Dari Uhud dan juga Badar kita bisa belajar bahwa cinta kita selalu saja digoda melalui kepemilikan dunia. Jalan pulang kita kepada Allah selalu dihalangi dengan gemerlap dunia, keimanan kita akan akhirat selalu diuji dengan keinginan kita memeluk dunia.

Badar adalah perang besar pertama setelah Nabi hijrah. Nabi diseru untuk melawan. Ini adalah saatnya melawan. Pada waktu itu Madinah belum kuat benar. Pasukannya juga masih sedikit, namun Nabi dengan keyakinan melawan pasukan yang jumlahnya lebih banyak. Nabi membawa 314/317 pasukan, sedangkan pasukan yang dilawannya adalah seribu pasukan. Strategi dijalankan dengan baik, sumber-sumber air dikuasai oleh pasukan muslim. Kemenangan perang Badar sangat berarti bagi kaum muslim, selain dikuasainya jalur perdagangan juga pamor Madinah semakin naik. Berbeda dengan Uhud. Pada perang Uhud pasukan Islam cukup banyak, namun kenapa kalah? Pada mulanya strategi dilaksanakan dengan baik. Pasukan panah di atas bukit dan membuat pertahanan musuh porak poranda. Nabi memerintahkan agar pasukan panah untuk tidak turun ke bawah.

Perang Uhud adalah perang besar kedua setelah perang Badar. Perang Uhud terjadi pada tujuh Syawal tahun ke-3 setelah hijrah. Dinamakan perang Uhud karena terjadi dibukit Uhud. Paska kekalahannya pada perang Badar, Quraisy menaruh dendam pembalasan. Mereka membangun kekuatan besar untuk menumbangkan Islam. Pada perang Badar, banyak sekali tokoh-tokoh mereka mati. Pada perang Uhud pasukan Islam mengalami kekalahan. Banyak pasukannya yang wafat, bahkan Nabi sempat dikabarkan gugur. Pada perang ini Hamzah bin Abdul Mutthalib gugur. Nabi terluka pada bagian gigi. Sebab dari kekalahan perang inilah yang patut menjadi pelajaran kita.

Pada perang ini pada mulanya pasukan Islam sudah hampir menang. Nabi membawa seribu pasukan, namun sebagian pasukan kembali ke Madinah sehingga tinggal 700 pasukan. Sementara itu pasukan Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sofyan membawa tiga ribu porsenil termasuk 15 perempuan yang diikutsertakan. Nabi menyiapkan pasukan panah yang berada di bukit. Pasukan panah inilah yang menghalau pergerakan kaum Quraisy. Penyebab kekalahannya adalah kelengahan dan mengabaikan perintah Nabi. Nabi menyeru kepada pasukan panah untuk tetap berada di atas bukit baik dalam keadaan menang maupun kalah.

Karena sudah merasa menang dan tergoda dengan harta rampasan maka mereka ikut turun dan mau ikut mengumpulkan harta rampasan. Melihat keadaan itu pasukan musuh kembali lagi dan menyerang dari belakang. Porak poranda lah pasukan muslim. Sebagian pasukan muslim yang dipimpin oleh Abdullah bin Ubay juga kembali lagi ke Madinah. Abdullah bin Ubay memanfaatkan situasi kegentingan itu, karena jika Muhammad dan pasukannya kalah maka dia akan menjadi pemimpin Madinah. Ia adalah orang yang berkedudukan penting di Madinah sebelum Islam masuk.

Sejarah telah mengajarkan, dengan harta dan jabatan cinta kita selalu digoda. Dalam sebuah peperangan Nabi pernah memberi harta rampasan kepada orang-orang yang baru masuk Islam dengan porsi yang lebih banyak. Kemudian sebagian sahabat protes. Dan Nabi berkata, “Kau telah kuberi dan menerima cintaku, apakah itu tidak cukup?” Dan para sahabat menangis dan istigfar. Cinta Nabi jauh lebih berharga dibanding harta benda.

Gambang Syafaat pada edisi 25 November 2019 kali ini mengangkat tema “PASUKAN UHUD”, Sampai ketemu dalam sinau bareng.