Pesisir utara Jawa, sebuah daerah penting dalam babad pergerakan Jawa. Selain menjadi titik awal berbagai proses distribusi ketika arus besar masih dikuasai laut, di era 4.0 nyatanya Semarang masih bertahan dalam berbagai peralihan zaman. Zaman yang menggeser kita ‘memunggungi laut’ seperti yang pernah dipidatokan Hilmar Farid dalam sebuah Lecture Kebudayaan.

Kemudian hari ini peringatan Harbolnas 12.12 ini bisa kita lihat grafik akumulasi kapital untuk konsumerisme yang terus meningkat selama beberapa tahun, jika dimaknai mendalam ada semacam aliran deras ‘memunggungi daratan’ karena segala proses transaksi ekonomi, distribusi ilmu melalui les online dan e-book kini sudah merambah pada transaksi cashless. Untuk selanjutnya kita akan dan sedang memasuki era baru dimana arus besar bukan lagi Laut, sungai, jalanan namun pada jagad maya yang disokong penuh oleh teknologi yang kita kenal dengan nama Internet.

Penumpukkan kapital dan banjir besar yang menyeret manusia akhirnya tak lepas dari derasnya iming-iming iklan lewat berbagai media yang berbanding lurus dengan semakin murahnya akses informasi. Selanjutnya saking santernya input media akhirnya membawa pada sebuah peristiwa di mana banjir informasi telah mampu memuntahkan dan membikin mual manusia saking overload-nya informasi. Seni untuk bersikap masa bodoh-nya Mark Manson sudah memulai kampanye globalnya pada dunia supaya kita tidak terlalu disibukkan oleh beragam berita, lalu di maiyah kita pelajari presisi ruang efektivitas kita pada liyan, karena kita tahu otak manusia akan sangat terbatas memproses data. Kelambatan prosesing otak manusia yang sudah mual ini akan dijawab revolusi industri 4.0 dengan alogaritmanya untuk memecahkan berbagai masalah dalam integrasi serius bernama Big Data.

Sebenarnya saya juga mau nulis soal disrupsi, post-modern, atau geliat-geliat perkembangan perubahan zaman namun ternyata pemikiran saya sedikit banyak sudah ditulis oleh Mas Prayogi dan dimuat di caknun.com sedulur-sedulur bisa akses sendiri bagaimana presisi maiyah sebagai bentuk baru. Sebuah Imagined Village dari sebuah tatanan sosial masyarakat dan juga gerakan keagamaan.

Karena itu mari kita kembali ke masa lalu, bagaimana informasi juga pernah diacak-acak supaya kita jadi bias dalam membedakan mana kebenaran dan mana yang palsu.

Setelah Geger Pecinan yang hebat itu daerah pesisir utara Jawa akhirnya diserahkan sepenuhnya kepada VOC tahun 1674, empat tahun setelah itu dimulailah eksploitasi Utara Jawa Tengah. Namun apakah didiamkan? Ternyata sejarah Belanda mencatat ada perlawanan.

Tahun 1763 Kyai Abdul Kadir dari Kaliwungu melakukan perlawanan, di Batang Haji Rifai juga melakukan perlawanan ideologis lewat ceramah-ceramah yang menentang penjajahan. Meski pada akhirnya akibat koalisi antara bupati-bupati dengan Kapitalisme Global bernama VOC Kyai Abdul Kadir ditangkap dan dipenggal kepalanya, Haji Rifai diasingkan ke Ambon. Mimpi untuk menguasai Pelabuhan Kota Semarang sekilas selesai karena perjuangannya selesai, namun cerita kepahlawan dan mengurai semangatnya harus kita semai bahwa harus tidak tinggal diam dalam menghadapi kondisi zaman.

Dari sini saya anggap Gambang Syafaat adalah oase di tengah panasnya Kota Semarang, yang tentu punya permasalahan sama karena penguasaan kapital juga masih berlangsung sampai sekarang, dan apakah pemerintah juga ikut terlibat saya kira teman-teman bisa mengurai untuk dijadikan bahan diskusi selanjutnya. Sebagai oase saya sangat mendoakan semoga Gambang Syafaat terus menjadi forum untuk mengasah kewarasan di tengah penat dan sesaknya hutan belantara kota. Dan para jamaah maiyah adalah Kyai Abdul Kadir dan Haji Rifai dalam format yang baru, dalam medan dan presisi kemampuan untuk memecahkan masalah dan minimal tidak menambah masalah.

Cerita berlanjut ketika setelah itu tradisi literasi berkembang dan muncullah serat-serat versi penguasa untuk menghancurkan sikap kepahlawan Kyai Abdul Kadir di balik sebagai seorang pemberontak. Dis-informasi sudah terjadi di sini, akhirnya sejarah yang dicatat adalah versi pemenang dalam hal ini VOC. Namun satu abad selanjutnya adalah Serat Cebolek yang menuliskan cerita Kepahlawanan Haji Rifai. Dan menyimpannya sebagai bahan cerita untuk menaikkan sentimen anti-penjajahan di kalangan orang lokal.

Dua abad kemudian, zaman sekarang, bukan hanya cerita-cerita besar yang banyak disimpangsiurkan, bahkan sebuah peristiwa atau berita di media nasional hanya dikotak-kotaknya sebagai pembela atau penolak bergantung urgensi kepentingannya. Dalam beberapa tahun menjamurnya dokumentasi maiyahan di youtube maupun di facebook tak jarang menimbulkan carut-marut informasi, yang mau tidak mau jamaah maiyah harus waspada, tetap waras dan tidak mudah terpengaruh oleh budaya sop buntut tersebut.

19 tahun usia saya lulus SMA, nganggur dan terkatung-katung menjalani hidup sekaligus tetap waras agar mampu mengatasi keadaan. Demikian pula saya berdoa semoga Gambang Syafaat kuat dan mampu menghadapi din-informasi, terus menumbuhkan nilai-nilai kebaikan dan kepahlawanan, mencintai sesama, merangkul semesta, serta terus waspada.

Pelukku dan cintaku untukmu, Bambang Ekalaya Maiyah.

Tetap menjadi tua, tetap menjadi jingga yang menarik ketika matahari tenggelam di utara kotamu.

Perdikan Sukowati, 12-12-2018