1998, 20 tahun silam adalah tahun gaduh. Reformasi menggebrak negeri. Gelombang unjuk rasa berkecamuk di mana-mana. Aksi penjarahan, pembakaran, kriminalitas meraja lela. Udara panas. Cuaca tegang. Situasi-kondisi seram mencekam.

Para aktivis dan “tokoh pejuang” Reformasi tak henti-hentinya berdemo. Mahasiswa menduduki gedung DPR-MPR RI. Menyatroni dan menggeruduk Istana Negara. Long march di jalan. Menyerukan dan menyuarakan satu misi agung. Mendesak Soeharto mundur. Melengserkan ia dari tahta kursi kepresidenan yang telah didudukinya selama kurun 32 tahun.

Tanggal 21 Mei 1998, menjadi momentum maha penting bagi sejarah perjalanan NKRI. Soeharto dengan legowo mengumumkan pengunduran dirinya sebagai presiden Republik Indonesia. Ia mantap memilih mengakhiri karier panjang kekuasaannya.

Aneh. Sudah berkuasa selama seperempat abad lebih. Menjadi ‘Bapak Pembangunan’ Indonesia (cek. Uang 50rb era 90an) tapi mau dan berkenan lengser keprabon. Pertanyaannya, siapa orang atau dalang atau oknum yang berhasil ngujuk-ujuki (merayu) beliau agar rela menanggalkan pangkat kekuasaannya? Dengan cara, trik, metode, ramuan atau jurus apa yang sukses nyirep, meluluhkan hati bandel Soeharto sehingga beliau sedia bilang oke tak mundur wae.

Adalah pria Jombang kelahiran 27 Mei 1953, yang menjadi “tersangkanya”. Emha Ainun Nadjib—yang selanjutnya disebut Cak Nun adalah salah satu aktor di balik layar prosesi pelengseran Soeharto dari kursi presiden. Cak Nun beserta Cak Nur dan beberapa kolega, menggagas, menginisiasi, menyusun naskah khusnul khotimah untuk diserahkan kepada Soeharto untuk dibacakan saat hari pengumuman pengunduran dirinya 21 Mei 1998, pukul 09.00 pagi, di Istana negara Jakarta. Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya di hadapan rakyatnya. Yang paling emosional dan fenomenal adalah ketika Soeharto menutup pidato terakhirnya tersebut seraya mengucapkan ; Ora dadi presiden, ora pathekén. Dan tahukah itu ulah siapa? Itu adalah hasil ‘kursus kilat’ yang dilakukan Cak Nun untuk nggedheké hatinya Soeharto.

**
Terhadap peristiwa historis di atas, saya coba menggali makna dari sudut pandang berbeda. Menukil sisi lain peristiwa yang mungkin luput dari pandangan kita. Yang tidak banyak orang jeli memperhatikannya. Begini, Soeharto presiden ke-2 RI lahir pada tanggal 8 Juni 1921, di desa Kemusuk, Bantul, Yogyakarta. Periode 1998, Soeharto tepat berusia 77 tahun. Usia yang tak lagi muda. Senja dan renta. Sedangkan Cak Nun pada waktu yang bersamaan baru berusia 45 tahun. Angka 45 didapat dari 1998 dikurangi 1953. Cak Nun sendiri lahir pada tanggal 27 Mei 1953.

Yang menarik adalah, bagaimana mungkin seorang ‘cah cilik’ yang baru berusia 45 tahun bisa nyelonong masuk ke Istana. Lalu dengan jeniusnya membujuk dan merayu seorang ‘raja’ yang kala itu berumur lebih sepuh darinya. Ibarat anak (45th) menasihati bapak (77th). Atau bahkan cucu mewejangi simbah kakungnya. Pemuda itu sangat berani, prigel, dan pinter njupuk atine wong tuo, sampai akhirnya orang tua yang berkuasa itu rela meminta tolong kepadanya agar diarahkan, dibimbing, dan dituntun turun dari tahta. Ini jelas bukan mengada-ada. Bukan isapan jempol belaka. Bukan fiktif. Bukan saduran atau karangan. Bukan sandiwara skenario manusia. Melainkan murni kreasi Tuhan yang memperjalankan-Nya.

Menariknya lagi, ada kode rahasia kebesaran Tuhan di balik peristiwa pelik tersebut. Terdapat kecocokan angka di sana. 77 usia Soeharto dikurangi 45 usia Cak Nun, hasilnya 32. Persis sekali dengan durasi Soeharto menjadi penguasa Republik ini. Seolah, Tuhan memang mentakdirkan bahwa yang bisa mengiring bukan menggiring, merangkul bukan memukul seorang penguasa otoriter bernama Soeharto (77th) adalah pria berusia 45 tahun. Dan Cak Nun yang terpilih. Yang terbukti mampu menjalankan titah Tuhan tersebut dengan baik dan santun. Dengan tulus, halus, dan kedewasaan cinta, Cak Nun mampu ngemong Soeharto untuk legowo mundur.

Daya ngemong Cak Nun tidak muncul begitu saja. Namun hal itu lahir dan tumbuh berkat wasilah Ibunda Chalimah dan keluarga. Cak Nun kecil sangat kerap diajak beliau untuk keliling kampung, mengetuk satu demi satu pintu rumah penduduk. Menanyakan dan memastikan apakah mereka hari ini sudah makan. Apakah mereka punya bahan makanan di rumah untuk dimasak. Apakah anak-anak mereka bisa sekolah, punya pakaian layak, dsb. Jika di antara mereka ada yang kurang dan membutuhkan, seketika itu juga Ibunda Chalimah mengulurkan bantuan. Kearifan budi dan tingginya empati yang ditunjukkan sang Ibunda, membentuk cikal bakal karakter Cak Nun menjadi sosok yang humanis dan protagonis.

**
Fakta bicara. Tidak hanya orang besar macam Soeharto yang berhasil dijinakkan hatinya oleh Cak Nun. Sang maestro sastra WS Rendra pun turut dibimbing Cak Nun selama hari-hari akhir kehidupannya. Selama sakit di pembaringan Rendra selalu menyebut “Ya Lathif, Ya Lathif”, wahai Yang Maha Lembut. Rendra pun tak henti-hentinya merapal Surah Al Ikhlas ; “Qul huwal-Lahu Ahad, Allahus-Shamad lam yaliid walam yulaad wa lamyakullahu hufuwan Ahad”. Dalam kondisi setengah sadar itulah, Cak Nun dengan setia menemani kakak sekaligus sahabatnya itu, sembari membisiki Mas Willy agar menambahkan lafal, Qul Huwal-Lahu Wahid…”

Apa bedanya Ahad dengan Wahid, tanya Rendra. Cak Nun menjawab “Ahad itu Allah yang Tunggal, Yang Satu, Yang Esa, Yang gagah Maha perkasa. Wahid itu Allah yang Manunggal, yang Menyatu, yang integral, yang merendahkan diri-Nya, mendekat ke hamba-Nya. Puncak tauhid tertinggi adalah Nyawiji. Manunggaling Kawula lan Gusti.

Penyair WS Rendra lahir di Solo tanggal 7 November 1935. Wafat pada 6 Agustus 2009 di RS Mitra Keluarga Depok, Jawa Barat, pada usia 74 tahun. Sedangkan Cak Nun kala itu menginjak usia 56 tahun. Mereka berdua terpaut usia 18 tahun. Dan Cak Nun lagi-lagi menunjukkan daya ngemongnya. Menjadi penasihat bagi sahabat. Sekaligus menjelma ‘guru privat’ teruntuk sang kakak tercinta. Si Burung Merak berbulu indah (Rendra) itu didampingi, dituntun, dibimbing untuk menuju jalan khusnul khotimah menemu Tuhan-Nya. Qul Huwal-Lahu Wahid terus dilirihkan Rendra. Hingga akhirnya ia menyatu, nyawiji, memanunggal kaliyan Gusti pada hari Kamis malam Jumat (6/8/2009) pukul 22.10 WIB.

**
Teman-teman sekalian. Sepanjang hidup saya atau juga Anda, mungkin sekali pun tidak pernah bertatap muka dengan Soeharto sang Jendral mesem tersebut. Tidak pernah bersua langsung dengan Mas Willy. Namun agaknya kita tidak perlu berkecil hati. Kita juga tidak menjadi rugi. Kenapa? Karena kita justru diberi kesempatan emas oleh Tuhan. Diizinkan untuk bertemu, berjumpa, bertatap muka, bercanda, berdiskusi, dan belajar langsung dengan penasihat ulung mantan presiden Republik Indonesia (Soeharto). Dapat pula sinau kepada sahabat sekaligus ‘guru privat’ sastrawan besar Indonesia yakni WS Rendra. Apakah itu hebat? Tidak. Dahsyat? Tepat!

Maka, kita generasi Maiyah bersyukurlah. Ulaaa`ika ‘alaa hudam mir robbihim wa ulaaa`ika humul-muflihuun. Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. – (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 5). Mungkin saja orang-orang beruntung yang dimaksud oleh Allah pada ayat di atas ialah sebagian dari kita generasi Maiyah. Semoga saja.

Kita generasi Maiyah adalah kaum yang beruntung. Beruntung karena kita kini masih dipertemukan dengan Cak Nun. Cak yang sudah berubah menjadi Mbah. Mbah Nun adalah manusia otentik pelaku sekaligus pencatat sejarah. Satu-satunya yang istikamah, setia pada niat dan tekad. Niat untuk ndondomi robeknya sistem tatanan birokrasi di Indonesia. Dan tekad untuk njlumati berbagai kerusakan yang menimpa negeri.

Mbah Nun menjelma manusia multidimensi—multitalenta. Bisa sebagai guru, orang tua, simbah, ayah, dan konco bagi siapa saja. Kepadanya kita dapat belajar pusparagam ilmu dan pengetahuan. Belajar ilmu hidup dunia-akhirat. Belajar menjadi hamba, manusia, rakyat, sekaligus pemimpin. Belajar menjadi penulis, penyair, penyanyi, penceramah, penasihat, dll.

Satu lagi, mulai saat ini kita mesti sinau meneladani jiwa dan daya ngemong yang telah dicontohkan oleh Simbah. Di Republik ini semakin hari semakin krisis manusia-manusia yang berjiwa dan berdaya ngemong. Semua orang sibuk bersaing dan bertanding. Saling sikut, saling jegal, saling menjatuhkan. Semua kemaruk untuk menjadi yang lebih unggul dari siapa pun. Sayangnya, keunggulan tersebut bersifat duniawi, semu, fana, fatamorgana.

Mau tidak mau, suka tidak suka, regenerasi Maiyah pasti terjadi. Para sesepuh Marja’ Maiyah perlahan akan sampai ke titik purna. Dan selanjutnya akan tiba giliran generasi Maiyah muda yang akan meneruskan menanam, memupuk, menabur benih-benih kebaikan ke seluruh penjuru alam.

Tidak ada pilihan lain bagi kita selain nyicil mempersiapkan diri. Mengolah, menempa, membentuk jiwa kita agar berdaya ngemong. Ngemong itu meliputi mengasuh, merawat, membimbing, menuntun, menjaga, mewanti-wanti, dan mengayomi. Mengemong siapa? Ya semuanya. Mulai dari ngemong diri sendiri, ego, hawa nafsu, perilaku, ngemong antara keinginan dan kebutuhan. Ngemong tugas dan kewajiban sebagai manusia dan hamba. Ngemong antara kepentingan dunia-akherat. Dan tentu saja ngemong keluarga, anak-putu, sanak-saudara, jamaah, Maiyah, komunitas, masyarakat, dan syukur-syukur bisa ngemong se-Indonesia raya.

Gemolong, 20 Juli 2018
Muhammadona Setiawan

BERBAGI
Muhammadona Setiawan
Jannatul Maiyah Mocopat Syafaat Yogyakarta. Aktif menjadi penggiat Maiyah di Gemolong, Sragen, Jawa Tengah.