Saya akan cerita dua hal. Yang pertama cerita ini saya peroleh dari seorang wiraswasta, dia mengatakan begini, “Saya bukan aktivis gerakan anti riba, tapi saya katakan ke Anda, hindarilah Bank”. Batin saya, kenapa harus menyandingkan riba dan Bank dan kemudian seolah-olah menyematkan riba pada bank. Kawan saya itu cerita panjang lebar, bagaimana dia mulai usaha, kemudian semakin maju, lalu berkenalan dengan bank, dan akhirnya bercerai dengan bank.

Saya manggut-manggut mendengarkan, benar kata kawan saya itu, kalau anda ke bank, anda akan disambut sangat ramah sejak pertama oleh satpam, lalu diberi senyuman oleh customer servis dan seterusnya. Jadi siapa yang tidak kesengsem dengan bank, apalagi bagi wirasawasta yang sedang melakukan ekspansi usahanya dan membutuhkan suntikan modal. 

Dan saat anda sudah menjadi teman bank, sangat susah untuk putus. Kata kawan saya, tawaran agar tetap menjalin hubungan dengan bank selalu diberikan jika ada niatan putus. Gampangnya begini, dulu kita tidak kenal sama bank, lalu kita terpesona dengan bank, sampai kemudian kita tidak bisa hidup tanpa bank. Kemelekatan kita dengan bank begitu akut sehingga menjadi asshomad dalam gerak ekonomi kita.

Cerita yang kedua adalah perihal handphone, saya adalah generasi “kudu nyekel handphone”. Saat handphone masih barang mewah, waktu itu beli nomornya saja 250.000, entah dikisaran tahun 2000-an. Saya sesumbar tidak akan tergantung dengan handphone, tapi ucapan saya meleset. Sejak ada yang namanya grup Whatapps, sebagian aktivitas wajib saya mau tak mau harus dilakukan lewat handphone. Jalur komunikasi dan intruksi pekerjaan saya sebagian lewat handphone, sebagian sumber penghasilan dilakukan dengan handphone, maka apa jadinya jika saya tidak pegang handphone. Maka jika handphone saya tertinggal di kantor atau di rumah, tidak akan lama saya pasti balik. Jika suatu saat handphone saya rewel, saya ketok pintu kawan saya yang punya bengkel servis handphone untuk segera membuat aman handphone saya. Yah, saya sangat tergantung dengan handphone, “handphone asshomad” -handphone salah satu ketergantungan saya-.

Kawan saya, dengan penuh perjuangan dan keyakinan mampu menjadikan bank sebagai pelengkap, bukan hal yang wajib, ono ora ono ne bank rak popo bagi kawan saya itu. Saya tidak akan berdebat perihal apakah bank riba atau tidak, tetapi saya ingin melakukan tadabbur atas kalimat asshomad, tempat bergantung. Saya orang yang gagal, gagal tidak tergantung pada handphone, handphone menjadi semacam tuhan dengan t kecil, sebab ada kadar kemelekatan, ketergantungan yang begitu besar. Mungkin kegagalan saya, bukan kegagalan pribadi, kecenderungan sosial yang menempatkan teknologi  dalam hal ini handphone menjadi sesuatu yang mesti ada, membuat saya tidak bisa berkutik jika tidak membawa handphone.

“Zamane saiki manunggaling kawulo handphone” begitu ejek kawan saya yang bisa hidup dengan dan tanpa handphone. Ono ora onone handphone, rak masalah!

Saya tiba-tiba ingin melafalkan surat Al-Ikhlas: qul huwa llohu ahad, allohu shomad, lam yalid walam yulad walam yakun lahu kufuan ahad. Ya Tuhan, lindungilah aku dari tuhan tuhan dengan t kecil, hindarilah aku dari ketergantung-ketergantungan yang akut, jagalah kemelekatanku, hanya kepada-Mu. Ya Allah, berilah kekuatan untuk bisa menjalani hidup ono ora onone sesuatu, ora popo, ora pateken. Mudah dilafalkan, begitu butuh perjuangan yang besar.