persaudaraan selama ini. Tulisan amburadul ini adalah perpanjangan dari peristiwa disuruhnya saya masuk ke Gambang oleh lelaki asing itu. Mungkin dia Jibril. Sekaligus sebagai penyambung tali silaturahmi. Supaya tidak lagi terputus. Percayalah putus itu lebih nggak enak daripada ditolak.

Yang mengaku-aku sebagai saudaramu,