Pada hakekatnya, Tuhan menciptakan bumi untuk tumbuh bagi makhluk-makhluknya. Makhluk yang bukan hanya manusia tentunya. Setiap makhluk memiliki logika tumbuhnya masing-masing. Tapi manusia melogika bahwa dunia ini hanya diperuntukkan bagi dirinya sendiri. Sehingga bumi sebagai ruang tumbuh itu tidak terjadi. Bumi terasa sempit karena orang-orang di dalamnya saling menghimpit.

Pertarungan itu tidak hanya antara manusia dengan alam yang seringkali secara congkak disebut penakhlukkan. Makhluk lain selain manusia di bumi ini diobjekkan menjadi materi yang harus dikuasai, dimiliki, direngkuh. Dalam upaya penguasaan itu manusia sebenarnya terjebak penghambaan terhadap materi. Ia hanya menjadi materi itu. Padahal dalam diri manusia ada nur, ada pancaran yang akan kembali ke Sang Penciptanya. Dunia adalah singgahan, adalah tahap, adalah lintasan ke langkah selanjutnya.

Manusia penghamba materi menghabiskan seluruh hidupnya untuk memikirkan materi. Hingga waktu habis tanpa mengetahui ternyata hidup tidak sekedar itu. Penguasaan materi nya menghimpit saudaranya untuk sekedar tumbuh dan mengada. Mereka terhimpit ruang-ruang hidupnya meskipun pada waktu bersamaan malah tumbuh ruang batinnya.

Teramat banyak alasan untuk saling menghimpit itu, penguasaan materi berselubung agama, nasionalisme, ideologi, partai politik, warna kulit. Dada kita sesak oleh asap bom. Mata kita terhalangi oleh pekat debu. Pandangan kita terbentur oleh kaca dan tembok. Kita butuh ruang tumbuh.

Ruang tumbuh dan mengada bisa kita ciptakan dengan cara berbagi, bertukar unggun untuk menghangatkan, berbagi lincak untuk menghela nafas, seteguk air melepas dahaga, komunikasi harus dicairkan.

Kesempitan tumbuh baik hati dan pikiran membuat manusia berhenti, tersumbat dan meledak. Bukan ledakan berkah tetapi ledakan musibah. Kita butuh ruang tumbuh. Terus menggelar tikar untuk membuka ruang tumbuh. Kita luaskan ruang tumbuh ini, untuk meminimalisir sumbatan yang bisa berakibat struk.

Jika seseorang telah menggenggam kebenaran masing-masing maka kemungkinan akan saling mengunci gerak langkah. Komunikasi adalah mencari kemungkinan-kemungkinan untuk tumbuh. Tangguh, bersabar menciptakan ruang tumbuh.

Gambang Syafaat pada edisi 25 Mei 2018 ini akan belajar tentang “RUANG TUMBUH”.

BERBAGI
Redaksi Gambang Syafaat
Forum Silaturahmi Masyarakat Maiyah Semarang.