Epidemi mengusai kehidupan, memampatkan kebebasan, membendung laju perekonomian, menghalangi kebebasan semasif-masifnya. Apa yang sebenarnya terjadi di balik menyebarnya wabah coronavirus? Kenapa informasi tidak menjadi petunjuk, namun hal-hal yang berkaitan dengan penyebab pandemi terkesan dibungkam? Adakah isu ‘gaib’ coronavirus memang biological warfare? Entah. Semoga tidak.

Di awal kemunculannya, para ilmuwan pun gagap menangani virus yang tersebar sangat cepat antar individu, terpapar menyerang sistem pernapasan, dalam kasus tertentu menyebabkan kematian. Lalu pandemi menjadikan orang-orang phobia interaksi dengan sesama. Semakin individualis, tak ingin bertegur sapa, curiga kepada siapapun yang bicara karena berpotensi menyebarkan virus. Bahkan berdekatan dan makan bersama dicurigai berpotensi menyebarkan virus melalui pembagian udara dalam satu ruangan. Korban berjatuhan tiap hari hingga ribuan orang. Yang sehat merasa terancam, was-was, waspada sekaligus menderita kesedihan. Ketika mengetahui teman atau saudara terinfeksi, rasanya sangat pilu, terlebih tak bisa memberi bantuan apa pun karena terkendala kondisi.

Hampir semua orang mengalami shock new culture dengan menyebaran virus yang amat ganas. Kapankah dunia sembuh? Kapankah disease ini raib dari bumi? Kapankah semua ini berhenti menakut-nakuti? Kapankah semua normal seperti dulu lagi? Pada akhirnya, kembali menatap langit, menggantungkan tanya tanpa jawab. Bukankah hidup harus terus berjalan? Dengan atau tanpa disease, selama masih ada napas, berarti ada kehidupan, ada harapan, ada cara untuk bertahan. Semampat-mampatnya roda perekonomian, masih tetap bisa bergulir, masih bisa merangkak, bersirkulasi menunjang kebutuhan masyarakat.

Manusia punya naluri yang sama dengan “kakaknya” (binatang), naluri bertahan hidup di tengah kesulitan yang amat mengimpit. Kemampuan untuk survive ini menjadi suar yang terus menyala, petunjuk arah, menjauhkan dari putus asa, kemudian begitu saja mengakrabi penderitaan sebagai kawan kehidupan. Kegelisahan tidak menyurutkan keinginan untuk terus berkreativitas, beraktivitas, berkarya, berbudaya, bermasyarakat dan berpikir jernih.

Organisani-organisasi massa bergerak memberi bantuan alat tes swab, makanan dan kebutuhan pribadi yang disalurkan ke lokasi isolasi mandiri orang-orang yang terpapar virus. Orang-orang kaya membagikan anti virus elektrik pada sopir-sopir taxi yang rentan terpapar karena tiap kali berinteraksi dengan penumpang berbeda. LSM-LSM di tiap distrik membagikan bantuan bahan pokok kepada masyarakat. –Yang terjadi di Hong Kong–

Bersama harapan yang terus dilangitkan, mengusir keterjajahan mentalitas dari epidemi pageblug global. Entah ia datang sebagai musibah, sebagai tausiah, sebagai senjata perang biologi, sebagai penyakit menular, sebagai jelmaam Izrail atau apa pun sebutannya, pandemi harus disikapi dengan logika waras. Tidak termakan propaganda media massa, tidak tenggelam dalam kesedihan dan ketakutan panjang. Percaya, apa pun motifnya, kedatangan coronavirus memberi hikmah untuk waspada, bangun dari kemalasan iqra terhadap kehidupan yang tidak pernah baik-baik saja. Dan, mengingatkan pada satu-satunya kepastian hidup; kematian. Semoga Allah menjaga kita dengan kejernihan akal dan ketetapan hati dalam iman, islam dan ikhsan. Aamiin.

Together we fight the virus.

Wong Tai Sin 6 Maret 2022

Saya lahir dan besar di Blitar, pertama kali menulis pada 2017 biasanya opini dan fiksi ilmiah, fantasy, flash fiction dan puisi.