Kepada saudara-saudaraku yang akhir-akhir ini dilimpahi tenaga sangat banyak oleh Allah Swt. untuk menebar kabar-kabar yang tidak menggembirakan bagi (jamaah) Maiyah. Mohon maaf, kami tidak tahu bagaimana caranya memulai permusuhan dan mencicil cara menjadi musuh Anda. Dari sejak pertama Gambang Syafaat diadakan dan sampai kini terus berlangsung, Mbah Nun selalu berpesan untuk terus menjaga cinta kepada siapa saja, harus bisa menjadi penengah di antara dua pihak yang bertikai, dan harus siap menjadi generasi pohon jati, yang berarti mesti siap tidak mendapatkan apa-apa saat menanam, sebab masa panen itu kita serahkan tugas itu ke anak-cucu kita.

Dari tiga pesan itu, jamaah Maiyah lebih menyibukkan diri menenun cara menjalin kerukunan kepada siapa saja, menebar kegembiraan di mana saja, dan saling berbaik sangka kepada apa saja. Jadi mohon maaf saja lontaran pernyataanmu yang bernada tidak simpatik atas berlangsungnya forum sinau bareng Maiyah dan pendapat Mbah Nun, terasa tidak berguna apa-apa, selain hanya memenuhi amarah kebencianmu melihat pendapat Mbah Nun tidak sejalur dengan keinginanmu.

Di Maiyah, kita belajar dari Mbah Nun untuk tidak menjadi A agar bisa memusuhi B. Maiyah tidak mau berada di lingkaran itu. Maiyah harus berani berada di tengah-tengah itu. Kalau bisa Maiyah bisa berperan membuat A dan B itu akur. Jadi jelas, posisi Maiyah adalah penengah. Dan, apabila di posisi itu Maiyah menyulitkan Anda, mohon maaf saja. Maiyah memang tidak tertarik menjadi sekerumunan yang dikotakan-kotakan. Apalagi yang mengotakan-kotakan itu sekelompok orang untuk mendompleng dukungan dan menyerang kubu lawan.

Kalau Anda belum cukup informasi tentang Maiyah. Atau sekali tahu nama Maiyah atau Emha Ainun Nadjib dari status media sosial yang struktur kalimat dan logika bahasanya amburadul. Mari pada 22 Mei ini datang di depan Aula Masjid Baiturahman, Semarang. Jannatul Maiyah Gambang Syafaat mengajak Anda sinau bareng tentang ”Angon Tresno.” Atau dalam bahasa Indonesia bisa berarti ”memelihara cinta.”

Kalau ingin mencari tahu Maiyah atau Mbah Nun seolah-olah memusuhi orang-orang tertentu. Silakan saja langsung ke media sosial. Di situ segudang berita bernada kontroversial berlimpah stoknya, potongan video berjubel jumlahnya. Anda bisa pilah-pilah sendiri sesuai kebutuahmu sendiri. Namun, kalau Anda ingin tahu apa itu Maiyah dan merasakannya sentuhan langsung. Coba sekali-kali datang ke forum sinau bareng di simpul-simpul Maiyah yang tersebar di pelbagai kota. Di simpul-simpul itu siapa saja yang datang pasti diterima. Sampai saat ini belum ada kabar, simpul Maiyah menolak kedatangan seorang jamaah atau mengusirnya karena perbedaan anutan agama, pilihan politik, dan perbedaan menghayati hidup. Bahkan seseorang yang memiliki gangguan jiwa sekalipun tetap diterima, dijamu selayaknya orang biasa. Ditawari rokok kalau doyan rokok, ditawari kopi kalau mau kopi. Dan tugas menawari itu kadang sudah dijalankan oleh jamaah yang kebeteluan duduk di sampingnya.

Mengapa pemandangan seperti itu lazim di Maiyah? ada banyak alasannya, satu di antaranya, bisa kita sebutkan karena atas dasar cinta. Atas dasar itulah, rasa ingin lebih pinter, lebih unggul, dan lebih benar kita buang jauh-jauh. Sebab, pertemuan dan perkumpual itu untuk merekatkan ikatan cinta sesama manusia, juga kepada Kanjeng Nabi Muhammad dan Allah swt.

Maiyah adalah jamaah ro’in, orang-orang yang benar-benar angon atau menjaga, memelihara dan melestarikan. Sebagaimana Nabi bersabda: Kullukum ro’in wa kullu mas`ulun ‘an ro’yyatih (Masing-masing kalian adalah tukang angon (pemimpin dalam terjemahan yang sudah ada), dan kalian akan diminta pertanggungjawaban atas ingonan (yang dipimpin)). Termasuk inklusif memimpin diri sendiri. Memimpin diri sendiri harus didasari dengan angon tresna.

Sunan Kalijaga dalam tembang yang beliau gubah pernah berujar: cah angon.. cah anggon… penekno blimbing kuwi. Lunyu-lunyu penekno. Kita tidak sedang mendaku sebagai ”cah angon” yang disebut Sunan Kalijaga dalam tembangnya. Namun, kita berusaha menjadi apa yang Sunan Kalijaga tembangkan. Mbah Nun sering menjabarkan arti tembang yang digubah Sunan Kalijaga ini. Maknanya sangat dalam. Sebagaimana yang pernah beliau tulis dalam tulisan berjudul Kita Ini Penggembala atau Gembalaan.

Di antara penggembala atau gembalaan, dua posisi itu sama-sama penting. Sebab konteksnya di sini adalah angon tresno atau penggembala cinta. Di posisi itu yang angon atau yang dingoni sama-sama tidak saling merugikan. Ia hanya angon tresno atau yang diongoni tresno. Dan tresno di sini sudah sangat jelas jalurnya, yakni tiada lain marang Allah-Muhammad-Hamba. Hanya kepada tiga titik cinta itu, cinta setinggi langit ini, kami berikan.