Kemarin malam (27 Mei 2019), beberapa penggiat dan jamaah Simpul Maiyah Sub Region 3 (Jepara Demak Salatiga Kendal Semarang Ungaran Kudus—Paradesa Ken Sengkud) berkumpul di Rumah Kegiatan Singosari Sembilan (RKSS), Pleburan, Semarang, untuk membaca (lagi) Doa Tahlukah dan Hizb Nasr.

Acara ini disambut antusias oleh penggiat Maiyah dari luar kota. Bukti antusias mereka bisa dilihat dari jam kedatangan mereka. Hampir tidak ada yang hadir di atas jam 21.00 WIB. Bahkan penggiat dari Sedulur Maiyah Kudus (Semak) sudah tiba di lokasi acara bakda Magrib. Perwakilan dari Simpul Maiyah Kidung Syafaat (Salatiga) memberi kabar berangkat pukul 19.00 WIB dan tiba di RKSS persis bakda tarawih. Disusul rombongan dari Simpul Maiyah Gugur Gunung ( Ungaran), Majlis Alternatif (Jepara), Tembang Pepadhang (Kendal), dan Kalijagan (Demak). Kedatangan mereka membuat lahan parkir motor RKSS yang seluas mobil sedan tampak sempit sekali malam itu. Sehingga beberapa penggiat perlu ”membajak” lahan parkir rumah tetangga untuk parkir motor jamaah. Tidak diduga. Antusias penggiat dan jamaah tinggi sekali. Mereka seolah tidak ingin ketinggalan untuk ikut mensyukuri keistiqamahan Maiyah dan 66 tahun Mbah Nun.

Sebagian jamaah ada yang masih mengenakan seragam kantor. Ada juga yang nyusul ikut acara setelah selesai rapat di kantor. Ada juga yang habis dari tadarus di masjid. Ada juga yang langsung berangkat dari rumah. Seolah alam bawah sadar mereka telah tercatat pada hari ini dia akan bertemu dengan teman-teman jamaah dan penggiat. Sehingga mereka yang baru saja pulang dari kerja; habis dari tadarus di masjid; selesai istirahat di rumah; langsung menuju RKSS untuk ikut serta membaca doa ini.

Setelah mereka semua tiba di RKSS. Penyelenggara acara sadar diri tidak hendak memulai acara tepat waktu. Penyelenggara memberikan kelonggaran bagi jamaah dan penggiat untuk saling ngobrol sejenak, saling bertukar basabasi ringan, dan bercuap-cuap tentang segala hal. Baru setelah dua sampai tiga batang rokok tandas. Penyelenggara menyilakan jamaah naik ke lantai dua, letak Mushola Al-Haromain, tempat pembacaan doa berlangsung.
Tepat pukul 21.30 WIB, acara dimulai. Pada kesempatan kali ini, pembacaan doa dipimpin oleh Gus Aniq. Mas Agus penggiat dari Gugur Gunung yang hadir pada malam ini duduk di sebelah kanan Gus Aniq, juga bareng-bareng dengan jamaah membaca doa.

Alhamdulillah, pembacaan doa kali berjalan lancar. Selebaran foto kopi berisi bacaan doa Tahlukah dan Hizb Nasr sebanyak 20 ekselempar habis diambil jamaah. Dan yang tidak kebagian, dikasih versi pdf-nya. Kalau Anda lihat foto acara, ada beberapa jamaah tampak suntuk dengan layar hapenya. Perlu diketahui, mereka tidak sedang sibuk mantau media sosialnya, tetapi sedang menyimak dengan hikmat lafal-lafal doa.

Di dalam ruangan, suara jamaah menggema. Volume suara itu menunjukkan bahwa jumlah orang yang hadir tidaklah sedikit. Dan itu di luar dugaan penyelenggara. Perkiraan penyelenggara, acara ini bakal diikuti tidak lebih dari 20 orang saja. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Yang datang jumlahnya berkali-kali lipat. Di luar mushola, jamaah juga menyesaki. Tangga-tangga menuju lantai dua mushola juga tidak luput diduduki jamaah untuk membaca doa. Beberapa penggiat Gambang Syafaat yang melihat parkiran motor padat, lalu mengikhlaskan diri menjadi juru keamanan motor jamaah. Spontanitas berbagi tugas terjadi. Seketika saja. Tanpa perintah. Tanpa komando.

Lembar demi lembar fotokopian doa terus terlewati dan tidak terasa sampai di lembar terakhir. Pukul 22.30 WIB pembacaan doa selesai. Sebelum acara ditutup, Mas Agus turut urun pendapat perihal langkah-langkah ke depan simpul-simpul Maiyah di Sub Region 3 dan peran jamaah Maiyah. Mas Agus mengatakan, “Maiyah dirintis Mbah Nun sejak lama untuk mengembalikan persaudaraan tanpa melihat identitas.” Maiyah tidak memberlakukan syarat khusus bagi kita menjalin paseduluran. Semua bisa terjalin dan terikat nilai kekerabatan tanpa perlu menunggu kesamaan anutan madzab, golongan, sikap politik, seragam dan lainnya.

Nilai kekerabatan di Maiyah tanpa kita sadari telah mendidik kita bahwa kita menjadi erat tanpa menunggu dicaci. Jamaah Maiyah bukan kayu-kayu kering yang mudah terbakar, kata Mas Agus. Maka dari itu jamaah Maiyah sangat paham kala segala hujatan yang ditujukan kepada Maiyah dan Mbah Nun mengalir deras di media sosial, jamaah Maiyah tidak tergerak meladeni, apalagi sampai tergerak melaporkan ke polisi atas tuduhan penyebaran fitnah. Jamaah Maiyah tetap menebar kegembiraan. Sebuah kegembiraan yang melibatkan Rasulullah dan Allah. Dan, sosok yang mengajarkan cara bergembira dengan sederhana tanpa meniadakan Rasulullah dan Allah adalah Mbah Nun.

Setelah pembacaan doa ini, para penggit dan jamaah Maiyah saling rasan-rasan dan sejenak mengingat perjalanan keistiqamahan Mbah Nun selama puluhan tahun Maiyahan dan selama ribuan kali tampil dengan KiaiKanjeng menemani jamaah untuk sinau bareng. Lalu, masing-masing di antara kami menyadari bahwa perjalanan dan perjuangan melakukan itu tidaklah enteng. Maka, para penggiat dan jamaah Maiyah sangat malu di usia Mbah Nun yang ke-66 tahun, penggiat dan jamaah Maiyah hanya memberikan ucapan terima kasih dan doa yang tulus untuk kesehatan dan kesemalatan Mbah Nun beserta keluarga besarnya.

Masing-masing di antara penggiat dan jamaah Maiyah berjanji pada diri sendiri untuk melakukan apa yang sering Mbah Nun katakan. Misalnya, menekuni apa yang sudah menjadi minat hidupmu; menjadi manusia yang baik; tidak melukai manusia lain dan mahkhuk Allah lainnya; menjadi manusia yang berdaulat atas akal, pikiran, hidup; dan yang lainnya. Mudah-mudahan dengan melakukan apa yang Mbah Nun katakan, itu bisa menjadi balasan setimpal untuk Mbah Nun. Meski penggiat dan jamaah Maiyah tahu, Mbah Nun tidak pernah meminta atau menagih balasan dari kita. Namun, kita hanya ingin memastikan bahwa apa yang Mbah Nun tanam puluhan tahun lalu itu tidaklah sia-sia .