blank

Keramaian dan kebisingan Simpang Lima, jantung Kota Semarang tidak menyurutkan semangat Maiyah Gambang Syafaat untuk melingkar, duduk bersila, wirid, dan bersholawat.

Keramaian Simpang Lima bagaikan cinta tak memiliki rindu, sedangkan kebisingannya laksana nyanyian rindu yang tak didengar oleh cintanya. Di tengah-tengah keramaian dan kebisingan itu Maiyah Gambang Syafaat berusaha memberikan dan menawarkan keseimbangan. Di tengah keramaian Maiyah Gambang Syafaat menjadi rindu agar cinta bertemu harmoninya. Di tengah kebisingan Maiyah Gambang Syafaat menjelma cinta agar nyanyian rindu menjadi simphoni yang indah.

Keramaian dan kebisingan Simpang Lima jantung kota Semarang bukanlah penghalang bagi Maiyah Gambang Syafaat untuk melingkar duduk bersila dan menjalani sunyi. Keramaian Simpang Lima semacam pelarian dari sepi yang menghantui dan kebisingannya adalah pemberontakan yang buta terhadap kegaduhan yang terjadi selama ini.

Hadir di tengah keramaian dan kebisingan tersebut Maiyah Gambang Syafaat berusaha memperlihatkan bahwa sepi bukanlah hantu yang menggelisahkan. Sepi menunjukan dan mengenalkan banyak ruang. Sesungguhnya tidak memiliki sepi itulah yang mengalami kesepian. Sementara kegaduhan-kegaduhan yang terjadi selama ini adalah merupakan tegur dan sapa Tuhan kepada hambaNya, para kekasih-kekasihNya.

Maiyah Gambang Syafaat memberi dan menawarkan keseimbangan di tengah kegaduhan-kegaduhan tersebut untuk tidak menjadi masalah juga tidak menambah masalah. Pemberontakan yang buta hanyalah akan menciptakan masalah yang baru sekaligus menambah pelaku masalah.

Keramaian dan kebisingan Simpang Lima, jantung kota Semarang tidak mematahkan semangat Maiyah Gambang Syafaat untuk melingkar, duduk bersila, diskusi, dan sinau bareng.

Saling menghargai dan menghormati, saling mengasihi dan menyintai, tidak berdebat, tidak mencari siapa yang benar, membuang jauh kepentingan sendiri, dan kepentingan pragmatis yang ada dan berlangsung hanyalah kepentingan bersama, berbuat benar, baik, dan indah.

Keramaian Simpang Lima penuh dan sesak oleh egoisme, merasa benar, dan baik. Bahkan berkuasa dan kebisingannya berjejal-jejal kepentingan sendiri, kepentingan seenak udelnya, kepentingan sak enake dewe. Atau istilahnya USDEK; urusane dewek-dewek.

Keramaian dan kebisingan Simpang Lima, jantung kota Semarang tidak mengurangi ketenangan dan kenyamanan Maiyah Gambang Syafaat untuk melingkar, duduk bersila, dan bertapa. Berusaha menabung kerelaan dan bersedekah kegembiraan agar keseimbangan hidup terus berlangsung dan terjaga.

Keramaian dan kebisingan Simpang Lima, jantung kota Semarang. 19 tahun sudah ngancani Maiyah Gambang Syafaat. Semoga menjadi jarak yang menghubungkan rindu kepada cinta. Selalu harmoni, semoga menjadi jarak tangga nada do re mi fa sol la si, agar tercipta simphoni nyanyian rindu hingga cinta tak bosan mendengarnya. Semoga menjadi jarak pendukung terjalinnya paseduluran tanpa tepi.

Selamat untuk Maiyah Gambang Syafaat yang ke-19 tahun. Keseimbangan terus dibina dan dijaga. Semoga keramaian dan kebisingan Simpang Lima menemukan kemerdekaannya.