blank

“Sepertinya nasib orang Jawa memang sebagai orang yang kalah.” Pernyataan seorang teman. Dia tulen orang Jawa, kok berani-beraninya ngomong begitu. Mungkin dia frustrasi setelah tim nasional sepak bola Indonesia kalah dengan Malaysia. Atau dia sedang jengkel karena istrinya terpaksa bekerja di luar negeri dan sudah dua tahun tidak pulang-pulang.

Tapi dia menggelengkan kepala, bukan itu alasannya. Dia mengajak menilik peribahasa Jawa, yang katanya tidak menggambarkan keinginan untuk maju. Misalnya urip amung mampir ngombe, menunjukkan bahwa hidup itu hanya sejenak membuat orang malas untuk berbuat, ada lagi peribahasa, mati sakjeruning urip, trimah mawi pasrah, sepi ing pamrih rame ing gawe.

“Semua peribahasa itu berorientasi akhirat, tidak ada yang berorientasi dunia. Apakah kita tidak menjadi bangsa yang kalah kalau sedikit-sedikit pasrah, terima?” Katanya. Aku menghentikan perkataannya. Menurutku ada yang perlu diluruskan ada yang perlu diklarifikasi, tetapi dia mengelak. Ia meminta waktu untuk melanjutkan pembicarannya.

Katanya, bagaimana menjadi bangsa yang menang jika pribahasanya saja wani ngalah luhur wekasane. Dimana-mana orang-orang berlomba menang malah disini mengajak ngalah. Bagaimana mau berbisnis jika yang jadi andalan tuna sathak bathi sanak dan sugih tanpa bandha. Jangan-jangan pribahasa-pribahasa itu adalah ungkapan-ungkapan orang yang kalah untuk menghibur diri. Coba bandingan dengan ungkapan time is money atau vini-vidi, vici, aku datang, aku lihat, dan aku menang. Tilik juga cerita rakyat kita yang menjadi tokoh-tokoh protagonisnya kebanyakan orang miskin, janda, pengemis, hobi sekali kita menjadi orang miskin. Lihat saja cerita timun mas, baru klinting, malin kundang, jaka tarub dan masih banyak lainya, semua miskin.

Dia diam, memberiku kesempatan padaku untuk gentian bicara. Aku mencoba menyangkal satu-satu pernyataannya. Pertama tentang wani ngalah luhur wekasane. Ngalah dalam hal ini bukan dari kata dasar kalah tetapi kata dasar Allah. Artinya apa, Ngallah adalah menyembah Gusti Allah, menyatu bersama Allah, berjalan bersama Allah. Ini adalah pokok yang mendasari pola pikir dan pola laku selanjutnya. Apakah orang Jawa hobi menjadi orang yang kalah? Saya kira tidak. Kita punya pribahasa rawe-rawe rantas malang-malang putung menunjukan tekad kita menyelesaikan masalah untuk mencapai kemenangan.

Ngallah adalah pernyataan tauhid, pernyataan iman yang kemudian mendasari uangkapan-ungkapan lain. Urip amung mampir ngombe muncul atas kesadaran bahwa hidup di dunia ini hanya sementara karena masih ada hidup yang lebih panjang nanti di akhirat. Maka mampir ngombe, minumlah minuman yang baik, maksudnya melakukan hal-hal yang baik untuk bekal di akhirat nanti. Ungkapan mati sakjerune urip juga muncul atas dasar keberimanan kepada Allah. Maksudnya adalah mematikan, membunuh hawa nasfu, keinginan-keinginan duniawi, karena duniawi bukanlah tujuan utama meskipun boleh juga memilikinya. Kepemilikian harta benda itu untuk kemaslahatan bersama. Boleh kaya tetapi kekayaan itu tidak membuat seseorang sombong. Kekayaan tidak mengubah hati seseorang dalam memandang Allah dan manusia lain. Keinginan untuk kaya tentu saja boleh tetapi tidak diniatkan untuk mengungguli orang lain, bukan karena ingin dihormati oleh orang sekitar. Meskipun kaya ia harus tetap memiliki kesadaran bahwa derajat kemulian di mata Allah itu bukan urusan kaya miskin tetapi taqwa. Ketaqwaan yang tercermin dalam perilaku oleh orang kaya bisa berupa kedermawanan, menolong sesama. Ok berarti menolong itu bukan karena ingin dipuji oleh manusia tetapi karena Allah. Kepada Allah pun tidak ada pamrih kecuali ridha.

Sepi ing pamrih rame ing gawe juga bermuara pada Ngallah. Jika pamrih pasti unutk kepentingan pribadi. Pekerjaan yang dilakuakn seseorang tetapi nantinya harapannya adalah menjadi kentungan bagi pribadinya. Orang yang bekerja tanpa pamrih maka adalah bekerja untuk kemaslahatan bersama. Orang dengan tipe seperti inilah yang akan diingat jasanya oleh masyarakat. Ia layak dihormati atas jasa-jasanya di masyarakat.

Agama menyeru untuk sedekah meskipun dalam keadaan terhimpit, artinya apa agama ini menyeru tentang memelihara paseduluran. Hal yang sama di tunjukkan Jawa dengan ajaranya, sehingga dalam berdagangpun ia berprinsip rugi sathak bathi sanak. Rugi sedikit tetapi memiliki saudara. Paseduluran lebih diutamakan dibanding dengan keuntungan. Prinsip ini bukan hanya diterapkan dalam berdagang tetapi juga dalam srawung keseharian.

Ungkapan sugih tanpa bandha menurut pendapat saya juga masih dalam lingkup Ngallah dan paseduluran itu. Meskipun tidak memiliki harta benda tetapi kaya saudara, kaya sedulur.

“Di sini, urusannya itu bukan sugih dan kere, kalah atau menang. Bukan. Di Jawa itu entah itu kaya atau miskin yang penting tetap paseduluran dan bersama-sama dengan Allah, Ngallah.” Tegasku.

Kemudian dia nimpali, “Tapi yang korupsi itu juga banyak orang Jawa lho Kang.”

Silakan diskusi dilanjutkan di luar teks ini karena sepertinya masih akan panjang. (30/8/2017).