Pada tanggal 25 Desember kali ini tentunya merupakan momentum yang spesial bagi masyarakat atau JM yang berada di wilayah Semarang dan sekitarnya. Di samping acara rutinan Majelis Masyarakat Maiyah Gambang Syafaat sendiri, forum Gambang Syafaat juga sedang menginjak umurnya yang sudah ke 18 tahun. Bukankah di umur yang ke 18 tahun sudah sepantasnya kita merayakannya, apalagi tema yang diunggah kali ini “Sedekah Untuk Indonesia”. Tentu temanya sangat bermakna sekali di miladnya forum Gambang Syafaat kali ini.

Cuaca hari itu memang panas terik matahari sangat menyengat, sungguh terasa menyengat kulit, karena sebelumnya cuaca selalu di berkahi oleh turunnya hujan, tapi pada tanggal 25 Desember 2017 kemarin malah sebaliknya, yang terjadi cuaca semakin sore semakin mendukung untuk dilaksanakannya rutinan di Majelis Masyarakat Maiyah Gambang Syafaat. Para penggiat atau JM pun datang satu per satu setelah ba’da Ashar, terlihat penggiat dari Kenduri Cinta juga sudah berada di lokasi akan dilangsungkan forum Gambang Syafaat malam itu.

Setelah ba’da Ashar penggiatpun datang bergantian, ada yang lagi memasang tratak, ada yang memasang banner yang bertuliskan 18 tahun Gambang Syafaat, ada yang mempersiapkan sound system, ada yang menggelar karpet, ada juga yang menyapu dan membersihkan halaman yang akan di pakai berlangsungnya 18 Tahun Gambang Syafaat malam itu. Silih berganti para penggiat terus melakukan apa yang sudah seharusnya dilakukan, tidak ada perintah atau paksaan untuk melakukan apapun, mereka datang juga untuk guyup rukun dan bekerja sama untuk nyengkuyung Forum Gambang Syafaat.

Suara adzan Maghrib pun berkumandang, para penggiat juga bergantian untuk melaksanakan kewajiban sebagai orang muslim menunaikan ibadah sholat Maghrib, di sisi lain juga terlihat ada yang menyiapkan stand outlet forum Gambang Syafaat, seperti kaos, peci, buku-buku karya Mbah Nun, ada juga kaset compact disknya Mbah Nun dan Kiai Kanjeng. Mereka semua berkumpul setiap tanggal 25 dan berhimpun dalam dialetika cintanya kepada Allah Ta’ala maupun Rasulallah Saw atau sering disebut segitiga cinta.

Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 19:00 Wib, Adzan Isya’ pun berkumandang di sekitaran kawasan Masjid Baiturrahman Simpang Lima Semarang. Suasana check sound pun berhenti sejenak, terlihat Mas Wakijo lan sedulur sudah memegang alat musik mereka masing-masing meletakan alat musik mereka dahulu. Tampak di depan panggung para JM juga ikut menggelar karpet sampai di bawah tratak agar acara segera di mulai. Pukul 20:00 Wib, Om Mujiono, Gus Aniq dan Kang Nasir hadir di atas panggung, Om Jion meminta salah satu atau dua orang untuk ikut naik di atas panggung dan acara 18 Tahun Gambang Syafaat pun dimulai.

Gus Aniq memulai dengan membaca Surat Al-Fatehah kemudian dilanjut nderes Ayat Alquran Surat Al-Kahfi. Para JM pun juga khusyuk turut membaca dengan membuka bacaan Surat Al-Kahfi lewat handphone mereka masing-masing sampai selesai. Peristiwa yang berbeda lagi yaitu setelah pembacaan Surat Al-Kahfi baru beberapa ayat, kita semua melakukan sujud secara bersamaan agar supaya kita diampuni atas segala kesalahan kita kepada Allah, kemudian dilanjut dzikir munajat, sholawat dan kemudian Om Jion meminta para JM yang hadir untuk berdiri bersama-sama melantunkan sholawat Indal Qiyam untuk junjungan Nabi Muhammad dan Rasulallah Saw untuk mendapatkan syafaat-Nya.

Terlihat juga Gus Ali Fathkan dan Gus Muhajir meminta para penggiat dari berbagai tempat untuk duduk bersama di atas panggung untuk menyampaikan sepatah dua patah kata untuk membersamai di 18 Tahun Gambang Syafaat malam itu. Ternyata turut hadir mas Sigit dari Kenduri Cinta Jakarta, Mas Joko penggiat dari Suluk Pesisiran Pekalongan, Lukman penggiat dari Semak (Sedulur Maiyah Kudus) dan dan Mas Joko penggiat Maiyah Kalijagan Demak, mereka semua menceritakan pengalamannya masing-masing selama mengikuti Maiyah dan juga saat hadir di Forum Gambang Syafaat pada malam itu.

Malam itu juga hadir Rebana Nurul Asatidz dari Upgris dan Wakijo lan Sedulur ikut membawakan lagu mereka masing-masing untuk dipersembahkan kepada seluruh yang hadir. Wakijo dan sedulur tidak juga lupa, selalu membawakan lagu yang berjudul “Gambang Tresno” di setiap hadir di Forum Gambang Syafaat. Sampai tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 23:00 Wib, para narasumber dipersilahkan hadir di atas panggung.

Narasumber yang hadir pada malam itu sungguh berbeda dari pada Forum Gambang Syafaat sebelumnya, karena malam itu kita di hadiri Pakde Musthofa dari Lampung, disusul Habib Anis, Pakde Herman dari Suluk Surakartan, Pak Saratri Wilonoyudo, dan Pak Ilyas. Di mulai oleh Pakde Musthofa dengan pemotongan tumpeng lalu diberikan salah satu perwakilan pengiat Gambang Syafaat dan dibekali doa oleh Pakde Musthofa kemudian Pakde Musthofa meminta satu tembang Tombo Ati dengan diiringi musik oleh Rebana Nurul Asatidz dari Upgris dan para JM yang hadirpun juga bersama-sama menyanyikan lagu Tombo Ati.

Tidak lupa Pak Ilyas juga menceritakan perjalanan Forum Gambang Syafaat sendiri dari tahun 1999, beliau menggambarkan kisah Bambang Palgunadi, Bambang Palgunadi adalah orang yang kuat dan dapat mengalahkan Arjuno, lalu di sambung oleh Pak Saratri juga menceritakan pengalamannya waktu pertama kenal Mbah Nun, dulu Pak Saratri juga sama seperti kita duduk beralaskan plastik sampai sekarang beliau tetap menyatu di dalam cintanya kepada JM dan semuanya yang selalu hadir di forum Gambang Syafaat berlangsung.

Sedikit peristiwa yang juga tentunya harus kita pelajari yaitu ketika Pakde Herman yang membawakan tembang Jawa Dandhanggulo, beliau membuat tembang tersebut secara mendadak dan khusus dipersembahkan di 18 Tahun Gambang Syafaat pada malam itu. Kita sebagai anak muda juga diminta oleh Pakde Herman, agar kembali belajar untuk bisa nembang karena saat ini sudah langka anak muda bisa nembang Jawa. Lalu disambung Habib Anis juga ikut memaparkan, beliau berpesan kalau hidup ini semua berputar, semua ini akan kembali kepada Sang Maha Pencipta, kita memang saat ini ada di depan Anda, suatu kalian juga akan menggantikan kami. Maiyah memang tidak bisa memperbaiki keadaan, namun Maiyah minimal tidak ikut menambah rusaknya keadaan, Maiyah juga bisa ditiru dan diaplikasikan di berbagai tempat.

Di samping khusyuknya para JM yang hadir, mereka semua juga dihibur oleh Mas Nugroho, membawakan empat puisi karya beliau dan puisi tersebut juga menambah suasana menjadi haru.

Menjelang kurang lebih pukul 02:00 WIB, acara ditutup dengan doa oleh Pakde Musthofa, kemudian dilanjut para JM bersalaman satu per satu dengan narasumber yang hadir pada malam itu. (Galih Indra Pratama)