Mbah Nun pada Gambang Syafaat (25/5) di masjid Baiturrahman meminta acara dilanjutkan sementara beliau akan pamit duluan. Pak Eko Tunas mengawali paparannya tentang perjalannya Mbah Nun dan beliau saat masih hidup bersama-sama. Hidup itu adalah urut-urutan koma. Pak Eko menceritakan, dulu Cak Nun pernah membawakan musikalisasi puisi bareng Ebiet G. Ade. Pernah terjadi ketika baru tampil semua penonton pergi. Kemudian Pak Eko melanjutkan, jangan melihat Cak Nun yang sekarang, tapi belajarlah kepada beliau dari cerita beliau dahulu, gunakan rasa dalam menghadapi hidup ini. Apapun dalam hidup yang kita alami percayalah ada Allah di dalam hati kita. Siapa yang berani jika Allah selalu di dalam hati kita. Allah yang menyuruh kita untuk menjadi abdi, maka kita harus serius dan sungguh-sungguh menjadi abdi. Insya Allah pasti Allah yang menuntun dan memfasilitasi apapun kepada kita. Segala sesuatu yang tumbuh harus ada tunas baru yang tumbuh.

Mbah Nun merespon pak Eko, prinsip ruang tumbuh ada dua dua pilihan yaitu menjadi manusia ruang atau menjadi manusia perabot. Kalau kita menjadi manusia ruang akan selalu cemas untuk mencari dan mendapatkan ruang, namun kalau kita menjadi manusia ruang, maka akan menciptakan ruang bagi siapapun saja. Kita menjadi ruang satu sama lain, saya menjadi ruang bagi anda, anda menjadi ruang bagi saya. Sekitar waktu menunjukan pukul 00:30 WIB, Mbah Nun izin untuk pamitan kepada semua yang hadir pada malam itu dengan diiringi lagu nomor kedua oleh Wakijo lan sedulur yang berjudul “Keseimbangan”.

Selanjutnya Pak Ilyas merespon apa yang disampaikan oleh Mbah Nun tentang manusia sepertiga kebaikan, sepertiga kebenaran dan sepertiga keindahan. Beliau menceritakan pengalaman hidupnya sendiri saat menjadi dosen, kalau beliau lebih baik menjadi manusia ruang dari manusia sepertiga tadi dan berusaha tidak menjadi manusia perabot. Kita di Maiyah tidak akan mempertandingkan kebenaran dan kesalahan, karena ketika kita mempertandingkan keduannya tadi yang akan terjadi adalah pertengkaran. Pak Ilyas mengutarakan tentang puasa dengan kekuasaan. Pada prinsipnya apabila salah seseorang mencalonkan diri jadi dosen, pasti akan mempertimbangkan manfaat dan mudorotnya dulu kedudukan tersebut apabila paham akan prinsip berpuasa. Lalu puasa dengan makan pun juga harus mampu menahklukan apa yang kita senangi dan apa yang tidak kita senangi. Dan puasa dengan pernikahan, orang yang paham prinsip puasa, apabila disediakan beribu-ribu wanita, ia akan tetap setia dengan pasangannya.

Microphone kemudian diserahkan kepada kang Ali, dan kang Ali langsung menyerahkannya ke pak Saratri untuk mengelaborasi paparan pak Ilyas. Pak Saratri merespon bahwa orang yang mengerti tentang puasa bahwa kita dianjurkan 11 bulan untuk mencari puasa-puasa dalam bentuk yang lainnya. Bentuk puasa itu bermacam-macam, tergantung orang mengevaluasinya. Banyak orang yang menganggap bahwa puasa itu sebagai bentuk genjatan sejata, tidak boleh berkata kotor, fitnah dan perbanyaklah sodaqoh. Seakan akan setelah puasa kita akan merdeka lagi, padahal arti sebenarnya puasa adalah 11 bulan setelah menjalani puasa Ramadhan, kita lebih baik dari sebelumnya apa tidak. Kemudian Pak Saratri mengartikan istilah shiyam dan shaum. Shiyam itu bagaimana mendirikan nilai-nilai puasa itu di dalam kehidupan keseharian untuk tidak melampiaskan yang menjadi hak kita. Puasa bagaimana hidup kita itu tidak ditentukan oleh selera, tetapi terhadap kebutuhan yang riil dan puncak puasa adalah taqwa.

Dan yang di sesi terakhir diteruskan oleh Gus Aniq. Gus Aniq menyampaikan tentang tadabbur surat Al Ashri. Jika kita memeras dan mendapatkan sari-sarinya makan kita akan beruntung, tapi apabila hanya mendapatkan ampasnya maka akan rugi. Bagaimana kita memeras suatu apapun untuk mempersembakan yang baik. Manusia itu berbeda dengan mahkluk yang lain, karena manusia itu diberi berupa akal dan pikiran, sedangkan mahkluk lainnya hanya diberi otak. Maka yang harus kita syukuri sebagai manusia adalah karena kita diberi akal dan hati. Akal itu untuk memaknai apapun yang diberikan oleh Allah, karena hanya manusia yang diberi asma-asma Allah. Maka manusia itu harus mampu memaknai apapun yang terkandung di seluruh alam semesta ini yang diciptakan Allah.

Allah mengatakan “Innallaha la yughayyiru ma bi qoumin, hatta yughayyiru ma bi anfusihim”. Seolah-olah Allah tidak akan berperan mengubah selama manusia itu mengubah nasibnya sendiri. Yang benar maknanya yaitu Allah tidak akan merubah nikmat ataupun rahmat yang sudah disediakan kepada mahkluk, sehingga mahkluk itu sendiri yang mengubah. Sudah sediakan laut, hutan dan lain-lainnya malah dirusak sendiri. Gus Aniq menambahkan manusia itu harus mengayomi, karena manusia itu tergantung pada manusia yang lainnya. Tugas manusia di muka bumi selain beribadah juga menyebarkan kebaikan kepada manusia yang lainnya dan kepada alam, karena hanya kebaikan yang akan mengantar kita pada kesejatian hidup.

Hari pun sudah berganti para jamaah Maiyah juga masih bertahan dan serius mendengarkan yang disampaikan oleh Gus Aniq. Suasanapun menjadi penuh sorak dan tawa saat cak Nugroho tampil membawakan tiga buah puisi karyanya sendiri cukup membuat suasana menjadi tawa riang gembira meski puisi ora blas puisi. Dan di akhir acara Majelis Masyarakat Maiyah Gambang Syafaat dipungkasi dengan shalawat bersama-sama diiringi oleh Wakijo lan sedulur hingga berdiri melantunkan Sohibu Baiti bersama-sama. Dan para jamaah Maiyah pun tidak mau kembali begitu saja, namun mereka bersama-sama membersihkan sisa-sisa sampah yang berada di pelataran komplek Masjid Baiturrahman.

BERBAGI
Galih Indra Pratama
Aktivitas sehari-hari bekerja di Pratama Audio di Jepara. Jannatul Maiyah Gambang Syafaat dan berbagai tempat.