Dari dua kata raja dan wali, masing-masing mempunyai arti sendiri-sendiri. Kombinasi rangkaian dua kata tersebut, yang sering kita dengar adalah rajawali. Kita tahu rajawali adalah nama burung yang gagah, dengan sayap yang lebar, mampu terbang tinggi. Rajawali banyak digunakan dalam simbol yang berhubungan dengan prestasi, kekuasan dan puncak karir.

Lain halnya dengan rajawali, waliraja sebagai kombinasi dua kata wali dan raja, jarang kita dengar. Bahkan mungkin memang baru dicetuskan oleh Mbah Nun dalam pentas teater di Jakarta beberapa waktu yang lalu. Kita tidak dapat mendefnisikan dengan pasti, tetapi nuansa yang kita rasakan dari istilah waliraja adalah pengayom, penanggung jawab, penyerta dari raja.

Atau kita bisa menduga-duga dengan “otak atik” kata, wali yang raja, atau raja yang wali, waliraja atau rajawali? Keterkaitan terhadap Nusantara/ Indonesia, mana yang relevan?

Kepemimpinan bagaimanakah yang dibutuhkan untuk membuat Nusantara Jaya? Manusia sejenis raja ataukah wali, yang tepat untuk memimpin Indonesia? Kekuasaan yang dilambari oleh jiwa kepengasuhan/pengayoman dalam diri pemimpin ataukah kepemimpinan yang balance antara kekuasaan dan kebijaksanaan dalam sistem ketatanegaraan?

Kita petlu mundur, menelisik sejarah. Kapankah bangsa nusantara jaya, menjadi “negara” besar? Apakah selama menjadi negara modern, 77 tahun yang lalu, kita pernah menemukan pemimpin yang wali dan raja sekaligus?

Gambang Syafaat edisi bulan September 2022, menyongsong dengan gembira dan mensyukuri muatan-muatan yang terkandung dalam rajawali waliraja. Mari melingkar untuk mengupasnya.

Forum Silaturahmi Masyarakat Maiyah Semarang.