Manusia tidak cukup waktu memahami segala sesuatu yang ada di dekatnya. Umur manusia terlalu pendek untuk mengetahui segala sebab dan akibat yang terjadi di depannya. Manusia tidak mungkin menemukan pengetahuan dari mana segala sesuatu berasal dan kemudian bermuara. Bahkan untuk memahami yang ada dalam dirinya saja manusia tidak sepenuhnya mampu. Semakin manusia mencari tahu, semakin tahu jika masih banyak hal yang belum dia pahami. Lalu mau apa manusia dalam keadaan begitu itu?

Lalu ada agama, ada Al-Quran sebagai petunjuk agar usia manusia yang sempit itu manusia tahu dari mana dirinya berasal dan kemana dirinya bermuara. Manusia diberitahu siapakah dirinya sejatinya, dan mesti berbuat apa manusia di dunia ini. Lalu apakah manusia tidak boleh berpikir tentang ranting yang kering, mendung yang menjadi hujan, bagaimana air tidak menjadikan banjir? Laut, langit, bumi, pohon-pohon adalah ayat juga jika semuanya memberi petunjuk kepada penciptanya. Sebagaimana Ibrahim menemui bulan, bintang, dan matahari dan akhirnya menemui Tuhannya.

Janganlah keimanan, kepasrahan total menjadi dalih bagi kita yang malas mencari, malas berbuat, menggali, mengulik. Di pencarian kita di segala penjuru pengembaraan baik itu di ilmu pengetahuan, seni kita akan bertemu. Untuk menemukan terkadang kita harus melewati jalan yang pelik dan berliku. Hingga pada akhirnya mentok berhenti dan pasrah. Oh ada yang maha besar.

Ketidaktahuan atau menyadari jika kita tidak tahu bisa menjadi titik awal bagi kita untuk menemukan keimanan, ketaqwaan, dan kepasrahan. Demikianlah ketidaktahuan kita bisa kita dayagunakan untuk mengkarimahkan akhlak kita. Bukan masalah tahu atau tidak tahu, bukan juga masalah pintar dan tidak pintar, yang penting justru input dari keduanya mengarah kemana. Itulah berkah. Ketidaktahuan bukan sepenuhnya negatif, ketidaktahuan dapat kita daya gunakan asal kita menerimanya, kita menikmatinya.

Gambang Syafaat pada edisi September 2020 ini akan mempelajari tentang ‘Mendayagunakan Ketidaktahuan’. Bagaimana caranya?