Salam

Rubrik lincak di gambangsyafaat.com terbit lagi. Kali ini untuk menyambut usia Gambang Syafaat yang ke-19 tahun. Peristiwa 19 tahun itu bukan untuk gagah-gagahan, bukan pula untuk bangga-baggaan, tetapi peristiwa ini untuk disyukuri. Salah satu bentuk syukur itu adalah menengok ke belakang, memaknai setiap kejadian, kembali meluruskan niat. Kiranya rubrik lincak edisi khusus “Menuju 19 tahun Gambang Syafaat” ini dimaksudkan mewadai itu.

Tulisan di rubrik ini muncul setiap hari pukul 12.00 WIB di web dengan alamat www.gambangsyafaat.com. Edisi khusus lincak ini telah terbit sejak tanggal 26 November 2018 dan akan berakhir pada tanggal 25 Desember 2018.

Edisi awal rubrik ini menampilkan tulisan dengan judul “Tidak usah menunggu Satrio Paningit” membicarakan sikap bermaiyah yang tidak menggantungkan penyelesaian masalah kepada pihak lain, berupaya sendiri sebisa kita. Tulisan kedua memaknai, gambang syafaat ini sebagai hadiah atau sebagai amanah dari Cak Nun untuk anak-anak maiyah di Semarang dan Sekitarnya? Kemudian ada hasil wawancara dengan penggiat, Cak Nug. Ia bercerita tentang persentuhannya pertama kali dengan Gambang Syafaat. Ada puisi dari Batam, ada juga pengibaratan bahwa Gambang Syafaat sebagaimana rumah tak berpintu.
Semua pemikiran, motodologi itu adalah hasil dari pergulatan bermaiyah.

Rubrik ini memuat tulisan dari penggiat, jamaah, atau siapa saja yang bersentuhan dengan Gambang Syafaat. Rubrik ini mempersilakan kepada jamaah Maiyah dimanapun berada untuk mengirimkan tulisannya. Karena dimaksudkan sebagai cermin maka rubrik ini memungkinkan menampilkan tulisan atau tulisan hasil wawancara dari pelaku penggiat Gambang Syafaat pada generasi awal atau jamaah yang hadir pada saat Gambang Syafaat dirintis. Ini dilakukan bukan untuk nostalgia tetapi sebagaimana yang telah disampaikan di awal bahwa ini sebagai wujud rasa syukur.

Tulisan bisa dikirim ke redaksi@gambangsyafaat.com

Redaksi